
Yola masih saja memegang foto itu dan membayangkan masa lalunya dulu bersama sang adik.
***
Di keluarga Surya, suasana menegangkan antata Gilang dan juga para saudara perempuannya.
"Kak, kenapa Kalian tidak pernah bisa menghargai istri kak Bima. Apa yang membuat kalian membencinya" ucap Gilang.
"Gilang, mereka hanyalah sampah, sama seperti mantan istri kamu si antin itu. Wanita kampung yang hanya bisa memeras harta kita" ucap vivi.
"Lalu apa salah jika aku mencintainya" Gilang menatap jengkel kelakuan kakaknya.
"Dengar ya Gilang, dia itu tidak selevel dengan kita semua. Dia itu adalah wanita kampungan yang tidak jelas darimana bibit bebet bobot nya" ucap Mira marah pada adiknya.
"Apa yang membuat kalian membenci antin dan juga kak raya istri kak Bima" Gilang menatap datar kedua saudaranya.
"Siapa suruh mereka tak selevel dengan kita. Kita itu hidup mewah dan bergelimang harta, trus mereka hanya gelandangan saja yang di angkat oleh kalian saja" ucap mama Merry menyahut.
"Oke baiklah jika itu yang membuat kalian membenci antin" Gilang berjalan ke arah dapur dan mengobrak abrik seisi dapur. Mengambil beras, segala sayuran dan semua buah-buahan di kulkas dan di lemparkan semua."
"Bik Ijah, cepat bawa semua ini ke mobil" ucap Gilang.
"Buat apa tuan?" tanya bik Inah takut-takut.
"Cepat lakukan" titah Gilang dingin membuat bik inaq melakukan perintah tuan mudanya.
"Apa yang akan kamu lakukan Gilang, apa kamu akan membuat mama dan papa kamu kelaparan" terik mama Merry yang melihat Gilang mengobrak abrik seisi dapur.
"Gilang apa yang kau lakukan" tanya Vivi namun Gilang tetap tak menyahut.
"Mulai hari ini, kalian memasak segala uang dan emas yang kalian punya, jangan sesekali memakan nasi dan sayur serta buah-buahan. Karna ini semua berasal dari kampung, bukan tumbuh dari bibit uang" ucap gilang membawa semua bahan makanan yang berada di dapur.
Kini yang tertinggal hanyalah segala peralatan dapur dan bahan yang lainnya seperti minyak goreng dan bumbu-bumbu masak lainnya.
Semuanya terdiam mencerna ucapan Gilang, mereka tidaklah berani untuk mencegah Gilang, merek takut melihat saat Gilang marah.
"ma, bagaimana ini, apa kita akan makan menggunakan uang. Apa kita juga akan memasak uang" tanya Vivi.
"Aaarrhh, sudah aku tidak mau mendengarkan apapun. Mama pusing, tinggalkan mama sendiri. Kalian pulang lah kerumah masing-masing" ucap mama Merry stres dengan apa yang terjadi hari ini.
***
Hari sudah siang, antin memasak untuk makan siang, karna Bu Mina pulang kampung kemari sore, karna anaknya sakit. Jadinya dia yang memasak dan mengerjakan seluruh pekerjaan.
Setelah berperang dengan alat masak, antin menyiapkan makan siang untuk majikannya.
Yola yang kebetulan baru keluar dari kamarnya menuju ke dapur. Melihat antin yang tengah menyajikan makan siang, diapun bergegas membantunya.
"Siang nyonya, apa nyonya akan makan sekarang?" tanya antin.
__ADS_1
"Tunggu suamiku pulang dulu, dia ada keperluan di luar bersama kliennya" ujar Yola.
Antin melihat Yola, dan mendengar ucapan Yola sangat lembut. Yola memang memiliki sifat yang berbeda dari adiknya Mayang. Yola adalah wanita yang lemah lembut. Berbeda dengan Mayang, dia adalah wanita yang keras kepala dan selalu ingin menang sendiri.
"emmm antin, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Yola.
"Apa itu nyonya?"
"Apa disini, kamu tidak punya keluarga, atau saudara?" tanya Yola.
"itu dia nya, aku sempat berfikir ingin mencari keluarga aku disini. Tapi aku tidak tau harus mencari kemana" tutur antin.
"Apa kedua orang tuamu masih ada disini?" tanya nyonya Yola.
"Aku tidak tau nyonya, tapi ibu angkat aku di kampung memberitahuku dulu kalau kedua orang tuaku masih hidup dan berada di kota ini. Tapi aku tidak tau mereka ada di mana" ucap antin sedih.
"Maaf ya, jika aku bertanya padamu seperti itu" Yola kasihan pada antin.
"Tidak apa-apa nyonya, antin tidak keberatan" ujar antin.
"Antin, kamu jangan sedih, nanti aku akan membantumu mencari keluargamu ya" ucap Yola.
"Terimakasih nyonya" ucap antin.
***
Leon hanya cuek saja dan berlalu memasuki kamarnya.
Antin yang baru saja menyelesaikan bersih-bersih di dapur. Melihat Leon yang tanpa sepatah kata memasuki kamarnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Dih, biasa aja kali, dia pikir siapa. Bisa-bisanya ada manusia kaku seperti itu di muka bumi ini" gerutu antin yang melihat Leon yang hanya cuek saja.
"dih apa-apaan aku ini" gumamnya lagi.
Antin setelah melakukan semua pekerjaannya, dia langsung menaiki tangga dan berjalan ke kamar Leon.
Tok tok tok
Antin mengetuk pintu kamar Leon dengan sedikit takut karna masih trauma dengan perlakuan Leon beberapa hari yang lalu.
ceklek
Pintu terbuka dan Leon melihat antin yang berdiri di depan pintu.
"Ada apa?" tanya Leon.
"Saya hanya ingin mengambil baju kotor tuan, saya akan mencucinya" ucap antin.
Leon pun membiarkan antin masuk. Antin segera mencari pakaian kotor milik Leon di keranjang cucian.
__ADS_1
Setelah mendapatkannya, antin segera keluar. Namun saat sebelum membuka pintu, Leon memanggilnya.
"Hey kamu, buatkan teh lemon" ucap Leon.
"Sa,saya tuan?"
"iya kamu, siapa lagi mahluk hidup di kamar ini selain kamu" ucap Leon.
"maaf tuan, baiklah saya akan buatkan" ucap antin dan segera keluar.
Sesampainya di luar, antin menghembuskan nafasnya yang sudah terasa tercekat karna berhadapan dengan leon.
"Dasar pria menyebalkan, kenapa ada mahluk hidup yang seperti itu ya, sudah kaku, judes lagi" ucap antin.
***
Tuan Ferdinan sedang berada di sebuah cafe Dekat dengan kantornya. Ada sebuah pertemuan penting dengan rekan kerjanya di cafe itu.
"Selamat siang pak Ferdinan, anda apa kabar tuan, sudah lama kita tidak bertemu" ucap pria paruh baya yang sebagai rekan kerja tuan Ferdinan.
"kabarku baik tuan Rizal. iya ya, kita sudah lama tidak bertemu. Dan kau terlihat masih muda saja tuan" ujar tuan Ferdinan.
"Hahah, kau ini bisa saja. Kau juga sama, masih muda saja" jelas tuan Rizal
"Ada apa tuan, kenapa kau mau bertemu denganku di sela-sela kesibukanmu?" tanya tuan Ferdinan.
"Iya nih, saya akhir-akhir ini banyak memikirkan sesuatu. Setiap malam saya tidak bisa tidur memikirkan keadaan putriku yang sudah beberapa bulan ini menghilang tanpa kabar" ucap tuan Rizal
"Siapa? Tania?" tanya tuan Ferdinan.
"Bukan, ada putri sulung ku yang dulu aku titipkan di kampung saat Desi melahirkan disana" ujar pak Rizal
"Oh, tuan punya anak yang lain juga, kok saya tidak pernah melihatnya?" ucap tuan Ferdianan.
"Waktu itu, saat Desi melahirkan, kami meninggalkan anak ku itu pada pak Ahmad untuk merawatnya, kami juga sering mengirimkan dana untuk keperluannya. Tapi setelah pak Ahmad dan Bu Minah meninggal, kami hanya bisa mengawasi anak ku itu dengan bantuan bawahanku. Dan lama-lama kini kami kehilangan jejak" ucap pak Rizal
"Apa yang membuat kamu meninggalkan anak kamu pada orang lain?" tanya tuan Ferdinan.
"Maaf tuan Ferdianan, ceritanya sangat panjang dan saya tidak bisa menceritakannya" tutur tuan Rizal
"baiklah tidak apa-apa" tuan Ferdinan merasa ada yang ganjil dalam ucapan tuan Rizal tadi, namun dia tak ingin bertanya terlalu banyak.
Bersambung....
jangan lupa selalu tekan like kak, mampir di cerita keduaku ini ya. Dan jangan bosan-bosan biar author lebih semangat lagi buat nulisnya.
I Love you all 😘🥰
"Terimakasih"
__ADS_1