
"*jika orang yang selama ini mencintaimu sebagai sahabat, lihatlah bagaimana ketulusannya.
"lihatlah bagaimana perlakuannya "
"jangan karna mereka menyenangkan, kita bisa lupa apa saja yang bisa mereka lakukan untuk kita kedepannya"
"lebih baik berteman pada diri sendiri, karna hanya diri sendirilah yang akan selalu setia dalam suka dan duka kita*"
*
*
*
*
Hari sudah siang, Leon sudah berada di apartemennya dan kembali berkutat dengan laptop di atas meja kerja di kamar apartemennya. Wajahnya begitu serius menatap laptop di depannya.
Boy datang menemui bosnya itu dan membawakan makan siang untuk bosnya.
"Leon, sebentar lagi akan ada pertemuan mu dengan kolega bisnis kita kau bersiaplah, ini aku bawa makan siang untukmu" ucap boy.
"HM" memang Leon masih dalam mode menyebalkan menurut boy.
"boy, selidiki siap saja yang berada di balik Davidson Wiguna Moyes selama ini" ucap Leon.
"bai-" boy menggantungkan ucapannya
"jangan lupa, berikan beberapa Mafioso untuk tetap mengawasi David"
"baiklah" dengan langkah gusar boy mengiyakan permintaan bosnya.
****
Di rumah keluarga Anggara, antin tengah menatap kolam ikan di belakang rumah, dan melihat ada banyak ikan besar yang menjadi peliharaan mama yola.
"huhh apa kalian tidak bosan berada di kolam ini terus, apa kalian juga tidak merasa bosan berenang-renang terus" aku saja baru beberapa hari di tinggal sekarang sudah bosan" ucap antin berbicara dengan ikan di kolam itu.
Aksa datang dari belakang dan menghampiri mommy nya." mom, apa ikan ini bisa bicala?" tanya bocah kecil itu.
__ADS_1
"bisa dong sayang, tapi kita tidak bisa mendengarnya" ucap antin.
"mom, apa mommy merindukan Daddy?" tanya Aksa.
"iya sayang, mommy rindu sama Daddy" ucap Antin berkaca-kaca.
"mom jangan sedih, bagaiman kalau kita main di dalam kamar Aksa" ajak Aksa pada mommy nya.
" mom lagi tidak mod main sayang, mom mau istirahat aja ya di kamar, kamu main sama Mbak Sri aja ya" ucapnya mengelus lembut kepala Aksa dan Aksa pun mengangguk.
Antin pergi ke kamarnya, dia hanya menatap ponselnya berkali-kali namun tak ada pesan ataupun panggilan dari suaminya. Dia begitu sangat merindukan suaminya yang sudah dua hari ini meninggalkannya.
"mas kau sibuk sekali ya, sampai kamu belum juga menelpon" gumamnya dan berbaring di ranjang lalu tak berapa lama Antin pun tertidur.
***
Di luar kamar antin, mama Desi dan anak bungsunya datang. Mereka datang untuk melihat keadaan antin yang semenjak kepergian suaminya, dia jarang sekali keluar dari kamar.
"ma, boleh gak Rezi naik ke kamar Kak antin?" tanya gadis itu pada mama Yola yang sedang bersamanya duduk di ruang tamu.
"boleh, tapi mungkin kakak kamu lagi tidur" ucap mama Yola.
"Rezi nggak ganggu kakak kok, Rezi cuman mau liat dia aja, siapa tau dia jadi terhibur gitu kalau aku datang" ucap Rezi.
Rezi pun segera meninggalkan mereka dan pergi ke lantai dua dimana letak kamar kakaknya.
Rezi mengambil sesuatu di dalam tasnya dan menemukan jepitan rambut dan membuka pintu kamar kakaknya dengan menggunakan jepitan rambut.
Setelah berhasil membuka pintu, Rezi masuk dan melihat kakaknya yang tertidur pulas di atas ranjang.
"dih bahkan kau semenyedih kan ini saat Leon meninggalkanmu. Kau itu tidak pantas untuk kak Leon, Leon hanya lebih pantas menjadi milikku, karna kau hanya wanita kampung saja dan aku berdoa semoga kau bukanlah saudara kandungku yang sebenarnya" ucap Rezi sinis pada kakaknya yang terlihat masih tidur pulas.
Ternyata di balik sikap Rezi yang pencicilan dan bersifat anak kecil itu hanyalah sebuah kebohongan. Rezi begitu terobsesi pada Leon dan akan memanfaatkan kepergian Leon untuk membuat antin di benci keluarganya.
"hey bangun" ucapnya menggoyangkan pundak antin.
Antin mengerjapkan matanya dan menetralkan penglihatnnya, antin melihat gadis yang menjadi adiknya itu berada di depannya dengan wajah yang tak biasa.
"Rezi kapan kau datang sayang" antin mencoba bangun dan mendekati adiknya namun Rezi menjauh dan menatap antin tajam.
__ADS_1
"ada apa denganmu?" tanya antin.
"kau sebagai ratu disini ya, ternyata orang kampung bisa juga ya menjadi ratu. Apa mungkin karna kau tidak tau diri karna di pungut oleh keluarga ini" ucap Rezi membuat antin mengernyit bingung atas ucapan adiknya itu.
"apa maksudmu Rezi?" tanya antin.
"dengar ya, aku akan merebut Leon darimu wanita bodoh, kau hanya orang miskin yang tiba-tiba naik pangkat." ucap Rezi membuat antin terkejut oleh ucapan adiknya.
"apa yang kau bicarakan Rezi, kita ini bersaudara kau tidak boleh bicara seperti itu"
"jijik gw bersaudara dengan kamu yang sok polos dan sok baik pada keluarga, padahal kamu itu hanyalah sampah" ucap Rezi lagi membuat antin terhenyak mendengar ucapan saudara kandungnya itu.
"pantes saja kamu di buang oleh mama papa, karna kmu memang tak pantas berada di keluarga kami" ucap Rezi membuat antin semakin tak mengerti dengan ucapan adiknya itu.
"kita itu sama-sama bersaudara Rezi, kita satu darah dengan mama dan papa. Jangan bicara seperti itu ya sayang" antin berusaha lembut pada adiknya itu, dan dia juga terkejut karna mengetahui sifat Rezi yang sebenarnya.
"bermimpi punya saudara sepertiku, aku tidak Sudi" kemudian Rezi merusak dan menghancurkan meja rias Antin membuat seisi meja rias itu banyak yang pecah dan berserekan hingga menimbulkan bunyi yang besar hingga terdengar sampai ruang tamu, tempat mama Yola dan mama Desi berada.
"Yola, apa yang terjadi dengan mereka,?" tanya mama Desi.
"aku juga tidak tau, ayo kita lihat"
Kedua wanita paruh baya itu segera berlari ke kamar antin. Sedangkan di dalam Rezi berpura-pura menangis seolah menenangkan antin dengan sengaja tangannya iya lukai dengan guci mahal yang iya pecahkan tadi. Dan setelah tangannya terluka, Rezi memberikan pecahan guci itu ke tangan antin dan antin yang bingung menerima pecahan guci itu hingga datanglah kedua wanita paruh baya itu dan melihat apa yang terjadi.
"ada apa nak, apa yang terjadi denganmu" mama Yola melihat Rezi yang menangis dan antin yang masih mematung di tempat dengan pecahan guci di tangannya.
Mama Desi memeluk anak bungsunya itu dan melihat darah segar di tangan anaknya. Mama Desi begitu panik melihat darah di tangan anaknya.
"ya ampun Rezi ada apa dengan tanganmu nak?" tanya mama Desi.
Namun seolah Desi tak menjawab ucapan mamanya.
"ma kak antin melukai tanganku, saat aku mencoba menenangkannya tadi. Dia terus saja meracau dan merindukan Kaka Leon, aku mencoba menghiburnya, tapi dia memecahkan semua barang-barang itu dan mengambil pecahan guci itu dan melukai tanganku"
"mungkin karna kakak kesal denganku dan melukai tanganku" ucapnya menangis dengan air mata buaya nya.
"ma aku tidak pernah melakukan apa-apa padanya ma, dia yang-" belum sempat ucapannya selesai antin di tampar oleh mama desi
plak..
__ADS_1
Bersambung....
tetap tinggalkan jejak kalian ya, dan komennya