
Hari berlalu dan Minggupun berganti, hari ini Leon dan antin bersama keluarga akan segera berangkat menuju desa terpencil tempat antin di besarkan, dua kelurga segera naik mobil mewah yang telah tersedia rapi di halamn besar rumah keluarga Anggara. Antin berada satu mobil bersama kedua mertuanya, sedangkan di mobil yang lain, ada tuan Rizal bersama istri dan anaknya Riza.
Setelah menyiapkan memasukkan semua koper dan juga barang keperluan mereka di dalam bagasi mobil, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Bagaimana Leon bisa mengetahui jalan menuju desa tersebut, tentulah dengan kuasnya, dia bisa mengetahui dimana letak desa itu. Antin memang tidak mengerti dan tidak tau jalannya dimana , karna jalan di kota yang padat dan meliuk membuatnya tak bisa mengenali jalan menuju ke sana.
Antin juga heran sejak kapan suaminya ini bisa tau letak keberadaan desa tempat tinggalnya dulu, namun dia tak ingin memikirkan semuanya. Antin hanya menikmati suasana jalanan dan hembusan semilir angin yang memasuki celah kaca jendela mobil mengenai wajahnya sembari beberapa kali terdengar suara kecil ringisan kesakitan di area perutnya.
Antin berusaha menetralkan rasa sakitnya dan mengalihkan perhatiannya pada jalanan yang dia lalui, dia juga merasa ada yang aneh terjadi pada bagian perutnya, tapi antin tak terlalu memperdulikan nya.
Sudah berapa kali iya mencoba mengelus lembut perutnya dan sesekali terlihat meremas ujung rok yang iya kenakan. Antin merasakan hal aneh pada bagian perutnya namun iya pikir hanyalah sakit perut biasa, dan tak terlalu memikirkan nya.
Antin mencoba memejamkan matanya, dan tertidur agar setelah bangun nanti, perutnya sudah tidak sakit lagi.
Sekitar 4 jam di perjalanan, kini mobil mereka sudah sampai di sebuah pelataran rumah minimalis bercat putih dan berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya rumah itu hanyalah beratapkan ilalang dan berdinding pagar yang sedikit di makan rayap. Tapi yang terlihat sekarang adalah rumah minimalis yang kecil namun terlihat sangat terawat dan bersih.
Leon melihat istrinya tertidur dan bersandar di sandaran kursi.
"sayang, kita sudah sampai, ayo bangun" suara lembut Leon mengganggu tidur antin. Antin mengerjapkan matanya melihat sekeliling tempatnya sekarang.
__ADS_1
Tuan Rizal beserta istri dan anaknya sudah keluar lebih dulu, barulah mama Yola dan tuan Ferdinan. Mama Yola sangat suka dengan suasana di tempat itu, terlihat bersih dan sejuk. Pemandangan di halaman rumah itu, terlihat beberapa tanaman sayuran dan bunga-bunga yang di tanam antin dulu.
Antin dan Leon keluar dari mobil dan melihat semua keluarga mereka tengah mengambil beberapa objek foto di halaman. Antin dan Leon hanya menggelengkan kepalanya melihat ke antusiasan para orang tua mereka menikmati suasana desa.
Beberapa langkah antin bersiap memasuki rumahnya, namun sebelum itu, dia begitu terkejut dan syok saat melihat perubahan rumah yang dulu iya tempati. Leon yang melihat istrinya terkejut pun langsung bertanya.
"ada apa sayang?" tanya Leon.
"sejak kapan semuanya ini berubah?" tanya antin.
"aku merubahnya karna kasian melihat beberapa bagian rumah ini sedikit demi sedikit roboh, namun karna aku percaya kamu akan berkunjung ke sini, jadinya aku merubah semuanya supaya ada tempat kita menghabiskan waktu bersama di sini" jelas Leon.
"terimakasih mas, kamu perhatian sama aku dan juga pada tempat aku besar disini" ucap antin berkaca-kaca dan mengingat almarhum kedua orang tua angkatnya.
"bagaimana kamu melakukan semua ini mas?" tanya antin.
"eettss....apa kau lupa siapa suamimu ini" ucap Leon bangga.
"iya tentu, kau bisa melakukan apa yang kau mau dengan sekali tepukan saja" balas antin tersenyum manis.
__ADS_1
"kau ini" Leon menggandeng tangan antin berjalan.
"ayo kita masuk rumah" ajak Leon dan antin mengangguk.
Para orang tua sudah memasuki rumah lebih dulu dan di dalam sudah ada pak Jamal yang dulu sebagai bos tempat antin bekerja dulu. Pak Jamal tengah duduk di ruang tamu bersama para orang tua Leon dan antin. Antin benar-benar heran sejak kapan suaminya secepat itu mengubah semua isi rumahnya yang dulu. Semua masih terlihat seperti dulu, bentuk dan tata letak kamar tidur dan dapur serta kamar mandi, semuanya terletak masih di tempat yang sama, namun yang menjadi sedikit berbeda adalah tembok dan juga atap beserta isi ruangannya yang berbeda.
Yang dulu hanya berisikan beberapa kursi kayu dan meja yang sudah sedikit reot dan beberapa benda peninggalan ornag tua angkat antin. Namun sekarang sudah sedikit berubah dengan asalnya lampu-lampu hias dan dan bunga-bunga plastik, serta sofa dan juga beberapa lemari kecil yang menghiasi ruang tamu.
Sebenarnya kamar tidur di tempat itu dulu hanya ada dua ruangan saja, tapi Leon sengaja membuatkan kamar tidur satu lagi dan sedikit jauh dari tempat kedua kamar yang sebelumnya dan yang akan menjadi kamar mereka berdua dengan istrinya.
"selamat sore pak Jamal" sapa antin.
"hai nak antin, selamat sore nak, akhirnya kamu pulang juga, kami semua merindukan kamu. Para pekerja di ladang juga sangat merindukan kamu" jelas pak Jamal ketika antin sudah masuk ke dalam rumah.
"iya pak antin juga kadang, rindu dengan suasana di sini dan juga beberapa teman antin di sini" jelas antin.
"ternyata kamu sekarang lebih baik ya nak, kamu sudah bahagia sekarang dan sudah banyak berubah, kamu juga semakin dewasa dan cantik" seru pak jamal
"iya pak, sekarang antin sudah bahagia bersama suami antin yang sekarang" ucap antin.
__ADS_1
"maafkan bapak ya karna dulu telah membiarkan kamu pergi bersama pria itu" ucap pak Jamal. Pak Jamal memang sudah tau semuanya cerita tentang antin dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Leon, dan beberapa bumbu-bumbu yang Leon tambahkan membuat pak Jamal percaya. Antin yang mendengarkan penuturan pak Jamal kala itu melihat ke arah suaminya dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang tersenyum lebar ke arahnya.
Bersambung....