
Daffin masuk dengan langkah pelan, ia bisa mendengar dengkuran halus dari Pelangi yang kini memunggunginya, satu tangannya yang dipasangi infus ia letakkan diatas paha.
Pelangi benar benar tidak berbohong saat mengatakan kepada Melvin jika ia ingin istirahat, karena ia langsung terlelap beberapa menit setelah kepergian Melvin, meski tujuan utamanya adalah menghindari Melvin dengan semua perasaannya yang dirasa Pelangi tidak pantas untuknya.
Daffin duduk di sebuah sofa memandangi punggung Pelangi yang bergerak teratur sesuai tarikan dan helaan nafasnya.
'Apakah ia jatuh cinta pada gadis itu?'
Daffin masih memikirkan pertanyaan Melvin.
'Ataukah ia memang hanya menyukai tubuhnya?'
Kini Daffin menyugar rambutnya seraya mendesah kasar, rasanya ia pun bingung dengan apa yang sebenarnya ia rasakan namun Daffin berharap ia ada dipilihan kedua, tubuh pelangi adalah candunya karena ia masih percaya rasa cinta adalah sebuah kebodohan.
Satu jam lebih memandangi punggung Pelangi benar benar membuat hati Daffin semakin terasa sakit, wanita itu menderita karena perlakuan kasarnya namun kemarin tak pernah sedikitpun ia memperlihatkan kemarahannya.
Daffin tak habis fikir terbuat dari apa sebenarnya hati pelangi, mengapa ia bisa sepenurut itu padahal tahu jika ia hanya dijadikan pemuas hasrat, wanita itu terlihat sangat pasrah dengan kehidupannya, dalam dirinya ia hanya memiliki ketakutan namun tak ada secuilpun keberanian.
Daffin berjalan pelan saat melihat geliat pelan tubuh Pelangi, ia menurunkan pagar pembatas yang sempat dipasang Melvin sebelum pergi lalu memutuskan untuk berbaring disamping Pelangi dan memeluk istrinya itu dari belakang.
Jantung Pelangi rasanya tidak aman, dan seakan berhenti berdetak saat merasakan hawa hangat yang lagi lagi mengalir dibelakang tengkuknya.
'Daffin Jaxton' tebaknya dalam hati, yah siapa lagi yang berani berbuat seperti ini selain suami jahatnya itu.
"Maafkan aku....."Bisik Daffin Lirih, sebuah kata yang sangat jarang terucap dari bibirnya, bahkan kepada kedua orang tuanya sekalipun.
"Kenapa kau minta maaf tuan?" Pelangi terkejut dengan permintaan maaf Daffin, ia fikir Pria itu sama sekali tidak menyadari kesalahannya.
"Karena menyakitimu, aku membaca pesan Melvin di Ponselmu dan membuatku marah" Daffin semakin mengeratkan pelukannya.
"Oh..." Pelangi hanya ber oho, Daffin hanya marah ia tidak mungkin cemburu,pria seperti Daffin memamg terkadang tidak terima jika seauatu yang sudah di klaimnya diincar orang lain.
"Bagus kau menolaknya, jangan dekat dengannya lagi"
Pelangi tahu Daffin mendengar semua percakapannya dengan Melvin tadi.
"Cepatlah sembuh aku akan menjagamu setelah ini, aku berjanji tak akan menyakitimu lagi" Daffin berujar seraya mengecup pucuk kepala Pelangi secara bertubi tubi.
.
__ADS_1
.
.
Prang.....
Soraya membanting ponsel pintar milik suaminya dilantai hingga benda pipih itu hancur tak berbentuk lagi.
Dadanya naik turun menahan amarah tatkala baru saja membaca beberapa pesan dari sebuah kontak dengan nama Putri kecilku.
Selama ini yang Soraya tahu Satria kehilangan kontak dengan anak panti itu, ia tak menyangka beberapa bulan ini Satria kembali berhubungan dengan Pelangi.
"Soraya? kau yang melakukannya?" Satria yang baru masuk kedalam ruang kerjanya memunguti sisa bangkai ponsel seharga motor matic itu. Pria 44 tahun itu berusaha untuk tidak menampakkan emosinya atas tindakan bar bar sang istri, ia sudah bisa menebak apa yang baru saja dilihatnya sehingga ibu dari dua orang anak kembarnya itu mengamuk.
"Mas menemukan pelangi? Kenapa tidak mengatakannya padaku? Kenapa mas?" Sentak Paula.
"Pelangi belum siap bertemu denganmu, sepertinya ia sadar kau amat membencinya, dan entah mengapa kau begitu tega dengan gadis yatim piatu itu"
Satria membuang Ponsel hancur itu kedalam tong sampah disamping meja kerjanya, tak lupa juga ia memunguti beberapa berkas yang sempat dihamburkan Soraya.
"Andai kau tahu apa yang sudah dialami Pelangi selama ini" Lanjut Satria.
"Soraya!" Sentak Satria lalu kembali membuang dengan kasar berkas yang barusan ia rapikan didepan wajah Istrinya, hingga wanita itu menyeringai.
"Kenapa mas? Bukankah Pelangi sekarang sudah lebih dewasa, aha usianya kalau tidak salah sudah 20 tahun, ia sudah bisa menikah mas, kenapa tidak kau nikahi saja ia seperti pesan bunda sialan mu itu Mas!"
Plak......
Satu tamparan kerasa mendarat di pipi Soraya.
Wanita itu menangis sambil memegang pipinya yang terasa panas, Tapi Soraya sudah tidak tahan, kenyataan Satria yang diam diam bertemu dan berkirim pesan dengan Pelangi membuatnya sangat geram.
Sangat sial ia cemburu dengan gadis 20 tahun.
Soraya bukanlah wanita yang sejahat itu, ia juga kasihan dengan keadaan Pelangi meski memang selalu ketus dengan gadis itu sejak pertama menikah dengan Satria karena Pelangi selalu menjadi prioritas suaminya.
Akan tetapi pembicaraan yang tidak sengaja didengarnya enam tahun lalu sebelum bunda siti mertuanya meninggal membuat kebenciannya kepada Pelangi semakin menjadi jadi.
Flashback....
__ADS_1
Langkah kaki Soraya terhenti saat sendal yang dipakainya tak sengaja menginjak selotip bekas pakai, entah manusia mana yang membuang sampah sembarangan dikoridor rumah sakit tepat didepan pintu ruangan mertuanya dirawat.
Sebenarnya Soraya sudah diminta oleh Satria untuk tinggal saja di Panti mengurus anak anak selama Bunda siti dirawat, tapi riuh suara anak panti membuat soraya benar benar tidak betah hingga ia menyusul suaminya seorang diri ke rumah sakit yang terletak dikelurahan sebelah.
Mereka berdua memang langsung datang kedesa begitu mendengar Bunda siti kembali masuk rumah sakit, meninggalkan si kembar di jakarta dibawah pengasuhan suster yang memang bertugas menjaga mereka.
Samar samar dari balik pintu yang tidak rapat Soraya bisa mendengar perbincangan ibu dan anak itu dari luar.
Bunda Siti bercerita mengenai perjanjiannya dengan yayasan panti asuhan yang lebih besar agar kelak mereka bersedia menampung anak anak panti yang masih tersisa kecuali Pelangi, Karena Bunda Siti tidak bisa melihat Pelangi tinggal dilingkungan baru yang tidak mengerti kondisi gadis itu. untuk itu Pemilik nama lengkap Siti Nur itu meminta Satria agar menjaga Pelangi seperti anaknya sendiri.
"Bunda Percaya kamu akan melindungi Pelangi, tapi sampai kapan?"
"Sampai Satria mati bunda, Satria janji akan melindungi Pelangi seperti anak sendiri"
"Pelangi tidak seperti gadis kebanyakan kondisinya mengharuskan ia memiliki mahram, ia butuh seseorang yang bisa menyentuhnya tanpa batasan apapun, lihatlah ibu bagaimana jika ibu tidak memilikimu?"
"Satria janji saat Pelangi dewasa, Satria akan mencarikan Mahram terbaik untuk Pelangi, "
"Tapi bagaimana jika kau tidak menemukannya, sementara Tidak selamanya Pelangi bisa selalu ada dalam dekapanmu nak, kalian harus memiliki batasan"
"Batasan apa yang bisa tercipta antara satria dan pelangi bun, disaat satria adalah orang yang paling dekat dari saat anak itu bayi, Satria yang paling sering menidurkan dan memandikannya, menggendongnya hingga tangan satria kebas kala ia menangis "
"Semua memiliki aturan nak"
"Saat Pelangi butuh maukah kau menjadi mahram untuknya?"
Deg....
Deg....
Jantung Satria seakan berhenti berdetak, apalagi Soraya yang berada diambang pintu kepalanya seperti dihantam sebuah batu besar oleh mertuanya sendiri.
Soraya paham betul Jalan satu satunya agar Satria bisa menjadi mahram bagi Pelangi adalah dengan menikahinya.
Falshback Off...
Satria terduduk dikursi sambil memijat pelipisnya dengan kedua siku yang bertumpu di meja kerjanya, ia tahu Soraya sudah mengetahui semuanya, sekarang Satria sadar mengapa Soraya begitu membenci Pelangi, padahal sedikitpun didalam hati Satria ia tidak memiliki perasaan apapun pada Pelangi selain kasih sayang seorang ayah kepada Anak yang ia asuh dengan penuh kasih sayang selama ini.
Satria menyesal sudah menampar istrinya, ia memang kesal karena Soraya menyebut wanita yang paling ia sayangi dimuka bumi ini sebagai Sialan. namun tidak seharusnya ia bersikap kasar kepada wanita yang sudah mendampingi dan memberikan ia dua anak kembar yang begitu disayanginya. Kini ia hanya bisa memberikan waktu sendiri bagi Soraya sebelum membujuknya kembali.
__ADS_1
"Maafkan suamimu ini sayang" Lirih Satria....