
Dalam keadaan masih tak sadarkan diri, badan antin panasnya semakin tinggi hingga mencapai 39 Drajat membuat semua yang ada di sekelilingnya menjadi sangat panik.
"Hendrik sialan, kenapa dia belum juga sampai" ucap Leon frustasi melihat istrinya yang semakin drop.
"Leon, kamu tenang ya nak, doakan saja istrimu tidak kenapa-kenapa" ucap mama Desi menenangkan menantunya itu.
"ma mana bisa tenang jika istriku sudah semakin drop begini" ucap Leon. lalu tak berapa lama dokter hendrik datang dengan nafas ngos-ngosan, bagaimana tidak begitu dia menaiki tangga padahal lift sudah tersedia, itulah karna kepanikan membuat diri menjadi lupa.
"selamat malam semua" Suara dokter hendrik setelah mengatur nafas dalam dan sedikit tenang meski sekarang dirinya tengah di landa ketakutan melihat tatapan mematikan dari Leon.
"kamu itu dokter keong ya, tidak bisa datang dengan cepat" ucap Leon memandang dokter Hendrik tajam.
"maaf tuan tapi...." ucapan dokter Hendrik terpotong oleh Leon.
"sudah cepat lakukan yang terbaik untuk istriku, kalau tidak aku akan menghukum mu" ancam Leon membuat dokter Hendrik ketakutan namun sebisa mungkin dia mencoba untuk tetap tenang. "sialan memang Leon, kalau bukan keluarga, sudah pasti aku tusuk memakai jarum suntik ini" gerutu dokter Hendrik yang hanya bisa berkata dalam hati karna memang dasarnya dia sangat takut oleh ancaman Leon yang tidak main-main.
"baiklah, semuanya keluar kecuali tuan Leon sendiri" ucap sopan dokter Hendrik.
Dokter Hendrik mulai memeriksa keadaan antin, dengan hanya tersisa Leon dan dokter Hendrik di dalam, karna yang lain sudah berada di luar.
Setelah Antin di periksa dan di berikan resep obat pada Leon.
"Tuan, anda jangan khawatir dengan keadaan nona antin, mari kita bicara di luar" ajak dokter Hendrik.
"kenapa tidak jelaskan disini?" tanya Leon namun membuat dokter Hendrik kesal namun sebisa mungkin dia menahannya.
"tuan, nanti akan mengganggu tidur nona antin, lebih baik sekarang kita bicara di luar saja" terang dokter Hendrik memberikan pengertian pada Leon.
__ADS_1
"Baiklah, ayo" Leon jalan lebih dulu dan dokter Hendrik hanya bisa menggelangkan kepalanya melihat kelakuan Leon.
Setelah sampai di luar, semua keluarga sudah menunggu mereka dan dokter Hendrik mengambil nafas dalam sebelum bicara.
"baik, saya ingin menyampaikan sesuatu mengenai kesehatan nona antin. Nona antin sebenarnya tidak sakit"
"lalu dia kenapa kalua dia tidak sakit, dia demam dan muntah-muntah lalu apa namanya kalau tidak sakit" sela Leon membuat dokter Hendrik ingin sekali menjambak rambutnya seketika.
"tolong dengarkan dulu"
"Leon, dengarkan dulu apa kata dokter Hendrik" ucap mama Yola yang ikut geram dengan tingkah anaknya itu.
"baiklah, nona antin tidak sakit melainkan dia tengah mengandung" ucap dokter Hendrik membuat semuanya tak berbicara dan hanya ada keheningan.
"kamu bercanda kan, jangan becanda deh" ucap Leon.
"wah ma, aku tidak menyangka aku akan menjadi seorang ayah " ujar Leon dan menitikkan air mata bahagia.
"selamat ya nak, kamu akan menjadi ayah" ucap mama Desi.
"selamat sayang, jaga istrimu dengan baik ya" ucap mama Yola.
"selamat anak papa, kamu memang terbaik" tuan Ferdinan menepuk pundak anak semata wayangnya itu.
"selamat untuk mu menantuku, jagalah istrimu dan lindungi dia dengan baik" ucap tuan Rizal.
"terimakasih papa, mama,terimakasih semuanya" ucap Leon yang merasa sangat bahagia atas kabar kehamilan istrinya.
__ADS_1
"Apa bisa kami melihat antin dok?" tanya mama Desi.
"silahkan tuan nyonya, tapi ingat jangan sampai menganggu tidurnya" ucap dokter Hendrik.
"kalau begitu saya permisi dulu" ucap Hendrik yang akan siap berlalu pergi namun langkahnya terhenti karna Leon memanggilnya.
"Hendrik" panggil Leon membuat Hendrik menoleh.
"ada apa tuan Leon?" tanya Hendrik ketika Leon menghampirinya.
"ini hadiah buat Lo, karna sudah memberikan kabar gembira sekaligus ucapan terimakasih sudah memeriksa istriku" ucap Leon.
"kau ini omong kosong macam apa itu, itukan sudah menjadi tugasku Leon, dan ini sangat berlebihan sekali" ucap Hendrik karna Leon memberikan salah satu kunci mobil sport koleksinya sebagai tanda terimakasihnya pada Hendrik. (Benar-benar sultan ya si Leon, author jadi iri olehnya๐๐)
"tidak, itu sangat tidak berlebihan sekali, itu adalah sebagai hadiah kamu juga yang sudah banyak membantu keluarga kami" ucap Leon, memang benar-benar berubah ya si Leon, tadinya marah-marah tidak jelas, sekarang dia berubah dalam waktu yang tak lama dia kembali hangat dan juga ceria. Mungkin karna kehamilan istrinya yang membuat Leon terlihat bahagia.
"baiklah aku terima, karna aku senang melayani keluarga Anggara, apalagi kita adalah sahabat sejak kecil ya meskipun kamu tidak begitu menganggapku dulu" ucap Hendrik.
"sialan lu"
"hahaha baiklah aku pergi dulu, karna ad banyak pasien yang masuk siang tadi dan akan aku periksa kembali" ucap dokter Hendrik dan berlalu pergi.
Leon kembali memasuki kamarnya dan terlihat semua anggota keluarga masih betah berada di dalam masih melihat keadaan antin yang tak kunjung sadar. Semua yang ada di dalam, tak bisa menggambarkan kebahagiaan mereka yang sebentar lagi akan hadir sosok pelengkap keluarga yaitu baby yang masih belum beberapa bulan di dalam perut antin.
Leon juga sangat senang karna tak lama lagi dia akan menjadi seorang ayah dan akan memiliki malaikat kecil yang hadir di tengah-tengah keluarga Anggara.
Bersambung....
__ADS_1
Eettss.....jangan lupa selalu tekan like, komen dan votenya biar author kembali semangat karna dukungan para readers tercinta ๐๐