
Setelah kepergian Daffin Pelangi menikmati sejenak udara pagi kota Jakarta di atas Balkon, menghirup udara sebanyak banyaknya seakan hari esok ia tidak bisa lagi melakukannya.
drtt......Ponsel Pelangi berdering saat ia hendak kembali masuk kedalam, Pelangi berjalan pelan menuji nakas disamping tempat tidurnya.
Video call Paman Satria.
"Halo paman" Senyum pelangi merekah sempurna melihat wajah pria paruh baya yang masih nampak gagah di layar ponselnya.
Ini adalah Panggilan video yang kesekian kalinya bagi mereka, ketika Daffin tidak ada mereka memang kerap kali bertukar kabar melalui video call, dan terkadang sikembar yang kini sudah berusia 10 tahun ikut nimbrung.
"Apa kita sudah bisa bertemu nak? Paman sangat rindu ingin memeluk putri paman yang paling sulung ini" Setiap kali satria mengucapkan kata kata itu manik matanya terlihat selalu berkaca kaca, mengingat apa yang pernah dikatakan Ayu, jika bayi merah yang ia rawat dengan tangannya sendiri itu sudah mengalami kekerasan seksual yang sangat fatal. Darah Satria seakan mendidih jika mengingat pria kejam mana yang tega melakukan hal itu pada gadis lemah seperti Pelangi. Namun Satria sama sekali tak ingin menyinggung hal itu melalui sambungan telepon. Tak mengapa jika Pelangi tak ingin menceritakan luka masa lalunya.
"Apa majikan mu ada disana?" karena tak mendapatkan respon Satria kembali bertanya, yah Pelangi mengaku pada Satria jika ia bekerja sebagai Pelayan pada keluarga kaya, dan pekerjaannya tidak terlalu berat. Pelangi juga menitip pesan pada Ayu agar tidak menceritakan keadaan sebenarnya mulai dari kondisi jantungnya hingga pernikahannya yang akan berakhir kurang dari setahun lagi.
"Majikan Pelangi sudah kekantor Paman" pelangi masih tersenyum, jangan tanya bagaimana rindunya Pelangi saat ini pada pria itu, rasanya ia ingin menghambur kedalam pelukan hangat Satria dan memintanya untuk membawa pergi ke ujung dunia dimana tak ada seseorangpun yang mengenalnya, Pelangi masih tetap pada impiannya ia ingin meninggalkan dunia tanpa kesan pada siapapun. Tapi itu egois pelangi tidak mungkin melibatkan Satria dalam hidupnya lebih dalam lagi bagaimanapun Pria itu memiliki keluarga sebagai prioritas utamanya apalagi Pelangi tahu Soraya tak pernah meyukainya.
"Pelangi paman ingin memberi....."
"Pelangi juga sangat ingin menemui paman" jawab Pelangi dengan tatapan sendunya.
"Iya Nak....!" Satria mengusap layar ponselnya seakan wajah putri kecil yang selalu ia mandikan dulu benar benar ada dihadapannya.
Sebelum mengakhiri panggilannya Pelangi dan Satria sepakat untuk bertemu di sebuah restoran mewah. Tentu Satria yang memilih tempatnya.
.
.
.
Melvin menghela nafas kuat menatap pesannya kepada Pelangi yang belum di balas istri dari sepupunya itu, padahal ia hanya bertanya kabar.
__ADS_1
Entah mengapa Pelangi rasanya enggan memberitahu Melvin jika ia sudah kembali keapartemen, ia tahu pria itu berusaha ingin menjauhkan dirinya dari Daffin namun dengan bodohnya justru ia sendiri yang menyetujui kesepakatan dengan Daffin, Pelangi tak bisa membayangkan apa yang difikirkan Melvin jika tahu ia dirinya dengan sukarela menyerahkan segalanya kepada orang yang sudah memperk*sanya.
Melvin meletakkan ponselnya diatas meja dan mengambil tablet dari lacinya, Melvin pun punya akses untuk melihat rekaman cctv dari mansion utama tapi beberapa hari ini ia sama sekali tidak melihat keberadaan Pelangi di sekitaran Mes Pembantu mansion tersebut.
Melvin beralih ke video cctv Apartemen Daffin kali ini ia ingin memantau keberadaan Pria itu yang sudah melalaikan pekerjaannya.
Namun nihil.
Melvin hanya bisa melihat layar hitam tanpa gambar, Mungkin Daffin sudah membuka beberapa kamera yang ia letakkan disana guna mengawasi pergerakan Pelangi.
"Kau mengawasi cctv apartemenku?"
Melvin mendongak menatap Daffin yang baru saja masuk keruangannya dan duduk dihadapannya.
Daffin bisa menebak apa yang dilakukan Melvin, hanya dengan melihat tablet di genggaman Melvin yang memang khusus menampilkan rekaman cctv apartemennya.
"Kau sudah puas dengan para wanita itu?" Sinis Melvin yang kembali menyimpan tabletnya dilaci meja kerjanya. Ia tak menghiraukan pertanyaan Daffin lagi pula pria itu tak butuh jawaban karena Melvin tahu sepupunya itu tahu segalanya.
Rahang Melvin mengeras dengan satu tangannya yang terulur diatas meja mengepal sempurna.
"Kau brengsek! Lepaskan Pelangi !" Sentak Melvin.
Namun Daffin masih dengan ekspresi datarnya "Kami sepakat akan menjalani kehidupan rumah tangga yang normal, aku tidak tahu seberapa besar rasa sukamu pada istriku, tapi kau tidak bisa memaksakan kehendakmu sekarang setidaknya kau harus menunggu sampai kami resmi bercerai" Bohong Daffin, karena ia sama sekali tidak berniat melepaskan satu satunya wanita yang bisa ia sentuh. ia berharap dengan berkata seperti itu Melvin bisa sedikit meredam perasaannya dan berharap Melvin menemukan wanita lain seiring berjalannya waktu.
"Kau bohong pelangi tidak mungkin mau...cih..., "
"Kau ingin aku menelponnya, ia bahkan sudah menerima nafkah dariku, sesuatu yang tidak bisa kau lakukan" tatapan Daffin meremehkan pria dihadapannya, Pelangi memang pernah menolak Kartu debit dari Daffin yang diberikan Melvin.
"Aku akan memastikannya sendiri" Melvin berdiri namun Daffin segera mencekal pergelangan tangan sepupunya itu.
"Ini jam kerja! Kau bukan Melvin yang mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan"
__ADS_1
"Lantas bagaimana denganmu? Kemana kau beberapa hari ini?" Sindir Melvin yang sama sekali tidak berniat untuk duduk kembali, ia harus memastikan pelangi dalam keadaan baik baik saja.
"Sudahlah! Sebaiknya kau bersiap bukankah kita ada pertemuan" Rasanya Daffin tak ingin beradu lama dengan Melvin, ia khawatir pertikaian semacam ini bisa memicu mundurnya Melvin dari Hotel, dan Daffin tak ingin itu terjadi.
Kali ini Melvin mengalah mereka memang ada pertemuan dengan para manager hotel untuk membahas hasil evaluasi laporan bulan ini.
Daffin memimpin rapat dengan raut wajah yang sukar diartikan oleh Melvin, ia belum pernah melihar air wajah seperti itu diwajah Daffin sebelumnya.
Bahagia?
Melvin menepis fikirannya, Ia tidak mungkin membiarkan Daffin memberi luka lebih dalam lagi pada Pelangi, Sekalipun pria itu menyukainya.
Tentu!
Casanova mana yang tidak bahagia setelah lepas dari kutukan tidak bisa menyentuh wanita.
"Aku akan mengatur jadwal ke psikiater" ujar Melvin yang jalan bersisian dengan Daffin di sepanjang koridor, sambil mereka sesekali membalas sapaan para Staf yang melewati mereka.
"Aku tidak membutuhkannya" Tolak Daffin lantang.
"Kau bisa menyentuh Pelangi itu artinya ada kemungkinan kau bisa kembali seperti dulu"
"Seorang Casanova?heh" Daffin menggeleng pelan.
"Aku akan pulang cepat malam ini, batalkan rencana makan malam dengan petinggi Travel Agent itu, Atau kau bisa pergi sendiri kesana mewakiliku" Ucap Daffin lagi, dari pada mengingat masa lalunya ia lebih penasaran dengan maskan yang akan disiapkan Pelangi nanti malam.
Ada sesuatu yang menggelitik di relung hati Daffin tatkala mengingat ada seseorang yang menunggunya dan menyiapkan masakan dirumah.
Melvin mengernyitkan Dahi, tidak biasanya Daffin melewatkan undangan makan malam dari seorang partner bisnis. Seketika ia teringat akan Pelangi.
Melvin menarik lengan Daffin yang berjalan beberapa langkah dihadapannya hingga pria itu berbalik.
__ADS_1
"Jangan memberi luka lebih dalam lagi untuk Pelangi" ucap Melvin yang sarat akan peringatan.