
Sebelum bertemu Reinara Pelangi terlebih dahulu mencukur rambut dan bulu bulu halus lainnya yang tumbuh diwajah Daffin.
Meski bukan seoorang pro namun hasil cukuran Pelangi terlihat lebih bagus dari pada rambut gondrong yang setahun ini setia menemani Daffin.
Kini mereka duduk saling berhadapan dan berpegangan tangan pada sisi ranjang besi yang dulunya menjadi tempat tidur bunda Siti dan sekarang ditempati Daffin selama tinggal di pantai.
Pelangi menatap lekat wajah sang suami yang kelihatan lebih tirus, sorot matanya juga lebih dalam, Hah....Pelangi menghela nafas.
"Kenapa? Apa aku sudah tidak setampan dulu?" Tanya Daffin serius, ia sadar wajahnya memang tidak sesegar dulu, tulang pipi yang jelas membuat Daffin terlihat lebih tua. Sementara Pelangi jangan ditanya lagi, satu tahun menepi wanita satu anak itu terlihat semakin mempesona, entah perawatan apa yang dilakukan Pelangi yang jelas semua yang ada pada dirinya mampu membangkitkan hasrat daffin yang sudah lama terlelap, namun ia masih malu mengatakannya, ia tidak akan merusak suasana bahagia ini hanya demi menuntaskan hasratnya.
Pelangi menggigit bibir bawahnya lalu mengecup pipi Daffin cukup lama hingga membuat suaminya itu mengepalkan tangannya, seakan berusaha menahan gejolaknya.
"Tuan sangat Tampan, Ayah Reinara memang yang paling tampan" Puji Pelangi.
"Pelangi......"
"Heemmm"
"Bolehkah....."
__ADS_1
Pelangi mengangguk Malu, tak bisa dipungkiri iapun sangat merindukan sentuhan sang suami.
Derit ranjang Tua menjadi saksi penyatuan sepasang suami istri yang sudah sangat lama tidak melakukan kegiatan inti*nya itu.
Daffin mengecup pucuk Kepala Pelangi setelah melakukannya sebanyak dua kali pelepasan, mereka masih berbaring dan saling berpelukan dengan tubuh polos dibawah selimut yang tidak terlalu tebal.
Wajah Pelangi seketika memerah Saat Daffin memandanginya sambil tersenyum penuh arti.
"Kenapa memandangiku seperti itu Tuan?"
"Aku mencintaimu Pelangi" Lagi lagi Daffin mengecup Pucuk kepala Pelangi dan memeluknya erat, " untuk itu jangan memanggilku Tuan lagi, aku masih mengingat janjimu"
Pelangi pernah berjanji akan merubah panggilannya ketika Putri mereka lahir.
"Apa sayang...."
Pelangi tersenyum simpul lalu menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.
"Aku takut ini mimpi Pelangi" Bisa kembali memandang wajah cantik Istrinya membuat Daffin merasa kenyataan ini terlalu indah.
__ADS_1
Pelangi kembali memunculkan wajah merah meronanya dan menatap Sendu sang suami yang menyorotnya penuh damba.
"Mas....."Pelangi membelai pipi Daffin, "Ini bukan mimpi coba pegang ini, Pelangi membawa tangan Daffin kedalam selimut dan menyentuh sesuatu yang basah di pdrmukaan kasur yang masih terasa lengket.
"Nyata....." Ujar Daffin dengan senyum jahilnya, "Ternyata setahun menghilang kau jadi nakal ya" Daffin mencubit hidung Pelangi.
"Ih Jorok......" Protes Pelangi seraya mengusap hidungnya, karena tangan yang Dafgin gunakan adalah tangan yang sama untuk mengusap permukaan kasur tadi.
"Aku akan memberi pelajaran pada Melvin, bisa bisanya ia menipuku selama ini," Daffin sudah memdengar semua perjalanan Pelangi selama ini.
"Bukan Salah Kak Melvin, ia juga bingung mencari keberadaanku" Bela Pelangi.
Daffin Mendesah pasrah.
"Aku harus bersiap menghadapi Amarah Ayah mertuaku"
"Jangan.....ceritakan Apapun, ayahku tidak tahu apa apa. Berjanji padaku jangan mengungkitnya lagi, saat memutuskan mencintai Suamiku sendiri aku sudah berdamai dengan kejadian malam itu, itu hanya masa lalu dan yang kita miliki sekarang hanyalah masa depan bersama Reinara"
Daffin mengangguk penuh Haru, matanya berkaca kaca mengamati Ketulusan hati yang dimiliki Istrinya, ia bisa membayangkan bagaimana terlukanya Pelangi saat harus menikahi dirinya.
__ADS_1
Tapi semua itu hanya masa lalu, betul yang dikatakan Pelangi kini mereka harus fokus menjalani masa depan.
"Kalau begitu ayo bertemu Reinara putri kita" Ajak Daffin.