Jangan Sakiti Aku

Jangan Sakiti Aku
Dendam yang mendalam


__ADS_3

Sejak itulah Leon dan David tak pernah bertemu dan memutuskan kontak masing-masing. David banyak menyimpan dendam dengan Leon, sedangkan Leon telah lama memikirkan cara untuk mendamaikan hubungan mereka, Leon sebenarnya tidak marah atas perlakuan David waktu itu, tapi dia merasa kecewa atas sikap David yang hanya melihat kejadian itu tanpa tau yang sebenarnya. Itulah yang membuat Leon kecewa.


Leon dan boy sudah berada dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang sangat tidak pernah berubah semenjak kepergian Leon dulu. Tempat itu menyimpan banyak kenangan dengan David sang sahabat yang sudah lama memusuhinya, Leon akan berusaha apapun yang terjadi nanti untuk bisa memperbaiki hubungan mereka.


Boy sambil mengecek keadaan rumah utama kelurga Anggara lewat I pad miliknya dan menyusuri apa saja yang di lakukan antin dan juga Aksa. Boy memperlihatkan I pad miliknya pada Leon, tentu membuat senyumnya seketika kembali saat melihat wajah wanita cantik dengan perut buncitnya tengah memandang wajahnya juga.


"Hay sayang, apa kabarmu disana, maaf aku belum sempat menelpon mu" ucap Leon.


"aku baik mas, aku juga mengerti kau lagi sibuk" ucap antin.


"jaga diri kamu baik-baik ya dan jaga juga bayi kita" ucap Leon.


"iya sayang"


"baiklah nanti aku telpon lagi, aku sedang berada di perjalanan " ucapnya.


"baiklah Hati-hati di jalan mas"


Setelah mereka memutuskan panggilan mereka, boy kembali mengambil I pad miliknya di tangan Leon. Leon terlihat ceria setelah menerima panggilan dari istrinya, begitulah obat rindu Leon ketika mendengar suara halus dan lembut istrinya membuat energi dalam dirinya kembali semangat dan bangkit.


Setelah mereka sudah sampai di sebuah cafe besar di tengah-tengah kota metropolitan, yang begitu banyak para masyarakat yang berlalu lalang melewati setiap bangunan-bangunan megah di tempat itu. Dan di samping bangunan yang cukup tinggi terlihat seperti sebuah ruko besar disana. Leon masuk ke dalam cafe kecil itu yang bisa di sebut cafe kenangan bersama David.


Entah apa yang membuat mereka harus kembali ke ingatan masa lalu yang kadang indah dan berakhir kandas dalam hubungan mereka.


Tanpa menunggu, Leon masuk dan di ikuti boy di belakang nya, iya memutar netranya menyapu ke seluruh cafe dimana orang yang selama ini iya rindukan meski dalam diam itu berada. Bahkan Antin tidak tau bagaimana tentang masa lalu suaminya itu.


Hingga akhirnya Leon menemukan seseorang yang sangat dia kenal tengah duduk dengan beberapa pria berbaju hitam di belakangnya sepertinya itu adalah bawahannya. Leon menghampiri David di meja yang di tempati nya meski tak di kursi yang menjadi tempat mereka dulu, karna cafe itu memang sudah banyak berubah sekarang menjadi cafe yang terlihat sedikit besar dari sebelumnya.


"selamat pagi menjelang siang tun Davidson Wiguna Moyes" ucap boy sopan.

__ADS_1


David tak menyahut hanya suara deheman saja membuat suasana menjadi canggung.


"silahkan duduk tuan-tuan" ucap Jhon sang asisten dari David.


Leon dan boy di persilahkan duduk berhadapan dan merekapun duduk dengan terlihat tenang.


"baik apa bisa kita mulai membahas kerja sama kita tuan David?" tanya boy sebisa mungkin mencairkan suasana. Karena suasana yang sudah mulai berubah menjadi dingin sedingin batu es kutub Utara.


"Hem" begitulah jawaban David.


"sialan mereka bahkan tidak lepas saling memandang begitu, sungguh sial nasib ku bertemu mereka" jeritan boy dalam hati.


"ada apa ini, apa mereka akan terus begini sampai selesai" ucap Jhon yang melihat bosnya dengan Leon yang saling memandang seolah ingin saling menerkam.


Boy beberapa kali harus bertanya dan mengulang kembali setiap apa yang menjadi pembahasannya, bahkan Jhon dan boy tak jarang mengusap keringat dingin dari kening mereka yang melihat perang dingin di depannya.


"bagaiman tuan David, apakah anda setuju dengan kerja sama kita?" tanya boy memberanikan diri.


Sedangkan Leon sebisa mungkin hanya bersikap tenang, tanpa ada yang tau apa yang menjadi isi kepala pria itu.


"baiklah sampai disini pertemuan kita, silahkan anda tandatangani kontrak kerja kita tuan" ucap boy masih dengan sopan. Jika boleh, boy akan menendang kedua manusia tembok ini ke lautan, namun sayang boy tak bisa dan tak berani. Bahkan memandang mata keduanya saja dia ketakutan apalagi harus benar seperti yang di inginkannya.


"bisa kita bicara?" Leon yang sedari tadi terdiam kini angkat bicara.


"aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan tuan Leon," ucap David dengan mata tajamnya menatap Leon.


"tapi ini penting tuan" ucap Leon sebisa mungkin tenang tak terpancing oleh ucapan David.


David memberikan kode tangannya agar mereka yang ada di sana meninggalkannya dengan Leon. Semua nya sudah keluar dan meninggalkan keduanya yang ingin membahas sesuatu yang mungkin pribadi.

__ADS_1


Setelah mereka keluar, Leon dan David kembali di landa keheningan hingga Leon mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya berupa flashdisk.


"jika tidak ada yang perlu di bicarakan, saya pergi" ucap David.


"tidak perlu ini tidak akan lama. Apa kau tidak ingin tau yang sebenarnya?" tanya Leon.


"kau ingin membuat aku harus percaya padamu pria brengsek"


"kau tak perlu mengatakan itu, karna di matamu aku hanyalah pria brengsek seperti yang kamu bilang" ucap Leon.


"ya kau tetap pria brengsek dan akan tetap seperti itu,"


"aku juga tidak punya banyak waktu, aku hanya ingin kau melihat ini, dan setelah itu kau bisa berasumsi apapun tentang ku" tegas Leon menaruh sebuah flashdisk di depan David dan segera beranjak dari duduknya.


"apa maksudmu?" tanya David lagi.


"aku hanya berusaha memperbaiki semuanya, itupun jika kau tak dendam denganku" ucap Leon.


"jika aku tidak mau?" tanya David membuat Leon mengepalkan tangannya.


"jika kau tidak mau, tidak Masalah" Leon menunduk lebih dekat menatap manik biru pria di depannya yang seperti silet itu.


"karna kau akan hancur dengan sendirinya" ucap Leon memperbaiki jasnya dan memutar tubuhnya ke arah pintu dan meninggalkan David dengan mata dan wajahnya yang sudah memerah menahan amarah yang sudah siap meledak.


Sebenarnya Leon tak ada niat untuk membahas masa lalu itu, namun karna kesalahpahaman yang selama ini akan Leon coba untuk perbaiki, tapi apa ini mereka bahkan tidak bisa bicara dengan hati bahkan dendam di wajah pria berkulit putih itu sudah sangat mendalam. Leon juga menjadi sangat bingung dalam situasi ini. Niatnya yang akan memperbaiki hubungannya, namun malah melihat kobaran api di mata David membuatnya harus melakukan cara yang lain untuk mencoba memperbaiki hubungan mereka berdua tanpa harus saling menyakiti. Hanya butuh kesabaran terbesar bagi Leon untuk mengembalikan keadaan yang sebenarnya. Leon juga akan menyelidiki apa yang membuat seorang David membencinya begitu dalam.


Jika David memang marah atau kecewa dengan kesalahpahaman, mungkin saja David tidak akan dendam terlalu besar pada Leon hanya karna seorang wanita. Tapi mungkin adakah seseorang di balik semuanya.


Bersambung......

__ADS_1


Yang masih setia dengan Carita aku, terimakasih mungkin karna cobaan yang datang melanda dari otakku yang sering konslet hingga novel ini terbengkalai...tetap budayakan like, dan sedikit komentar anda votenya juga ya biar novel ini kembali bersinar😁


__ADS_2