
Berulang kali terdengar suara hembusan nafas pria paruh baya itu menunggu kabar dari menantunya. Tuan ferdinan begitu terpukul atas kejadian yang menimpa menantunya.
Selang beberapa menit, suara langkah kaki cepat mengalihkan pandangan kedua pasangan paruh baya itu dan senyum terukir jelas di wajah sedikit keriput mereka.
"syukurlah kau datang pada saat yang tepat, ayo segera kita beri tahu kepada suster" tuan Ferdinan mengajak tuan Rizal menemui suster yang merawat antin.
"tunggu, pokoknya antin harus membayar mahal darah yang mengalir dari tubuhnya nanti, aku tidak mau tau" ucap mama Desi namun kedua pria itu tak memperdulikan ucapan Desi.
Mama Yola hanya menggeleng heran mendengar ucapan besannya itu.
"kau tau, siapa yang tengah terbaring lemah berada di sini?" tanya mama Yola dan mama Desi hanya menanggapinya dengan cuek.
"dia adalah darah daging kalian, dia adalah anak kandung kalian. Bahkan kau tidak tau diri mengucapkan kata-kata itu dengan mulut pedasmu" ucap mama Yola.
"siapa suruh dia itu melawanku, sekarang ini akan menjadi hutang salam hidupnya, dan semua itu tidak gratis" ucap Desi.
"terserah apa katamu, aku heran ya baru kali ini melihat orang tua yang dengan teganya menjadikan darah sebagai hutang pada anaknya sendiri, aku merasa kasihan karna menantu ku yang baik hati selama ini harus berhubungan dengan orang yang tidak tau diri" ucap pedas mama Yola membuat hati Desi sedikit sakit mendengar ucapan mama Yola.
__ADS_1
"kau bisa bayangkan tidak, secara anak kesayangan kita menderita dan di siksa oleh kakaknya sendiri apa kau tidak akan marah dan apa kau juga akan diam saja" ucap Desi sedikit meninggi.
"ya kau memang benar, aku juga akan marah seperti yang kau katakan, tapi aku tidak sepertimu, yang hanya pilih kasih pada anak-anak ku, aku akan memperlakukan hal yang lebih istimewa untuk mereka, dan aku tidak akan membedakan mana anak kesayanganku, semuanya adalah kesayanganku" mama yola berucap dengan penuh amarah mengingat menantu kesayangannya harus di caci maki dan di campakkan oleh kedua orang tuanya yang selama ini membuangnya.
" dan aku tidak yakin hari itu Rezi terluka karna antin, mungkin itu hanya ulah anak kesayanganmu itu" mama Yola berucap
"kau jangan pernah menyalahkan Rezi"
"terserah"
Hati Desi sedikit terenyuh mendengar ucapan besannya itu, dalam hatinya merasa ada yang mengganjal dengan ucapan mama Yola, dia sedikit bersalah pada anak sulungnya yang iya perlakukan kejam semenjak hari itu.
****
Sudah 2 jam menunggu, kursi tunggu depan ruangan UGD namun tak ada sedikitpun perkembangan dari dalam kamar antin. Setelah melakukan transfusi darah untuk Antin, tuan Rizal sedikit pusing, diapun duduk di dekat istrinya.
"pa, kenapa papa sampai berkorban begini pada anak tidak tau diri itu sih, mama sudah bilang bagimana dengan kondisi papa nanti, dan sekarang benar kondisi papa sekarang begini" cerocos mama Desi membuat suaminya menjadi sangat pusing.
__ADS_1
"kamu bisa diam tidak, apa kmu sudah buta siapa yang terbaring lemah di dalam sana, dan tengah berjuang dengan hidupnya, apa kau sudah buta" ucap tuan Rizal penuh amarah.
"ingat pa, dia itu telah menyakiti Rezi pa, dia sama sekali tidak mengikuti jejak keluarga kita, dia itu hanya wanita kampung yang sekarang sudah menjadi ratu di keluarga Anggara ingat itu pa, dia tidak memiliki apa-apa" ucap nyonya Desi membuat suaminya kembali tersulut emosi dan geram karna menghina darah dagingnya sendiri.
"jika kamu tak menganggap antin adalah anak kandungmu, itu tidak perlu, karna sudah cukup anakku menderita hidup di desa terpencil dan kehidupan yang keras di sana. Aku Sudah banyak menyesal mengingat dia harus aku titipkan pada orang asing, dan selama itu pula kita tidak pernah memberikan kasih sayang padanya" tuan Rizal menangis mengingat kisah hidup dan perjuangan anak sulungnya.
Mama Desi terdiam mendengar ucapan suaminya, entah mengapa dirinya juga tak bisa berucap sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Lidahnya kelu saat dirinya dan keluarga menerima antin kembali dengan tangan terbuka, dan setelah antin kembali bertemu dengan mereka, mereka menykitinya hanya karna sebuah kesalahan yang belum jelas.
"pa_"
"cukup, jika kau tidak akan pernah menganggapnya anakmu, pergilah, sudah cukup kau membuatnya sakit, dan dalam keadaan seperti ini ku masih saja menyalahkannya" tuan Rizal tak ingin menatap istrinya.
"pa, mama_"
"cukup Desi, sekarang pulang lah, antin masih membutuhkan aku disini, jika kau ingin pulang, pulanglah aku akan menemani anakku saat dia seperti ini" tuan Rizal sudah cukup lelah menghadapi istrinya yang keras kepala. Dia merasakan penyesalan yang mendalam melihat kondisi antin yang seperti ini.
Mama Desi sempat meragukan jika antin adalah anak sulungnya, namun semua itu tak lepas dari usaha tuan Rizal memastikan jika antin benar-benar anak kandung mereka, namun mama Desi terlalu percaya dengan ucapan Rezi yang mencuci otak kedua orang tuanya. Namun tuan Rizal diam-diam melakukan tes DNA pada antin dan juga dirinya, dan ternyata hasilnya memang benar mereka adalah anak dan ayah kandung. Sebab itulah tuan Rizal mempercayai jika antin adalah benar-benar anaknya.
__ADS_1
Selama ini pula Rezi selalu menghasut mama Desi agar membenci antin, dan tentu dengan segala cara untuk meyakinkan bahwa antin bukanlah saudaranya. Entah apa yang di pikirkan gadis itu dan entah apa maksudnya.
Bersambung.......