
"Tu-an" Pelangi kaget bukan main, begitu membuka mata wajah yang pertama ia lihat adalah Daffin dengan hembusan nafas berbau mint mendarat sempurna permukaan wajahnya.
Ia fikir kejadian Daffin dan Melvin, serta kedatangan suaminya itu hanya mimpi belaka, lalu panggilan sayang itu juga nyata??
"Pelangi kau terlihat sangat pucat" Daffin menatap iba dan mengelus pipi Pelangi, ia meraih kepala istrinya untuk ditidurkan diatas lengannya. Merengkuh tubuh Pelangi dan membuat wajah istrinya itu berada dalam dekapan dada bidangnya yang polos.
"Pelangi sakit Tuan" Pelangi masih tersenyum, ia sangat jarang mengeluh, hidup tanpa orang tua mengajarkan Pelangi dengan kemandirian luar biasa, meski Satria dan Bunda Siti sangat menyayanginya namun tidak membuat Pelangi manja dan mengeluh pada dua orang itu, Pelangi sadar bukan hanya dirinya seorang anak panti yang butuh kasih sayang.
Tapi entah Mengapa hari ini Pelangi ingin mengeluh meski hanya sekali dan akan ia lakukan hanya dihadapan sang suami.
Daffin semakin mengeratkan tubuh Pelangi yang terasa dingin itu, sebelah tangannya meraih remote dan mematikan AC lalu membuka beberapa ventilasi secara otomatis demi sirkulasi udara yang baik.
"Daffin Jaxton....seseorang yang tidak mungkin kugapai" batin Pelangi ia mendongak dan mengusap wajah Daffin yang mulai ditumbuhi bulu halus, padahal pria itu biasanya sangat rajin bercukur. Pelangi semakin merasa bersalah, cinta yang ia berikan sepertinya menjadi Beban bagi Daffin.
Daffin menyipitkan matanya, "Apa yang kau fikirkan hemm? Kenapa tidak tidur " Daffin meraih tangan Pelangi yang terluka lalu mengecupnya.
__ADS_1
"Tuan...Apa kau baru pulang dari Thailand? Kau juga memiliki hotel disana?" Pelangi ingin memastikan apakah yang dikatakan Cleo benar adanya. Jika wanita itu baru saja pulang dari Thailand.
"Heem ada pesta kerajaan yang harus ku hadiri. Aku pulang kemarin tapi ada yang harus aku lakukan sebelum sampai kesini, Bukan hanya di Thailand Pelangi, Hotel Jaxton ada di seluruh negara Asean"
"Ah....begitu" kini Pelangi tahu, Daffin dan Cleo benar benar berada dinegara yang sama beberapa hari ini, hanya saja menyinggung hal tersebut akan kembali memancing emosi Daffin.
Karena Daffin membencinya, ia tak ingin menghianati pernikahan mereka tapi juga membutuhkan sosok wanita sebagai pemdamping di acara resmi, bagaimanapun Daffin adalah seorang CEO, dan Pelangi tak bisa melakukan hal tersebut sebagai seorang istri.
"Aku senang kau bertanya, kau terlihat seperti seorang istri yang posesif kini" Daffin mengecup pucuk kepala Pelangi dengan senyum yang mengembang.
"Heemm" Pelangi semakin merapatkan wajahnya ditubuh Daffin dan menangis disana, batinya tak henti henti nya berujar kata maaf karena harus ditakdirkan menjadi istri Daffin dengan segala kekurangannya.
"Kau yakin?"
"Iya tuan" jawab Jhon mantap.
__ADS_1
"Tapi kenapa atas namaku?" Daffin menatap bingung dengan sebuah sertifikat dan akta jual beli yang berserakan diatas mejanya. Itu adalah surat surat panti asuhan Pelangi yang sudah dibalik nama kepemilikannya atas nama Daffin Jaxton.
"Tapi siapa?"
"Maaf kalau untuk itu saya tidak tahu tuan, Departemen keuangan tidak punya akses atas rekening tersebut, tapi aset berupa surat surat ini justru disimpan dengan aset milik Hotel lainnya" Lanjut Jhon lagi, tak lama kemudian Melvin masuk, karena Daffin baru saja memghubunginya.
Itulah Daffin dan Melvin mereka tetap profesional dalam hal pekerjaan.
"Apa ini yang kau maksud?" Tanya Melvin yang langsung duduk dihadapan Daffin diantarai sebuah meja kerja, sementara Jhon berdiri diantara keduanya. Sebagian garis besarnya memang sudah dijelaskan Daffin melalui sambungan telepon tadi.
Melvin membuka setiap lembar berkas itu sambil mengerutkan alis dengan bingung.
"Bagaimana bisa?" Melvin manatap Daffin. namun dari manik mata sepupunya itu ia juga tak bisa menemukan jawaban.
"Selidiki lagi !" titah Daffin.
__ADS_1