Jangan Sakiti Aku

Jangan Sakiti Aku
Akan melahirkan


__ADS_3

Semua keluarga masih berkumpul di sofa ruang tamu yang dulu terlihat sangat sempit dan kecil. Namun sekarang setelah di perbaiki semuanya, kini menjadi sedikit lebih besar dan panjang.


Pak Jamal juga masih berada di sana bersama istrinya, mereka berbincang-bincang sambil menikmati beberapa hidangan yang di sediakan art di rumah itu. Semenjak rumah itu selesai di renovasi, Leon menyuruh pak Jamal tetap mengawasi dan merawat rumah itu, dan di bantu oleh dua orang art atas perintah Leon.


Hingga sekarang rumah itu terlihat terawat dan bersih. Leon sengaja merenovasi rumah itu, agar antin tak merasa kehilangan atas orang tua angkatnya, dan kembali membuat tempat itu hidup dan lebih nyaman.


Apalagi di tempat itu sangat indah dengan suasana sawah yang mengelilingi rumah itu, membuat mereka semua merasa sangat betah di sana.


Antin berada di kamarnya yang baru dan melihat sekeliling kamar itu terdapat foto pernikahan dan juga foto dirinya bersama Leon. Bukan hanya itu, Leon juga mempersiapkan baju bayi dan juga baju istrinya di lemari besar di kamar itu, antin yang melihatnya menjadi bingung.


"baju bayi?" bingung antin.


"Hem, kau suka?" tanya Leon.


"kenapa ada baju bayi disini?" antin mengulangi pertanyaannya.


"karna Leon junior akan segera lahir ke dunia ini" ucap Leon mengelus perut buncit istrinya.


"tapi kan belum juga lahir sayang"


"Aku tau, tapi jaga kemungkinan kamu akan secepatnya melahirkan" seru Leon.


"terserah kamu saja" antin tersenyum


"kamu istirahat disini ya, karna sekarang sudah jam 10 malam, aku tidak mau kamu bergadang" ujar Leon.


"tapi di luar masih ada pak Jamal sama Bu Dina" ucap antin.

__ADS_1


"tidak apa, aku sudah izinkan kamu istirahat, dan mereka mengerti, aku tidak mau kamu kelelahan sayang" ucap Leon.


"baiklah" pasrah antin.


Antin pun siap akan tidur tapi entah sakit perutnya kembali iya rasakan.


"awaasshh" antin meringis dan tentu membuat Leon panik.


"ada apa sayang" panik Leon.


"entahlah tapi perutku sakit sekali"


Antin merasakan sakit yang luar biasa dari sebelumnya. Antin merasakan sesuatu di bawah perutnya keluar. Air dari selangkangannya keluar begitu banyak dan sedikit darah yang mengalir di sana. Leon semakin panik melihat keadaan istrinya.


"ayo sayang, kita ke rumah sakit" Leon menggendong istrinya dan antin sudah berkeringat dingin menahan sakit.


Mereka semua sangat panik melihat keadaan antin.


"ayo papa bantu kamu nak" tuan Ferdinan membantu Leon membopong antin karna berat badan yang sedikit bertambah membuat Leon kesulitan menggendong istrinya.


Namun Leon tak menyerah," biar papa bukakan pintu mobil saja" ujar Leon.


"ma tolong bawakan perlengkapan antin di dalam kamar ya, "


"iya sayang" mama Yola segera mengambilkan barang-barang antin dan segala keperluannya.


Sedangkan mama Desi dan juga tuan Rizal menaiki mobil mereka. Setelah mama Yola kembali, dan masuk ke dalam mobil, tak lupa pak Jamal juga ikut masuk karna di sekitar itu tak ada rumah sakit, hanya ada puskesmas saja, dan pak Jamal sebagai petunjuk tempat puskesmas itu berada.

__ADS_1


Mereka secepatnya mengikuti arahan yang di berikan oleh pak Jamal sampai di puskesmas. Beruntunglah puskesmas di tempat itu tak terlalu jauh, mungkin hanya 1 kilo meter dari rumah antin.


Setalah mereka sampai di halaman puskesmas, pak Jamal langsung keluar dan memerintahkan agar perawat segera membawa kan brangkar untuk antin.


Sekitar 4 orang perawat, yang piket di puskesmas itu, dan menyambut kedatangan antin yang sudah lemas dan tak ada tenaga sedikitpun, wajahnya juga sudah pucat sekali karna rasa sakit yang datang bertubi-tubi.


Leon segera menggendong istrinya ke atas brangkar yang di bawakan oleh perawat itu, Leon terus saja menggenggam tangan istrinya dan memberikan kata-kata cinta dan semangat pada istrinya.


"kau harus kuat sayang, kau akan menjadi seorang ibu dan aku akan menjadi seorang ayah, kita akan menjadi orang tua" Leon terus saja menyemangati istrinya.


Setelah sampai di depan ruangan bersalin, perawat melarang mereka semua masuk kecuali Leon yang siap selalu berada di samping istrinya.


"sayang aku akan selalu ada di sini" bisik Leon.


"mohon bapak sama ibu diam di sini, nona hanya boleh di temani oleh suaminya saja" tegas perawat itu.


"lakukan yang terbaik pada menantuku," ucap tuan Ferdinan.


"akan kami usahakan" ucap salah satu di antara perawat itu sebagai bidan.


Antin sudah di bawa masuk ke ruangan bersalin, Leon selalu sedia di samping istrinya.


Leon menghapus keringat di dahi istrinya dengan tisu, wajah antin sangat pucat dan matanya seolah tak bisa terbuka karna tenaganya sudah terkuras menahan sakit yang luar bisa.


"mas, kau jangan tinggalkan aku" ucap Antin.


"iya sayang, aku tidak akan pernah tinggalkan kamu, aku di sini" bisik Leon dan memberikan beberapa kata cinta untuk istrinya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2