
Melvin menyentak tangan Daffin yang hendak mengikuti tubuh Pelangi yang kini sudah dibaringkan diatas tandu Ambulance yang beroda, CEO Jaxton itu bahkan tidak menyadari jika saat ini ia hanya mengenakan sepasang piyama tidur.
"Kau tetap disini!" Tukas Melvin.
"Aku akan ikut, pelangi istriku" balas Daffin dengan wajah memerah menahan amarah.
"Istri cih..." Melvin tersenyum miring dan sinis " Kau ingin seluruh negeri tau Daffin Jaxton menyiksa istrinya sendiri? Kau ingin orang orang tahu jika Pelangi istrimu? Dan membuat gadis malang itu menjadi sasaran amukan Paula Ibumu! "
Daffin menelan saliva, Ia tak masalah jika orang orang mengetahui pelangi adalah istrinya, ia juga akan memastikan Paula bahkan tidak akan bisa menyentuh seujung kukupun tubuh Pelangi, Tapi membuat orang tahu jika ia sudah menyakitu Pelangi tentu akan berdampak buruk bagi Jaxton Hotel, Saham Jaxton akan dipertaruhkan.
Akhirny Daffin hanya dapat menahan kekesalannya menyaksikan Melvin yang bertindak layaknya suami Pelangi. Mengikuti tubuh wanitanya yang dibawa oleh para petugas Ambulance.
Sementara Bi Ijiah hanya menatap nanar penuh kesedihan hingga Melvin dan para petugas hilang di balik pintu Lift.
"Kerumah sakit xxx" Titah Melvin memberi instruksi agar Ambulance tersebut membawa Pelangi kerumah sakit swasta termegah dikota Metropolitan itu, Ia Baru saja menelpon Ayu dan menyuruh Dokter wanita itu menunggu mereka di IGD.
Melvin tahu selama ini Pelangi rutin memeriksakan kesehatannya dirumah sakit tersebut atas rekomendasi Ayu.
Di dalam Ambulance, Melvin yang duduk di samping tubuh Pelangi tak pernah melepaskan Tangan Istri sepupunya itu, Ia nampak terpukul dengan kondisi wanita itu, Rasa lelahnya setelah menempuh perjalanan dari thailand setelah sebelumnya mengurus beberapa pekerjaan yang dilimpahkan Daffin padanya disana, sirna sudah.
Kini hanya keselamatan Pelangi yang menari nari dikepalanya. dan tanpa sadar ia mengecup lebam membiru yang terdapat pada pelipis Pelangi.
"Istrinya pak?" Tanya salah satu petugas Ambulance, yang dijawab dengan anggukan kepala Melvin.
Tiba Di IGD Ayu dan beberapa staf medis lainnya sudah memati didepan pintu dengan sebuab brankar, dengan cepat Pelangi langsung mendapatkan pertolongan pertama.
Ayu mengambil alih Pelangi dari dokter umum yang berjaga Di IGD karena beralasan Pelangi adalah pasiennya yang mengalami kelainan katup Jantung, Sementara Melvin mengurus semua bagian Administrasi.
Sekembalinya dari bagian Administrasi, Melvin langsung menghambur masuk kedalam ruangan kaca yang khusus yang terdapat dalam IGD.
"Kak Melvin?" Alis Ayu bertaut, melihat Kedatangan Melvin dan gantian memandangi tubuh lemah Pelangi, dimana seorang perawat sudah bersiap untuk menyingkap gaun tidur pelangi, tentunya bagian bawah sudah di tutupi selimut.
__ADS_1
"Tunggu!!" Cegah Ayu kepada perawat tersebut, "Kak Melvin sebaiknya keluar dulu" Ayu kini menatap Lekat Melvin, tatapan seorang Dokter yang harus melindungi pasiennya.
"Kenapa?"
"Saya akan memeriksanya dengan EKG, dan tubuh bagian atasnya akan terbuka" Jelas Ayu widiantari, Dokter wanita yang baru saja menyelesaikan spesialis bedah jantungnya Di Korea. Meski sampai saat ini ia belum pernah memimpin operasi dan cukup dengan menjadi Asisten saja.
Mendengar hal itu tentu Melvin paham, ia bukan pria bejat seperti Daffin yang akan memanfaatkan Pelangi, meski sah sah saja jika Daffin meminta haknya. Namun mengingat hal tersebut kembali membuat Melvin sangat geram.
"Kenapa disuruh keluar Dok?Bukannya pria itu suaminya ya?" Tanya sang Perawat pada Dokter Ayu.
"Ish....."Ayu mendelik tajam" Dia kakak Iparnya, dan Kakak Iparnya itu adalah Calon suamiku " Ayu mengulum senyuman sambil menempelkan beberapa bulatan pipih di dada Pelangi yang terhubung dengan sebuah mesin berlayar disampingnya.
"Benarkah Dok?"
"Hemm..."
"Oh...." sang perawat menggaruk kepalanya, padahal biasanya ia tidak salah menebak hanya dari sorot mata, Jelas jelas Melvin melihat Pelangi dengan penuh Cinta dan Damba.
Kini Pelangi sudah dipindahkan di ruang perawatan, tentu Melvin menyediakan fasilitas nomor satu dengan menggunakan black card Jaxton Hotel yang dipegangnya.
Ayu baru saja keluar dan menjelaskan apa yang sebenarnya yang terjadi dengan pelangi, Wanita itu mengalami stress dan kelelahan, Ayu juga menjelaskan lebam membiru akibat benturan adalah efek dari obat pengencer darah yang wajib dikonsumsi Pelangi, dan Melvin sudah tahu itu.
Kondisi jantung Pelangi memang sangat menghawatirkan, tapi Ayu meyakinkan Melvin agar Pria itu tidak khawatir karena Jantung Pelangi masih berfungsi normal.
"Kak Daffin tidak datang? Atau aku harus menghubungi tante Paula?"
"Tidak!!" Tukas Melvin, ia lalu mempersilahkan Ayu untuk keluar jika semua sudah selesai.
Ayu hanya bisa menggigit bibir bawahnya melihat tatapan tidak suka Melvin saat ia menyinggung nama Keluarga Jaxton, namun ia masih berfikir realistis, mungkin Pelangi menderita seperti ini akibat Daffin jadi wajar jika Melvin melarang Daffin untuk datang.
Melvin duduk disebuah sofa sambil memandangi Pelangi yang terbaring di ranjang pesakitan, tangannya melipat didepan dada hingga akhirnya ia terlelap dengan posisi duduk.
__ADS_1
Dua jam lamanya Pelangi dan Melvin tertidur diruangan hang sama sampai mereka tidak menyadari kedatangan Daffin, tentu bukan hal yang sulit bagi Daffin mencari informasi mengenai tempat istrinya dirawat, meski Melvin sedari tadi menolak untuk mengangkat panggilannya.
Daffin hanya menatap sinis Melvin yang tengah tidur dengan kepala menyender di sandaran sofa itu, ia akan memberikan ketegasan pada pria itu nanti, sekarang tujuan utamanha adalah menyapa pelangi yang masih terlelap karena pengaruh obat Tidur.
Daffin duduk dikursi samping ranjang sambil mengusap punggung tangan wanita yang mulai mengerjapkan matanya itu.
Samar samar Pelangi dapat mengenali wajah yang nampak sangat khawatir itu, lalu kembali menggerakkan sedikit kepalanya dan menatap langit langit ruangan yang ia tempati kini.
'Rumah Sakit' tebaknya dalam hati, meski masih samar namun Pelangi bisa langsung mengenali atmosfernya, karena ia terlalu sering berada ditempat serupa.
Saat Di UGD Pelangi sempat sadar dan melihat Melvin yang berjalan mondar mandir di sekitarnya namun ia terlalu lemah untuk sekedar menggerakkan jarinya dan kembali pingsan.
Lalu dimana pria itu ?
Mengapa Daffin yang disini?
"Pelangi kau sudah sadar? Aku panggilkan Dokter" Ujar Daffin , saat ia hendak menekan sebuah tombol tiba tiba ia disentak cukup kuat dari belakang.
"Apa yang kau lakukan disini setelah semua yang terjadi pada Pelangi?" Melvin berujar datar namu terkesan tegas.
Daffin yang sedang merapikan lengan bajunya hanya menyeringai " Kita bicara diluar" balasnya.
Tak lama kemudian Ayu dan dua orang perawat datang karena menerima sensor panggilan dari ruangan Pelangi.
"Aku Pergi dulu sebentar" Daffin menunduk dan membenamkan sebuah ciuman di dahi pelangi, dan hanya dibalas dengan sebuah pejaman mata.
Sementara Melvin hanya bisa menahan nafasnya yang seakan tercekat ditenggorokan, melihat perlakuan Daffin kepada Wanita yang tak bisa hilang dari dalam relung hatinya.
Pelangi sangat ingin mengucapkan Maaf dan Terima kasih kepada Melvin namun ia enggan menatap pria itu, hubungan Melvin dan Daffin benar benar tidak boleh bemasalah hanya karena dirinya seorang.
Bahkan Ayu yang melihat raut wajah dua orang pria yang pernah menyandang sebagai kakak kelasnya tidak bisa mengelak jika mereka memang seperti berada dalam lingkaran cinta segi tiga.
__ADS_1
"Kak Melvin...." Lirih Ayu menatap punggung Melvin yang sudah hilang dibalik pintu.