
Gilang yang melihat istrinya mengemasi barang-barangnya mencoba menghentikan tangan istrinya.
"Lepaskan Gilang, aku akan pergi selamanya, dan tidak ingin hidup di rumah neraka ini. Aku memang tidak pantas berada di tempat ini" teriak antin.
Mama Merry yang mendengar teriakan antin pun segera berlari dan di ikuti Alice di belakang. Mama Merry mendengarkan perseteruan antara Gilang dan antin.
"Ada apa ini, kenapa kalian ribut, apa yang terjadi dengan wanita kampungan itu" ucap mama Merry bertanya pada Gilang.
"Kau tau, kau sudah senang atas penderitaan ku selama berada di rumah mu hah?, lihat wanita ini. Bahkan kalian hanya diam melihat wanita lain merusak rumah tanggaku. Dan dengan senang hati kau ikut andil dalam menghancurkan rumah tangga anakmuu sendiri. Ingat aku tidak akan tinggal diam dan membalaskan dendam pada kalian" ucap antin dan mama Merry langsung tertawa.
"Hahaha, kau pikir kamu itu siapa hah. Kau tidak akan bisa melawanku gadis kampung. Memangnya kau bisa apa hah?" suara tawa mama Merry mendengar penuturan antin.
"Kau tanya aku bisa apa hah? aku bisa melakukan itu semua dengan otak bukan dengan pantat" ujar antin membuat mama Merry mengeraskan rahangnya.
"Kau pikir aku tidak tau siapa ayah kandungku hah" ucapan antin membuat mama Merry menjadi keringat dingin namun berusaha biasa-biasa saja.
"Jangan sembarangan kamu, kamu itu orang kampung. Mana mungkin kamu tau siapa ayah dan ibu kandung kamu dan di kota ini juga bukan asal kamu. Kamu itu berasal dari kampung" ucap mama Merry.
__ADS_1
"Hahaha,,,,,Kita lihat jasa nanti. Dan untuk kamu Gilang, kamu akan membayar semua ini semua yang sudah kamu lakukan untuk menghancurkan aku mulai dari membawaku kesini dan menikahiku tanpa aku tahu apa sebab pernikahan itu dan berakhir membawa aku ke jurang yang sngat penuh dengan penyesalan"
"Antin, tolong maafkan aku, aku janji aku akan menjadi suami yang baik dan memberikan kebahagiaan untukmu tapi aku mohon jangan tinggalkan aku antin" ucap Gilang.
"Gilang, apa yang kau bicarakan lalu bagaimana denganku" ucap alice, namun tak di pedulikan oleh Gilang membuat Alice kesal.
"Aku bahkan tidak pernah berharap menikah denganmu Gilang, tapi kau membawaku masuk ke neraka yang menyedihkan ini. kau bahkan tidak ada rasa pedulimu tentang perasaanku saat melihat kamu membawa seorang L***e ke rumah ini" ujar antin.
"Jaga ucapan kamu wanita kampung. Derajat kita itu berbeda aku lebih memiliki segalanya dan kau, kau punya apa?" teriak alice.
"iya, aku memang orang miskin dan tidak berada, tapi aku masih memiliki akal sehat yang tidak menawarkan jasa jual beli tubuh sendiri" ucap antin tak ada rasa takut.
Antin sudah selesai mengemas baju serta barang yang dia punya. Dia juga mengembalikan semua bajunya pada Gilang yang pernah Gilang berikan untuknya. "Terimakasih Gilang, kamu sudah memberikan aku baju-baju semewah ini, dan sebenarnya semua ini tidak lah pantas untukku memakai baju pemberian darimu, tapi karna tak ingin membuat kamu dan keluargamu malu, aku terpaksa memakainya" ungkap antin dan berjaln meninggalkan mereka bertiga yang masih berada di dalam kamar itu.
"Bagus lah jika kau sadar diri" Alice menimpali.
"Ingat, kau tidak boleh kembali dan mengemis di rumah ini. Karna kami tidak menerima gembel yang sombong sepertimu" ujar mama Merry berteriak.
__ADS_1
"Tenang saja, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah mu yang bagai istana tapi isinya iblis semua" ucap antin dan berlalu keluar dari pintu utama.
Gilang menatap kepergian antin. Gilang sebenarnya memiliki rasa kasihan pada antin, tapi rasa gengsinya yang membuat perasaan ibanya pada antin menjadi lenyap. Pria sepertinya memang sangat tidak berhati dan egois. Dia membenci antin karna setiap hari selalu di hasut oleh mamanya untuk menyalahkan dan menggunakan masa lalu sebagai alat untuk membenci antin. Namun suara hati Gilang, Gilang menyesal telah menyakiti antin.
***
Antin berjalan di trotoar menenteng tas selempang dan tak ada sedikit pun uang yang dia punya di dompetnya . Hari sudah gelap, antin tidak tau harus kemana, dia tidak tau kemana dia akan pergi untuk mencari orang tuanya. Antin hanya bisa berdoa agar secepatnya antin bertemu dengan orang tuanya.
Antin melihat di tepi jalan raya ada sebuah warung bakso yang kecil. Mencium aroma bakso di pinggir jalan itu membuat perut nya keroncongan. Tapi baru saja dia akan berjalan untuk membeli bakso itu, dia ingat jika dia tidak memiliki uang yang lebih. Dia hanya punya uang 20 ribu di kantong celananya. Namun beruntung jika bakso itu harganya 15 ribu rupiah akhirnya antin memutuskan untuk ke warung bakso itu dan membeli bakso untuk makan malam hanya untuk malam ini saja.
Setelah antin selesai makan bakso, Antin kembali berjalan meninggalkan warung bakso tadi. Di tengah perjalanan, hujan turun sangat lebat, antin melihat ke kiri dan kanan mencari tempat berteduh. Antin melihat ada sebuah rumah megah yang memiliki gerbang yang tinggi dan di sebelah gerbang itu ada sebuah pos satpam yang bekerja di rumah megah itu.
Antin berlari menuju pos satpam yang terlihat ada satu lampu yang menyala. Antin mengetuk pintu kaca post itu namun tidak ada yang menyahut dari dalam. Antin membuka pintu pos itu dan benar saja tidak ada orang di dalam. Tanpa pikir panjang, antin masuk untuk berteduh disana.
Antin duduk di kursi yang ada disana dan bersandar hingga ngantuk datang menghampiri membuat antin tidak bisa menahan kantuknya dan tertidur.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kak