
"Bi Ijah melaporkan hal ini ke Kak Melvin lagi? " Tebak Pelangi saat ia baru saja keluar dari kamar mandi, ia baru saja mengolesi punggung tangannya yang sedikit melepuh dengan Pasta gigi.
Saat di panti dulu Bunda siti mengajarkan anak anak untuk menggunakan pasta gigi setiap terkena cipratan air panas atau panci panas.karena tidak akan meninggalkan bekas.
"Bibi harus melakukannya nyonya, kalau tidak Tuan Melvin akan marah" Bi Ijah menaruh kembali Ponsel kedalam saku dasternya.
"Lagi pula kenapa Nyonya harus repot repot memasak ? Kan ada pelayan tinggal bilang saja, lagi pula kita tidak tahu apakan Tuan Daffin akan pulang lagi atau tidak, toh tadi dia disini hanya beberapa Jam saja setelah itu dia pergi lagi " Bi Ijah berujar dengan kesal, hampir semua Pelayan tahu peristiwa menggemparkan 3 bulan yang lalu dimana Paula menampar Pelangi karena tuduhan Perselingkuhan, begitupun dengan Daffin yang tiba tiba menjauh. Namun Bi Ijah tak percaya wanita lembut dan baik hati seperti Pelangi sanggup melakukan tindakan tercela itu, jika itu Daffin mereka pasti langsung percaya.
"Pelangi hanya ingin memasak untuknya bi, terakhir kali Pelangi memasak untuk Tuan Daffin saat masih Diapartemen, pelangi takut tidak punya kesempatan lagi selain hari ini"
"Apa Nyonya takut Tuan Daffin akan pergi dari sisi nyonya?" Wanita bertubuh gempal itu menatap nanar sang majikan, air wajahnya tetiba berubah sendu.
Pelangi menggelang pelan, "Tidak ada yang tahu kedepannya Bi, jika bukan Tuan Daffin yang meninggalkan Pelangi, mungkin aku yang akan pergi meninggalkannya" ucap Pelangi,ia memang tak tahi sampai kapan tuhan masih memberinya usia.
"Tidak ada yang akan pergi!"Tukas Daffin yang baru saja masuk, ia berhasil memukul mundur Melvin agar tidak datang kerumahnya hanya untuk melihat istrinya.
'Aku meminta sebagai sepupumu, jangan datang kali ini' pintanya tegas.
Melvin bukan takut pada Daffin, ia pun bukan pria egois yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Pelangi. Namun perasaannya mengatakan jika Pelangi memang butuh waktu berdua dengan sang suami.
"Tuan" Bi Ijah dan Pelangi mengucap bersamaan.
Sadar kehadirannya tidak diharapkan Bi Ijah pamit undur diri namun Daffin mencekal lengan wanita itu sebelum keluar. "Kita perlu bicara"
"Baik Tuan" angguk wanita paruh baya itu dengan hati yang berselimut ketakutan, baru kali ini Bi Ijah melihat sorot mata Daffin yang penuh amarah kepadanya.
.
__ADS_1
"Daffin menghampiri Pelangi yang tengah duduk di sisi ranjang king size, ia tersenyum hangat saat melihat Daffin ternyata kembali pulang kerumah. Namun entah mengapa senyum merekah Pelangi justru membuat hati Daffin berdenyut nyeri.
"Ini kenapa?" Daffin meraih punggung tangan Pelangi, ia hanya pura pura bertanya padahal Melvin sudah memberitahunya tadi.
'Pelangi terkena panci panas' Ucap Melvin pada Daffin saat ia h endak meninggalkan ruangan asistennya itu.
Daffin hanya tersenyum miris, bahkan akibat panci panas pun Bi Ijah melaporkan kepada Melvin, dan ia bagi suami bodoh yang mengira selama 3 bulan ini istrinya baik baik saja dengan semua pelayanan dan materi yang ia siapkan.
"Ini terkena panci panas tuan, tapi sudah Pelangi olesi pasta gigi agar tidak berbekas" Lagi lagi Pelangi tersenyum, sebuah senyuman yang seakan mampu meluruhkan tubuh Daffin untuk bersimpuh dihadapanya.
Dengan tungkai yang melemah Daffin masih sanggup membawa Pelangi masuk kedalam kamar mandi, ia menggenggam erat tangan Pelangi dan mengguyur punggung tangan istrinya diatas wastafel.
Kembali kekamar, Daffin mendudukkan pelangi di ujung tempat tidur, ia yang nampak bingung dengan sikap suaminya, tak lama kemudian Daffin datang dengan sebuah kotak p3k.
"Jangan gunakan Pasta gigi, aku sudah Siapkan salep mahal untuk luka semacam ini" Daffin mulai membuka kotak p3k dan memgambil salep, dengan lembut ia mengusap punggung tangan Pelangi yang memerah.
Pelangi bisa melihat sorot mata Daffin yang tengah menunduk, merah seakan menahan amarah, ada embun disana yang dipenuhi gejolak emosi yang tertahan.
BRaakkkk.....
Seketika kotak P3k terhempas dengan isi yang berhamburan. Siapa lagi pelakinya kalai bukan Daffin.
Pelangi hanya menelan Salivanya dengan susah payah, sudah lama ia tidak melihat mode iblis Daffin.
Daffin masih tertunduk, dengan dada naik turun berupaya mengatur nafas yang saling memburu.
"Bukankah seharusnya kau menamparku sekarang? Tampar aku Pelangi....tidak....kau harus membunuhku!" Daffin memegang kedua bahu Pelangi yang menatapnya bingung.
__ADS_1
"Tuan ada apa sebenarnya?"
"Kau sakit dan menyembunyikannya dariku? Kau pernah memintaku agar aku selalu berbuat kasar kepadamu!Kau membiarkanku menyakiti tubuhmu? Bahkan sampai dirawat dirumah sakit. Aku tahu aku ini seorang bedebah brengsek Pelangi, lalu mengapa kau ingin aku selamanya menjadi seperti itu?"
Pelangi melerai cengkraman Tangan Daffin di kedua bahunya, tangan ringkihnya terulur untuk mengusap peluh yang mengalir dari pelipis suaminya.
Sorot mata Daffin sektika melemah, ia bisa melihat wajah teduh dihadapannya yang seakan tanpa beban, padahal wanita itu menanggung penyakit yang amat mematikan, tetiba ia teringat perkataan Dokter Emy jika Pelangi kemungkinan bisa mati selama masa kehamilan.
"Maafkan aku Pelangi" Daffin mengecup kedua tangan Pelangi,air matanya luruh namun segara dusapnya.
Memalukan, ia tak mungkin membiarkan Pelangi melihatnya menangis.
"Pelangi memaafkan semuanya....Semua yang pernah Tuan lakukan, tuan tidak punya salah apapun pada Pelangi, kini Pelangi yang harus minta maaf, Maafkan Pelangi Tuan"Gantian Pelangi yang mengecup punggung tangan Daffin, Hati pria itu terenyuh, ini kali kedua Pelangi mencium punggung tangannya setelah ijab qobul.
Inikah yang dinamakan keluarga?.
cukup lama mereka saling memandang sebelum akhirnya Daffin mulai mengecup rringan bibir istrinya hingga akhirnya berakhir menjadi tautan yang sangat menuntut,air mata keduanya tak berhenti berderai melampiaskan kerinduan yang selama 3 bulan ini tertahan.
Daffin melepaskan tautannya setelah melihat Pelangi terengah engah.
"Tuan"
"Pelangi"
"Kalau begitu gugurkan kandunganmu, aku tidak membutuhkannya, asal kau mau tinggal disisiku selamanya tanpa pengikat, karena sebenarnya yang kubutuhkan hanya dirimu" ucap Daffin pelan, ia sebenarnya tidak rela mengucapkan hal itu, akan tetapi jika harus memilih tentu ia akan memilih Pelangi, bukan lagi karena hanya wanita itu yang bisa ia sentuh, nyatanya sekarang ia sudah pulih seutuhnya. Akan tetapi Daffin tak bisa membayangkan harus kehilangan Pelangi selamanya. Entah ini cinta atau apa Daffin tak peduli yang ia tahu Pelangi harus tinggal disisnya dan tak ada yang boleh mengambilnya termasuk Melvin.
Mata Pelangi seketika membeliak.
__ADS_1
Tidak!
Ia tak sanggup harus kehilangan keluarganya lagi, yah janin di perutnya adalah satu satunya manusia yang memiliki pertalian darah dengannya, meski tidak yakin bisa menyaksikan tumbuh kembangnya tapi Pelangi harus memastikan ia bisa selamat dan hidup bahagia meski tanpa seorang ibu disisinya.