
Antin dan Leon sudah berada di dalam perjalanan menuju kediaman Surya, dan di depan mobil yang di tumpanginya sudah ada mobil lain yang di dalamnya ada Gilang bersama para Mafiosonya.
Arka memegang tangan istrinya menggenggam tangan istrinya kuat untuk menetralisir kegugupan istrinya ketika akan bertemu dengan keluarga yang selam ini membuangnya.
"sayang, kau harus kuat dan tidak terlihat lemah di hadapan mereka, tunjukkan bahwa kamu adalah wanita kuat" ucap Leon memberikan semangat pada istrinya itu.
"aku akan mencobanya" terang antin.
Leon memeluk istrinya untuk menangkan hatinya yang di landa gelisah.
Setlah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, Leon dan antin sudah sampai di depan sebuah gerbang yang menjulang tinggi dan terlihat bangunan dua tingkat itu disana, tempat yang membuat antin merasa takut.
"sayang, ayo" pinta Leon dan tetap menggenggam tangan istrinya.
Antin hanya mengangguk dan keluar dari mobil saat Leon meraih tangannya dan mobil pun sudah berada di pekarangan milik keluarga Surya dan tinggal menunggu sang tuan rumah membukakan pintu untuk tamu yang datang.
"kau siap sayang?" tanya Leon.
"iya"
"baiklah, kita tunggu mereka keluar "
Tak berapa lama, terlihat tuan Andi bersama mama Merry keluar dari rumah itu karna mendengar suara deru mobil yang memasuki halaman rumah mereka.
Tuan Andi dan nyonya Merry penasaran dengan siapa yang datang dengan melihat 3 buah mobil memasuki halamannya, namun rasa penasarannya hilang ketika melihat beberapa pria berpakaian hitam membawa Gilang keluar dan menghadap kedua orang tuanya.
Mama Merry yang melihat anaknya di seret oleh orang-orang itu menjadi sangat terkejut dan berteriak histeris karna melihat anaknya yang sudah dalam keadaan sangat memperihatinkan.
"Gilaaaaang, syang apa yang terjadi padamu nak" teriak mama Merry membuat beberapa orang yang lain keluar dan melihat kondisi di luar rumah.
Semua saudara Gilang keluar dan melihat Gilang yang dalam keadaan lemah dan terduduk di hadapan keluarganya. Mama Merry segera menghampiri anak bungsunya itu dan memeluknya.
__ADS_1
"Gilang kau kenapa sayang, apa yang terjadi padamu, siapa mereka" teriak nyonya Merry menangis.
"Gilang baik-baik saja ma, Gilang sekarang sudah pulang" jawab Gilang lirih.
"katakan pada mama siapa mereka, mengapa mereka membuat ini padamu" ucap nyonya Merry dengan derai air mata.
"ma kita harus pergi dari rumah ini, kita harus meninggalkan negara ini ma, kita harus meninggalkan apa yang kita miliki sekarang ma" ucap Gilang.
"tidak nak, kamu jangan berpikir seperti itu, kita akan tetap disini dan tidak akan pergi kemanapun"
Namun seketika kedua pasangan suami istri itu turun dengan menggunakan kaca mata hitam dan melangkah dengan angkuh menghampiri keluarga yang tengah di landa keterkejutan itu.
Semua orang menatap tajam kedua suami istri itu dengan perlahan suara sepatu nya menghampiri mereka.
"Hay selamat siang nyonya Merry dan tuan Andi" ucap antin dengan raut wajah yang terlihat bahagia meski di dalam hatinya tengah sangat muak melihat keluarga itu.
Antin membuka kaca mata hitamnya itu. Jika di tanya darimana datangnya keberanian antin, Leon memberikan istrinya segala yang bisa membuat istrinya menjadi pemberani, mulai dari semangat hingga beberapa cara untuk meyakini istrinya itu.
"antin" gumam nyonya Merry.
"iya, dan itu apakah kau menjual tubuhmu pada pria kaya itu sehingga kamu bisa menikmati hartanya sekarang dengan kehamilanmu membuat pria kaya itu mencintaimu" ucapn pedas Mira membuat darah Leon mendidih.
"aku tidak berurusan denganmu, aku hanya datang kesini untuk melihat kalian pergi dari rumah ini" ucap Leon dingin.
"hey tuan siapa anda yang berani menyuruh kami keluar dari rumah kami" ucap Vivi.
"kalian tidak perlu tau aku siapa, tapi mulai hari ini kalian harus meninggalkan tempat ini karna tempat ini akan kembali ke pemilik yang seharusnya" ucap leon datar.
"kami tidak mau pergi, karna ini adalah tempat kami dan tolong jangan urus kehidupan kami" ucap tuan Andi angkat bicara.
"oh ya, lalu bagaimana menurutmu tuan Gilang Surya" ucap Leon menekan ucapannya.
__ADS_1
"ma, kita akan pergi dari rumah ini dan menyerahkan semuanya pada Rendy dan Rinda, karna mereka lebih berhak" jawab Gilang.
"apa-apa an kamu Gilang, kami bahkan sudah lama tinggal di rumah ini kenapa kita harus pergi, pokoknya kita tidak boleh pergi titik" teriak nyonya Merry dengan suara melengking.
"jika kalian tidak ingin pergi meninggalkan tempat ini maka bersiaplah untuk melihat apa yang akan terjadi" suara dingin Leon membuat sekeluarga itu menjadi sedikit takut.
"kamu memaksa kami untuk pergi apa hak kamu" ucap nyonya Merry angkuh.
"semua ini karna kebodohan anak kamu ini yang telah menganggu rumah tanggaku dan sudah berani menculik istriku dan membawanya jauh di tempat ini, apa aku harus diam saja" ucap Leon kembali dengan nada datarnya membuat semuanya diam.
"secepatnya angkat kaki dari rumah ini sebelum kami bertindak" ucap Leon tak ingin di bantah.
"kau pikir kau bisa mengusir kami dari sini, kami tidak akan pernah meninggalkan rumah kami" tegas tuan Andi lagi.
"lakukan" perintah Leon pada para Mafiosonya karna tak ingin berlama-lama dan dengan cepat para Mafioso Leon mencambuk Gilang hingga tiga kali.
Ctar....
ctar...
ctar...
"tidaaaaak tolong jangan lakukan itu aku mohon" ucap nyonya Merry histeris karna anak kesayangannya di cambuk.
Semua yang melihat menjadi takut dan menangis melihat Gilang yang tertunduk dengan bekas cambukan di beberapa bagian tubuhnya.
Tuan Andi tidak bisa berfikir jernih melihat kondisi anaknya yang seperti itu, bahkan semuanya di halangi oleh para Mafioso Leon agar tak ada yang bisa menyelamatkan Gilang.
Bima sebenarnya perihatin dengan kondisi adik bungsunya itu, namun dia hanya diam saja karna memang sedari awal dia selalu memperingati saudaranya itu dan begitu juga dengan yang lain untuk tidak semena-mena dengan orang lain. Namun begitulah memang sifat dari keluarganya yang tak ingin mengalah, tak ingin menghormati orang yang lebih bawah darinya, mereka akan selalu membuka dan juga menindas orang yang tidak mampu. Namun hanya dirinya lah satu-satunya orang yang tidak mengikuti jejak keluarganya yang seperti itu.
Teriakan demi teriakan yang terdengar di halaman rumah mewah itu, beruntunglah tempatnya terdapat komplek elit yang terletak di tengah kota, sehingga Tak ada yang peduli dengan apapun aktivitas sesama meski sebenarnya tempat itu terdapat banyak rumah mewah dan ramai penduduk. Namun masalah apapun yang terjadi di sekitar itu tak ada yang peduli, mereka hanya tau bekerja,pulang , makan dan begitulah seterusnya atau bisa di bilang napsi-napsi.
__ADS_1
"cepat lakukan sebelum anakmu akan mati di tanganku"
Bersambung.....