
Tuan Rizal dan mam Desi tentu sangat malu atas sikapnya pada antin beberapa hari yang lalu, hingga melupakan bagaimana bisa mereka bertemu dengan anak yang selama ini mereka cari, mama yola begitu menyesali dirinya yang begitu bodoh terlalu percaya pada anak bungsunya. Dan sekarang anak bungsunya harus berada di tangan leon.
Sudah 5 hari antin di rawat di rumah sakit, dan selama itu juga mama Desi dan mama Yola menjaga antin. Mereka bergantian saat Leon pergi ke kantor dan merekalah yang menjaga antin di rumah sakit. Melihat keadaan antin yang perlahan sudah pulih, dokter mengijinkan antin untuk pulang dan antin merasa sangat senang mendengar jika dirinya akan pulang.
Antin merasa bosan harus berbaring di rumah sakit, dan dia sangat merindukan suasana rumahnya.
Leon setelah menyelesaikan beberapa berkas menumpuk di atas meja kerjanya, dia berencana akan langsung ke rumah sakit dan membawa istrinya pulang. Namun sebelum itu dia sudah menghubungi boy untuk tak menghantarnya pulang, karna dia sendiri yang akan menyetir mobil.
Leon merenggangkan ototnya dan hendak berdiri, tapi suara ketukan pintu terdengar dari luar, membuatnya kembali terduduk.
tok tok tok
"masuk"
Masuklah seorang wanita sebagai pelayan, dengan nampan berisi teh di tangan wanita itu. Leon mengernyit dahi melihat wanita itu masuk dan dengan heran Leon tak pernah memesan teh ataupun minuman lainnya. Leon memprhatikan wanita di hadapannya itu berpakaian kurang bahan, dengan rambut tergerai lalu tak lupa dua gunung kembar yang hampir keluar dari sarangnya membuat Leon malas melihat wanita di depannya itu.
"selamat siang tuan Leon, saya ingin mengantarkan minuman untuk anda" ucap wanita itu dengan suara yang di buat selembut mungkin.
"tapi saya tidak pernah memesan minuman" ucap datar Leon.
"ah tidak apa tuan, karna saya ingin berterimakasih sudah mau memperkerjakan saya di perusahaan tuan Leon ini" ucap wanita itu.
"cepat keluar dari ruangan saya," suara Leon sedingin es membuat wanita itu sedikit menciut.
"hemm bagimana kalau tuan saya pijit, pasti tuan akan merasakan tubuh tuan lebih baik" wanita itu menggerayangi dada Leon tanpa rasa takut dan tanpa tau apa yang akan terjadi dengannya nanti.
__ADS_1
Wanita itu terus saja menelusuri punggung dan dada Leon berharap Leon akan termakan rayuan dan godaan mautnya.
"tua_"
Braak
Wanita itu terpental jauh ke pintu dan meringis merasakan sakit di bagian kepalnya yang terbentur pintu.
"apa yang tuan lakukan hah" wanita itu berdiri dan memegang pisau dan siap di arahkan pada Leon untuk menyerang Leon.
Leon masih dengan santainya duduk di atas kursi kebesarannya menatap wanita itu yang dengan dada naik turun menyimpan amarah karna Leon yang tiba-tiba menyerangnya.
Leon masih dengan kaki di atas kaki satunya lagi untuk menyaksikan sampai Dimana kemampuan dan keberanian wanita di hadapannya itu.
"kau akan mati Leonardo, kau kan mati karna telah berani membunuh adikku" ucap wanita itu.
Leon menyeringai mendengar penuturan wanita itu dan menatapnya sangat tajam.
"apa karna itu kau ingin membunuhku, oh apa kau tidak tau apa yang sudah adikmu lakukan"
Wanita itu terdiam dan mencerna ucapan Leon.
Namun semua itu iya tepis dan menatap Leon tajam. Dengan amarah yang siap untuk membunuh lawannya, wanita itu menyerang Leon dengan pisau tajam yang iya bawa tadi. Namun Leon selalu menangkis wanita itu santai tanpa harus banyak bergerak.
Leon menyeringai lalu membalas wanita itu dengan memukul dada wanita itu hingga wanita itu terpental jauh dan menabrak hingga ke tembok, darah segar keluar dari mulut wanita itu dan terbatuk-batuk.
__ADS_1
Wanita itu meringis kesakitan karna benturan yang kuat dan seluruh tubuhnya seperti remuk akibat benturan itu yang sangat kuat.
Leon tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri, wanita di hadapannya itu sangat membencinya, Leon heran sendiri bagiamana wanita ini bisa masuk ke dalam ruangannya tanpa ada orang yang mencegahnya.
Leon mendekati wanita itu yang sekarang sudah terlihat lemah dan tak berdaya, wanita itu mendongakkan kepalanya menghadap Leon.
"apa kau puas telah membunuh adikku dan setelah ini kau kan membunuhku" ucap wanita itu.
"ya, karna aku tak suka hidup dan juga beberapa orang terpenting ku di ganggu oleh komplotan sampah seperti kalian"
"apa maksudmu?"
"kau ingin tahu?"
Wanita itu terdiam dan menatap Leon dengan penasaran. Leon yang sudah bisa melihat ekspresi wanita itu pun kembali ke arah meja kerjanya dan mengambil sesuatu di dalam laci meja kerjanya. Lalu menghampiri kembali wanita itu dan melemparkan amplop ke arah wanita itu.
"pergi dari sini dan lihatlah apa yang sudah adikmu lakukan di flashdisk yang ada di dalam amplop itu" ucap Leon sembari melipat tangannya di dada.
"bawa pergi wanita ini, jika sampai dia datang ke sini lagi, aku akan memberikan wanita ini sebagai santapan lezat peliharaan ku" Leon tanpa melihat siapa lawan bicaranya. Tentu yang menjadi lawan bicaranya adalah Alex yang terdapat Bluetooth yang di sematkan di daun telinganya.
Sungguh wanita itu sangat menyesal telah melawan seorang Leonardo, dia begitu takut melihat tatapan Leon untuk pertama kalinya. Dia begitu merutuki kebodohannya yang gegabah dalam menghadapi Leon.
Lalu tak berapa lama datanglah beberapa orang untuk membawa wanita itu pergi.
Bersambung........
__ADS_1