
"kita tidak tau rupa bentuk watak orang lain yang sebenarnya, meski mereka adalah sedarah namun tetap tak bisa kita lihat bagiamana rupanya. by: Antin. . . . .
"Desi cukup, kau tak ada hak untuk menampar menantuku, kau juga tidak berhak bermain tangan disini" tegas mama Yola
"kau bahkan lebih percaya pada wanita sialan ini"
"ma antin tidak pernah melakukan itu ma, percaya sama antin. Antin tidak pernah melakukannya sumpah ma" ucap antin memegang pipinya yang memerah akibat tamparan sang mama.
"aku sejak kecil tidak pernah memukul serta membahayakan adikmu, karna dia anak kesayanganku" serkas mama Desi membuat hati antin terenyuh mendengar ucapan mamanya.
"ma aku benar-benar tidak pernah melakukannya, demi apapun" ucap antin berusaha menjelaskan.
"kalau kau menyalahkan adikmu atas semua ini, apa dia sudah tidak waras harus melukai tangannya sendiri begitu pikir mu?" pekik mama Desi dan melotot ke arah antin.
"aku bahkan rela melakukan apapun demi anak kesayanganku ini, jadi siapapun yang berani menyakitinya, dia akan berhadapan denganku, sekalipun kamu antin" ucap mama Desi membuat hati antin bagai di remas dan di tusuk seribu jarum.
"ada apa yang sebenarnya terjadi antin?" tanya mama Yola berusaha untuk tidak terpancing dengan ucapan Desi dan juga Rezi.
"antin tolong jelaskan" tanya mama Yola.
"ma, tadi aku sedang tidur, tiba-tiba Rezi datang dan masuk. Padahal aku sudah kunci pintu, tapi entah bagaimana dia bisa masuk kesini. Antin jug_" belum sempat antin menyelesaikan ucapannya sudah di potong oleh mama Desi.
"cukup, kau mau memfitnah anakku ya, ingat kamu itu hanya wanita kampung dan menjadi gembel sebelumnya, tapi karna kamu memiliki keberuntungan sehingga kamu bisa hidup enak disini" ucap mama Desi membuat antin mengepalkan tangannya.
Sakit, tentu sakit yang di rasakan antin saat tau dirinya hanyalah di pandang rendah oleh keluarganya sendiri. Bahkan mereka tidak menyadari bahwa yang mereka hina itu adalah anak kandungnya sendiri.
"ma, aku juga anak mu, aku juga darah daging mu ma, kenapa berkata seperti itu." ucap antin lirih.
"kau tau, kau memang anak kandungku tapi kau adalah anak pembawa sial yang aku lahirkan dan aku buang demi menghilangkan kesialan di dalam keluarga kami, bahkan setelah kamu lahir dulu, orang tuaku meninggal saat menggendong mu. Ingat itu Antin kau pembawa sial, dan tetap menjadi pembawa sial" teriak mama Desi sedangkan mama Yola tak bisa berbuat apa-apa sebelum melihat bukti yang sebenarnya.
"cukup" teriak antin membuat mama Desi geram dengan teriakan antin.
__ADS_1
"apa yang membuatmu seperti ini Rezi tolong jelaskan apa yang terjadi sebenarnya" ucap antin menyuruh Rezi menjelaskan. Namun perempuan itu hanya diam dan memasang ekspresi sedih yang teramat dalam seakan dirinya yang teraniaya.
"apa yang harus aku jelaskan pada mereka kak, kakak kan yang lebih dulu melukai tanganku, dan kakak mendorongku hingga terjatuh tadi" ucap Rezi tak sesuai harapan Antin.
"tapi kamu yang melakukan ini semua sendiri Rezi, bahkan kau_"
"aku tidak butuh penjelasan sampah darimu anak durhaka, kau hanya sampah dan akan tetap menjadi sampah" sergah mama Desi membuat air mata yang berusaha antin bendung terjatuh seketika.
"ada apa ini?" tanya tuan Ferdinan dan tuan Rizal yang baru datang dan menuju langsung ke kamar karna mama Desi menelpon suaminya untuk segera datang ke rumah keluarga Anggara.
"melihat papa Rizal yang datang, Rezi langsung saja berhamburan memeluk papanya itu dengan tangisan yang di buatnya, air mata buayanya mampu membuat siapapun yang melihat menjadi percaya padanya dan juga mengasihaninya.
"lihat pa, anak tidak tau diri ini pa, dia sudah berani melukai anak kesayangan kita, dia sudah menggoreskan tangan Rezi dengan pecahan guci ini, dan papa tau dia sangat stres karna Leon meninggalkan nya membuatnya melukai adiknya sendiri" tutur mama Desi sembari membelai lembut rambut putri bungsunya yang terlihat tengah tersenyum menyeringai tanpa ada yang tau.
"apa itu benar antin?" tanya tuan Rizal pada antin.
"pa tolong percaya sama antin pa, mana mungkin aku melukai adikku sendiri, antin menyayangi Rezi pa dan semua itu tidak benar" ucap antin.
"bohong pa, dia berusaha mempengaruhi mu agar papa percaya padanya, lihat dia begitu tidak tau malu sekarang karna merasa menjadi nyonya di rumah ini" ucapan mama Desi tentu tak pernah di saring dan terkesan kasar pada anak sulungnya.
"maaf sebelumnya tuan Ferdinan, atas kelakuan istri dan anak saya, saya juga tidak tau ini akan terjadi, jadi saya juga mohon maaf atas kelakuan istri dan anak saya, saya permisi pulang" ucap tuan Rizal dan membawa istri dan anak bungsunya pulang.
"iya tuan saya mengerti,"
Kini tuan Rizal bersama istri dan anaknya sudah berada di luar rumah dan siap menaiki mobilnya yang akan mengantarnya pulang.
"pa, papa kenapa tidak menghukum anak pembawa sial itu sih, mama sangat kesel dengannya" ucap mama Desi geram dengan suaminya.
"ma, mama apa-apaan sih, antin bukan anak pembawa sial yang seperti mama bilang tadi, kamu itu gimana sih, dia juga sedang hali, bagaiman kalau nanti dia kenapa" tukas tuan Ferdinan.
Sedangkan Rezi sedari tadi hanya memainkan kuku-kuku lentiknya setelah membuat keributan, sekarang dia tengah menikmati kemenangannya, dia bahkan diam-diam mengirim pesan grup chat dengan teman-temannya dan akan merayakan kemenangannya di bar yang menjadi tempat favoritnya.
__ADS_1
"sukurin, emang enak. makanya jadi saudara itu jangan terlalu naif, kan sekarang mereka tak ada yang mau percaya padamu wanita bodoh" makinya pada antin saudara kandungnya.
"tinggal selangkah lagi, aku pasti bisa merebut Leon dari wanita itu" gumamnya penuh ambisi.
Entah datang darimana hati yang di miliki seorang Rezi ingin merebut suami dari kakaknya itu, Rezi sebelumnya memang sangat terlihat lugu, dan bersifat seperti kekanak-kanakan. Namun siap sangka ternyata itu hanyalah sebuah sampul yang sebenarnya dalam diri Rezi.
*
*
*
*
Antin termenung di balkon kamarnya sembari mengelus lembut perut buncitnya. Kamar yang semuanya berantakan akibat keributan tadi, kini sudah tertata rapi dan di bersihkan oleh pelayan yang di panggil oleh mama Yola.
Antin kembali merasakan sakit hati yang luar bisa setelah dulu di hianati dan di campakkan oleh mantan suaminya, sekarang dirinya harus di hina dan di maki oleh keluarganya sendiri, hatinya lebih sakit dua kali lipat dari sebelumnya, karna keluarganya sendiri tak mempercayainya dan bahkan menghinanya sebagai pembawa sial dan wanita kampungan, tentu membuat hatinya tak berhenti menangis dan terus saja meratapi nasibnya yang malang itu.
Mama Yola yang sedari tadi melihat keadaan menantunya tentu membuatnya sedih, mama Yola mendekati antin yang masih betah memandang hamparan rumput yang luas dan pohon-pohon tinggi yang di terpa angin di luar rumahnya.
"sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya mama Yola mendekati menantunya.
Antin yang mendengar suara lembut mertuanya pun menoleh dan menghapus air matanya yang masih mengembun.
"mama, kapan mama kesini, maaf antin tidak sadar" antin berusaha mengalihkan pertanyaan mertuanya itu.
"Antin" mama Yola tau kesedihan menantunya itu, dan seakan tau jika antin sedang mengalihkan pertanyaan nya.
"ma, " lirihnya. Mama Yola yang mengerti arti sebuah tatapan kesedihan menantunya tentu merasa sangat iba pada menantunya itu, mama yola memeluk antin dan menenangkan punggung rapuh menantunya. Antin membalas pelukan mertuanya dan terisak disana.
Kesedihannya yang mendalam seolah tersayat ribuan pisau menusuk hatinya. Ucapan-ucapan yang di lontarkan mama Desi masih terngiang-ngiang di ingatannya. Kesedihan dan tangisan antin tentu terdengar sangat pilu, dia tak berhenti menangis di pelukan mertuanya.
__ADS_1
Bersambung.......
Bosan ya dengan ceritanya, kasih like dan komentarnya kk