
Pagi itu suasana sarapan keluarga Anggara terasa sangat tidak bisa di nikmati dengan sempurna, karna kedatangan seseorang yang selama ini sudah menghancurkan kehidupan seorang Leon dan juga tuan Ferdinan.
Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya terdiam di kursi makan mereka. Leon juga kehilangan selera sarapannya dan segera menuju kamarnya.
Begitu juga dengan tuan Ferdinan yang tidak bisa menikmati sarapannya dan segera pergi dari tempat duduknya dan menuju kamar.
Di meja makan hanya tersisa antin dan juga mama Yola yang juga ikut terdiam namun dia tidak memilih untuk pergi.
Antin menghampiri mama mertuanya yang terlihat sedih dan juga tak bersemangat.
"ma, mama kenapa, pasti gara-gara mama mas Leon tadi ya mama jadi diam begini" ujarnya.
"tidak sayang, mama baik-baik saja, mama hanya merasa takut jika suatu hari nanti, Leon akan meninggalkan mama dan kembali pada mama kandungnya" ucap mama Yola berbohong.
Mama Yola sebenarnya lebih takut jika suaminya kembali mencintai adiknya, Mayang. Karna tuan Ferdianan masih sangat menyimpan rasa pada Mayang, namun Mama Yola selalu bersikap tegar seolah-olah tidak tau perasaan suaminya.
"beneran ma?" tanya antin memastikan.
"iya sayang, mama tidak bohong" jelasnya.
"ma, mas Leon itu orangnya baik, dia pasti tidak akan kembali pada mama Mayang, mama kan sudah dengar tadi, kalau mas Leon itu membela mama dari ucapan mama Mayang tadi" ucap antin mengembalikan mood mama mertuanya.
"sayang, kamu baik sekali nak. Nanti jika sesuatu terjadi di kehidupan rumah tangga kamu di masa depan, mama mohon padamu nak, tetaplah mencintai dan menyayangi Leon anak mama ya, mama sangat menaruh harapan besar padamu" ujar mama Yola.
"iya ma, antin akan berusaha untuk yang terbaik buat rumah tangga antin" ujarnya dan memeluk mama Yola.
Merekapun saling berpelukan.
****
Di dalam kamar Leon termenung di atas balkon kamar, mengingat semua bayangan masa lalu yang kembali teringat setelah hari-harinya yang dia lalui dengan baik saat sudah menemukan pendamping hidupnya.
Leon menjadi tidak bersemangat mendengar dan melihat ibu kandungnya yang dulu tidak ada perubahan sama sekali. Leon menjadi tidak berguna telah mengharapkan seorang ibu yang kembali memeluknya.
Ibu yang selama ini dia rindukan justru kembali membuat luka di hatinya dan menciptakan penyesalan yang baru tumbuh dalam Didi seorang Leon. Dia menyesal telah merindukan seorang ibu yang sama sekali belum pernah meneberikannya kasih sayang semenjak dia lahir.
Tanpa dia sadari antin menghampirinya dan berdiri di samping Leon yang belum menyadari keberadaannya.
__ADS_1
"apa kamu masih sedih?" tanya antin pada suaminya, barulah Leon menyadari jika antin sudah berada di dekatnya.
"kapan kamu datang" ucap Leon kembali bertanya.
"baru saja" ujar antin.
"ada apa?" tanya Leon.
"kau belum menjawab pertanyaan ku tadi" jelasnya.
"yang mana?" tanya Leon.
"Haiiss belum apa-apa kau sudah pikun, aku tanya kamu masih sedih atau tidak" ucap antin.
"iya, tentu aku merasa sangat sedih, karna selama ini aku mengharapkan orang yang tidak pernah menyayangiku selama hidupku" ucap Leon " bahkan ketika kami bertemu, aku kira semua perkataan rindunya denganku itu adalah benar, tapi ternyata salah, dia tidak rindu dan tidak senang dengan melihatku" jelasnya.
Antin mendengarkan ucapan suaminya dan mengusap lembut punggung dan tangan suaminya untuk memberikan kekuatan untuk suaminya.
"jalan cerita kehidupan kita sama, tapi sedikit berbeda, meskipun kamu tidak mendapatkan kasih sayang dari ibu Mayang, tapi papa Ferdinan dan juga mama Yola yang memberikanmu semuanya. Berbeda denganku, waktu aku masih bayi, aku di tinggalkan oleh kedua orang tuaku di desa dan di titipkan pada mantan pembantunya di sana" ucap antin membuat Leon menoleh menatap istrinya.
Antin menceritakan bagaiman dia datang ke kota hingga pernikahan serta kisah pembalasan mantan mertuanya hingga dia kabur dari rumah. Semua antin ceritakan hingga tidak ada yang terlewatkan.
"kenapa kamu tidak bilang kalau kamu dari desa?" tanya Leon.
"karna kamu tidak bertanya" ungkapnya.
"trus selama ini, setelah kedua orang tua angkat mu meninggal, siapa yang mengurus mu?" tanya Leon.
" Aku bekerja dan bekerja di ladang demi ladang untuk mencari sesuap nasi, aku bukanlah wanita yang bergengsi, aku mensyukuri kehidupanku yang seperti itu, aku setiap hari bekerja dan tak mengenal lelah, bahkan sampai banyak sekali luka-luka di tanganku" jelasnya.
"lalu kenapa kamu dengan mudahnya mau menerima Gilang sebagai istrinya?" tanya Leon.
"karna dia berbicara tulus padaku dan juga pak Jamal selaku tempat ku bekerja, ya karna aku percaya dan mengambil kesempatan saat itu, ya mungkin aku bisa untuk mencari orang tuaku di kota, aku menerima semua permintaannya. Tapi ternyata dia memanfaatkan aku dan menghinaku" jelas antin.
"lalu kenapa kamu bisa pergi dari rumah itu?" tanya Leon lagi.
"meskipun aku adalah anak desa, tapi tak membuatku menjadi orang lemah, aku melawan mereka. Bicara bukan hanya menggunakan mulut, tapi juga otak" ujarnya membuat Leon tersenyum dan memeluk istrinya.
__ADS_1
"aku suka dengan kemampuanmu, aku tidak salah menikah dengan wanita sepertimu, meskipun kamu berstatus janda tapi masih bersegel" canda Leon membuat antin menatapnya garang.
" apa kamu bilang, jadi kalau aku tidak bersegel, kamu akan merasa salah besar menikahiku" ucap antin pura-pura marah.
"bukan begitu, tapi...."
"tapi apa hah" antin melotot membuat Leon mengambil ancang-ancang untuk kabur dan...
"kaburrr" Leon berlarian dan antin yang mengejarnya dari belakang.
"hey tunggu, awas ya kamu" teriak antin.
Mama Yola yang kebetulan lewat disana, melihat kelakuan antin dan juga Leon membuatnya tersenyum dan lega karna Leon tidak sedih setelah pertemuannya dengan ibu kandungnya.
*****
Tuan Ferdinan masih saja memikirkan mantan istrinya itu. Dia berada di ruang kerjanya. Tuan Ferdianan mengambil fotonya bersama Mayang dan juga foto pernikahannya bersama Yola.
Dua wanita itu yang mengisi harinya dengan cara yang berbeda. Dulu saat pernikahannya dengan Mayang, dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari Mayang, bahkan dia selalu di bentak dan di caci maki oleh Mayang, karna memang dulu keadan nya tidak seperti sekarang yang sudah tidak miskin lagi.
Sekarang, setelah menikah dengan Yola, dia mendapatkan semuanya dan pernikahannya selama ini dengan Yola, Yola tidak pernah mengeluh akan keadaannya dulu sebelum hidupnya berubah menjadi memiliki segalanya.
"maaf Yola, aku membuatmu sedih dan tidak memikirkan perasaanmu. Aku terlalu gila oleh perempuan ini" ujarnya dan membanting foto Mayang hingga pecah membuat mama Yola masuk ke dalam ruang kerja suaminya.
"pa, papa kenapa. Astaga kenapa papa memecahkan foto Mayang" ucapnya menatap suaminya yang menatapnya dalam.
"pa jawab, papa ada apa?"
bruk
Papa Ferdinan memeluk istrinya dan menangis haru di dalam pelukan istrinya.
"maafkan papa ma, selama ini papa selalu mengharapkan orang lain di dalam hidup papa. Papa terlalu buta sampai-sampai tidak pernah melihat mama selama ini. " ungkapnya.
"udah pa, mama mengerti apa yang papa rasakan, terimakasih pa, papa sudah mengungkapkan itu semua sama mama, mama sangat senang mendengarnya sekarang" ucap mama Yola.
Bersambung....
__ADS_1