
Jam 4 kemudian, Tuan Ferdinan dan juga istrinya sudah bersiap. Mereka di antar oleh supir pribadi milik keluarga Anggara menuju bandara, karna setengah jam lagi pesawat akan terbang menuju kota yang akan mereka tuju.
"ma, pa kalian hati-hati disana ya, dan selama perjalanan jangan lupa makan dan jaga selalu kesehatan kalian" ucap antin mengingatkan kedua mertuanya.
"iya sayang terimakasih kamu sudah mengingatkan" ucap mama Yola.
"ini ma, antin sudah siapkan bekal buat perjalanan mama dan papa. Pasti kalian nanti di jalan merasa lapar, makanya antin siapkan bekal untuk kalian berdua, dan ini tolong mama berikan buat mama Desi dan juga papa Rizal ya" ucap antin.
"waahh terimakasih sayang, kamu baik sekali. Iya nanti mama kasih mama papa kamu bekal ini" ucap mama Yola senang karna antin membuatkan makanan untuk dirinya dan kedua besannya.
"tapi apa kamu tidak kecapean sayang, kamu kan buat makannnya agak banyak?" tanya mama Yola.
"tidak apa-apa ma, sekali skali kan tidak apa-apa" ujar antin.
"baiklah ma, pa kalian hati-hati di jalan ya" antin mencium tangan kedua mertuanya yang akan segera melakukan perjalanan.
"Leon jaga menantu mama di rumah ya, kamu jangan lupa selalu temani dia. Buat menantu mama Agar tidak pernah bosan tinggal di rumah" ucap mama Yola dan di angguki Leon.
"ya ma"
Keduanya telah menaiki mobil dan segera meninggalkan halaman rumah mereka dengan mama Yola yang melambaikan tangan ke arah menantu dan anaknya.
Setelah keduanya sudah pergi, antin dan Leon kembali ke kamarnya karna masih gelap dan kembali berbaring di ranjang.
"sayang, aku mau" ucap manja leon.
"mas aku ngantuk"
"tapi aku mau ini" tangan nakal Leon kemana-mana membuat antin hanya bisa pasrah dengan suaminya. Hingga akhirnya antin memberikan pelayanan untuk suaminya itu sampai pagi hari dan membuat antin begitu kelelahan akibat ulah suaminya.
****
"sayang pagi ini aku ada meeting di kantor dengan klien ku yang beberapa waktu lalu mengajukan kerja sama denganku, dan mungkin aku akan makan siang di restoran dekat kantor nanti. Kamu tidak usah nunggu aku ya, kamu makan aja di rumah sendiri. Nanti jam 4 aku pulang" ucap Leon pada istrinya.
"iya mas, tapi kamu harus selalu makan tepat waktu ya, aku tidak mau kamu sakit" ucap antin.
"iya sayang, aku ingat kok. Ya udah aku berangkat dulu ya" Leon mencium kening istrinya dan tak lupa mencium perut istrinya yang sudah mulai terlihat membuncit itu.
"Daddy pergi ngantor dulu ya nak, ingat jangan nakal di dalam perut mommy ya" Leon mengelus lembut perut istrinya.
"hati-hati mas"
"iya sayang, oh ya ingat nanti kalau ada orang asing datang ke rumah dan mengetuk pintu, kamu jangan langsung buka, atau percaya dengan ucapannya. Kamu harus telpon aku dulu ya" ucap Leon pada istrinya.
__ADS_1
"iya mas" ucap antin merasa takut atas ucapan suaminya.
"jaga dirimu baik-baik di rumah" Leon mengambil tas kantor dan segera berangkat setelah berpamitan pada istrinya.
Setelah Leon memasuki mobil, Leon mengambil ponselnya yang berada di saku jasnya dan menekan nomor untuk menghubungi seseorang.
" ingat jaga istriku, jika sampai kalian lengah, kalian akan mati di tanganku" ucap dingin Leon membuat seseorang di sebrang sana merinding dan ketakutan di kala mendengar ucapan bosnya yang dingin dan menusuk.
"baik bos"
****
Siang itu Antin tengah menonton tv di ruang keluarga sendirian. Bik Sri dan buk Mina pergi ke toko bahan kue untuk membeli beberapa bahan kue, sedangkan bik Imah tengah menyapu di dapur.
Ketenangan antin terganggu oleh suara bel berbunyi di luar rumah. Antin bersiap akan membukakan pintu, namun seketika ia mengingat ucapan suaminya.
"non, biar bibi saja yang buka," pinta bik Imah.
"tunggu bik jangan langsung buka," ucap antin membuat langkah bik Imah terhenti.
"ada apa non?" tanya bik Imah.
"tunggu" antin segera mengambil ponsel dan menghubungi suaminya. Namun beberapa kali panggilan, Leon tak kunjung mengangkatnya, membuat antin cemas.
"aduh bagaimana ini, apa aku harus membuka pintunya" ucap antin cemas.
"baiklah bik, bibi buka saja pintunya tapi sebelum itu bibi harus lihat lewat jendela dulu" ucap antin.
"baik non"
Bik Imah pun segera menuju ke pintu untuk membuka pintu namun sebelum itu, bik Imah sempat melihat ke arah jendela seperti yang di bilang antin tadi.
"siapa bik?" tanya antin.
"sepertinya seorang kurir non" ucap bik Imah.
"kurir?" gumam antin.
"ya sudah buka saja bik" bik Imah pun membuka pintu dan melihat seorang kurir yang tengah membawa sesuatu berbentuk kotak yang tidak terlalu besar sepertinya itu adalah paketan.
Namun antin heran melihat ada sebuah paketan dari seorang kurir sedangkan dia tak pernah merasa memesan sesuatu.
"mohon tanda tangan disini" ujar kurir itu
__ADS_1
"saya tidak pernah pesan sesuatu mas" ucap antin.
"mohon maaf mbak, tapi ini di berikan ke alamat ini atas nama Antintia Vanessa. Dan saya hanya menjalankan tugas saja mbak" ucap kurir itu.
"ya sudah sini penanya" ucap antin dan segera tanda tangan.
"baik buk saya permisi dan terimakasih" kurir itu setelah berterimakasih langsung pergi.
Bik Imah yang tengah di landa kebingungan segera membawa masuk kotak itu dan di letakkan di meja ruang tamu.
Dalam beberapa menit kemudian kembali suara bel itu berbunyi dan tentu kembali membuat antin takut.
"bik siapa lagi sih" ucap antin ketakutan.
"apa saya buka saja non?" tanya bik Imah.
"iya" Antin sungguh kesal dengan suaminya itu, dalam keadaan seperti ini Leon tak mengangkat panggilannya yang sudah ke sekian kalinya.
Bik Imah membuka pintu pelan dan tak berapa lama seseorang menerobos masuk dan menodongkan pisau pada bik imah membuat bik Imah ketakutan namun tak bisa berbuat apa-apa.
Antin yang melihat itu menjadi begitu ketakutan. Antin mencoba menghubungi kembali suaminya namun tetap sama, tak ada jawaban sama sekali. Bahkan orang-orang itu berjumlah 4 orang tentu membuat antin cemas.
"siapa kalian, mau apa Klian kesini" ucap antin dengan suara bergetar ketakutan.
"siapa kami tidak perlu kamu tau, yang terpenting kamu harus ikut menghadap bos kami" ucap salah satu orang itu.
"ku mohon jangan bawa nona kami" ucap bik Imah takut.
"diam atau aku bunuh kamu" bentak orang itu dan bik Imah kembali diam.
"saya datang kesini untuk meminta kamu ikut dengan kami menghadap tuan kami dengan baik-baik. Jadi jangan paksa kami berbuat kekerasan" ucap salah satu dari empat orang asing itu.
"non jangan mau non" ucap bik imah dan sekali lagi di bentak oleh pria yang menodongkan pisau padanya.
"sekali lagi kamu bicara saya tidak akan segan untuk memotong lehermu" ucap pria itu dan bik Imah hanya bisa memejamkan matanya.
"baiklah, saya ikut Kalian tapi jangan pernah menyentuh dia secuil pun" ucap antin.
"baik" pria yang memegang bik Imah tadi melepaskan bik Imah dan menyuruh ketiga pria itu membawa antin.
"nona saya mohon jangan pergi non" ucap bik Imah menangis melihat istri majikannya di bawa pergi oleh orang asing yang tidak mereka kenal.
Antin sudah di bawa masuk oleh ketiga pria itu ke dalam mobil mereka dan segera membawa Antin pergi. Beruntung bik Imah menghafal nomor DR kendaraan mobil yang di tumpangi orang itu dan mencatatnya segera mengambil buku catatan di kamarnya.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan votenya ya😁