
Antin menunggu jawaban dari kedua majikannya, dia berharap agar kedua suami istri itu mau menerima permintaanya.
"Antin, apa kamu marah pada Leon atas sikapnya beberap hari yang lalu?" tanya Yola.
"Saya tidak marah nyonya, saya sudah terbiasa di tindas oleh siapapun. Tapi ini demi kenyamanan tuan Leon, saya akan mengundurkan diri menjadi pelayan pribadinya, tapi aku hanya ingin fokus pada pekerjaanku seperti membereskan rumah dan juga memasak dan lain-lain" jelas antin.
"Oh aku kira kamu akan pergi dari rumah ini" ucap tuan ferdinan.
"Baiklah jika itu yang menurutmu baik dan lebih nyaman. Tapi apa kesepakatan kita yang kemarin itu, apa kamu terima?" tanya tuan Ferdinan.
"Kalau itu, saya tidak tau tuan, saya tidak bisa mengatakan sanggup karna suami saya belum me_" Antin mengehentikan ucapannya karna di potong oleh tuan Ferdinan.
"Kamu tenang saja, semua itu adalah urusan saya, kamu hanya tinggal menyanggupi ucapan ku saja" tutur tuan Ferdinan.
****
Di keluarga Surya, Gilang berada di ruang kerjanya sore itu, dia memutuskan untuk mengacuhkan keluarganya Yang sngat penuh drama itu.
Gilang memilih bergelut dengan laptopnya melihat penghasilan restoran miliknya. Untuk menghindar dari semua saudara-saudaranya dan juga orang tuanya, dia selalu menghabiskan waktu di ruang kerjanya.
Setelah lelah dengan kegiatannya, Gilang memejamkan matanya sejenak dan membuka jendela yang mengarah langsung pada pemandangan hijau nan jernih di sore itu.
Gilang melipat kedua tangannya di dada membayangkan wajah sosok wanita yang selama ini menghilang dan tak tau dia pergi kemana. Entah mengapa hatinya berdesir mengingat perlakuan nya terhadap istrinya.
"Aku harus mencari kemana lagi, apa aku harus pergi ke kampungnya, tapi Rio bilang, dia tidak ada disana" batin Gilang.
"Aaarrkkhhh, kenapa aku bodoh sekali sudah membuatnya pergi" batinnya lagi.
tok tok tok
"Masuk"
__ADS_1
Pintu terbuka Rio datang menghadap bosnya. Rio memgang sebuah amplop berisikan sesuatu.
"Bos" ucap Rio sembari menyodorkan amplop yang ada di tangannya.
"Apa ini?" tanya Gilang.
"Ini adalah surat dari pengadilan?"
Gilang membuka surat itu dan membelalakkan matanya." tidak ini tidak mungkin, aku tidak akan menceraikan antin" ucap Gilang.
"Tapi semua bukti-bukti yang mereka berikan cukup kuat dan itu semua adalah kenyataan. Bagaimana kamu akan menghindar" jelas Rio sang asisten.
"Aku tidak peduli, aku ingin bertemu dengan istriku. Dimana dia Rio dimana?" tanya Gilang pada Rio.
"Percuma, dia tidak ingin bertemu denganmu lagi. Semua bukti perselingkuhan dan segala kejahatan yang selama ini kamu perbuat sudah menjadi bukti terkuat dari mereka" jelas Rio lagi.
"Dimana dia Rio aku mohon beritahu aku" ucap Gilang memelas.
"Cepat katakan Dimana dia Rio" Gilang menarik kerah kemeja Rio.
"Dia tinggal di keluarga Anggara tepatnya di keluarga Ferdinan Anggara." jelas Rio memberitahukan keberadaan antin dengan terpaksa.
Gilang tanpa berpikir panjang segera berlari menuruni anak tangga dan berjalan keluar. Semua anggota keluarga Gilang yang melihatnya menjadi heran melihat Gilang yang tak seperti biasa.
"Ada apa dengannya, kenapa raut wajahnya seperti itu?" tanya Vivi.
"Gilang, kau mau kemana nak?" mama Merry memanggil namun tak di hiraukan oleh Gilang.
Terlihat Rio yang juga ikutan keluar dari ruangan kerja Gilang. Rio mengejar Gilang karna takut akan terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
"Rio ada apa dengan Gilang, dia mau pergi kemana?" tanya Mira.
__ADS_1
Rio tidak tau harus berkata apa pada anggota keluarga Gilang, jika mengungkapkan kebenarannya, pasti mereka akan marah besar karna Gilang akan mencari antin ke kediaman tuan Anggara.
"Dia ada sedikit masalah di restoran Tante, baiklah saya permisi"
"Rio--" Mira akan bertanya namun Rio sudah berlalu pergi.
"Ada Maslah apa sih Gilang di restoran, kenapa dia sepertinya sangat buru-buru sekali?" tanya Vivi.
"Entahlah, mam juga juga tidak tau" ucap mama Merry.
****
Gilang melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju kediaman tuan Ferdianan. Rio yang berada di sampingnya di buat sangat panik karna lajunya mobil yang mereka tumpangi sungguh di luar batas.
"Apa kau akan membunuhku, jika kau ingin mati, kau sendiri saja jangan mengajakku" ujar Rio namun tak di gubris oleh Gilang.
Dalam 35 menit akhirnya sudah sampai di rumah tuan Ferdinan. Rumah mewah dengan interior berwarna putih. Halaman yang luas dengan air mancur yang menghiasi rumah mewah itu.
Gilang dengan cepat memasuki area halaman rumah tuan Ferdinan. Setelah memarkirkan mobilnya,Gilang segera keluar dan membunyikan bel pintu.
Gilang sudah sangat Frustasi ketika pintu tak kunjung terbuka.
Namun dalam tiga kali ketukan pintu, akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan wanita yang sudah beberapa bulan ini meninggalkannya.
"Kamu,apa yang kamu lakukan disini?" tanya seorang perempuan yang beberapa hari ini mengisi hatinya.
Gilang terpana dan membeku saat suara lembut yang biasa dia dengar kembali menyapanya.
Bersambung...
Ayo kak, jangan cuma di baca sesekali tempelin jempolnya biar otor jadi semangat lagi
__ADS_1