
Melihat Aditya yang menghindari pertarungan, kedua tetua keluarga Iskandar dan Semaka itu memerintahkan Khodamnya untuk mengejar Aditya. Namun, Banas Pati muncul bersama dengan Bireng.
Banas Pati berubah menjadi raksasa api dan menahan pergerakan keduanya, sementara itu Bireng muncul dihadapan raksasa keluar Iskandar dengan bentuk sangat kecil seukuran kotoran kerbau.
Raksasa keluarga Iskandar tentu saja kebingungan, dikira lawannya kuat, ternyata hanya seukuran kotoran kerbau saja.
Raksasa hijau tersebut berniat menginjak Bireng dengan sangat keras. Namun, tiba-tiba Bireng berubah menjadi sangat besar seumurannya.
Brugg
Raksasa hijau jatuh efek terkejut karena sosok yang akan ia injak berubah menjadi sangat besar. Bireng melompat ke arah Raksasa hijau .
Boommm
Terdengar suara gemuruh yang cukup besar, ketika Bireng menginjak perut raksasa hijau. Kodam baru Aditya itu tampak senang dan menginjak-injak raksasa hijau seperti trampolin saja.
Berbeda dengan Bireng, Banas Pati tampak beradu ketahanan tubuh dengan Raksasa merah milik Pak tua Semaka.
"Hahahaha... sudah lama sekali aku tidak bertarung seperti ini!" Banas Pati tertawa senang, ia kemudian meluapkan apinya dan membakar raksasa merah.
Raksasa Merah tidak kepanasan sama sekali, ia menggunakan darah yang keluar dari tubuhnya sebagai perisai untuk menahan panas yang dilakukan Banas Pati.
Pak tua Iskandar tertegun melihat pertarungan itu. "Seberapa kuat anak itu Semaka, dia mampu memanggil tiga Kodam kuat sekaligus!"
"Entahlah, tampaknya energi spiritual miliknya tidak terbatas sama sekali," jawab Pak tua Semaka tidak berdaya.
Sementara itu terlihat Aditya dengan Cakra sampai di pertarungan. Cakra mengibaskan ekornya dan menghajar Harimau terbang milik Sultan menggunakan ekornya dengan sangat keras.
Bang
__ADS_1
Bola mata Harimau terbang langsung berubah putih, cengkraman giginya langsung terlepas dari Kodam ayah mertuanya.
Brugg
Harimau terbang tersungkur ketanah. Sultan langsung memuntahkan seteguk darah, wajahnya juga tampak sangat pucat karena dia menggunakan terlalu banyak energi spiritual, efek memanggil dua Kodam kuat sekaligus.
Aditya melompat ke arah mertuanya dan Darman yang hanya mengawasi pertarungan itu dari kejauhan.
"Ayah, kamu tidak apa-apa?" tanya Aditya khawatir.
Liam mengangguk. "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit terluka saja," jawabnya yakin.
Aditya mengangguk mengerti. "Sebenarnya apa yang terjadi Ayah?" tanyanya memastikan.
"Entahlah, mereka tiba-tiba menyerang kita, mereka itu keluarga Iskandar dan Semaka musuh sejati kota Bibes!" ucap Liam geram.
Aditya baru menyadari ternyata mereka merupakan orang-orang dari keluarga Iskandar dan Semaka, pantas saja mereka semua menyerang wilayahnya tanpa ragu.
Pria itu mengepalkan tangannya, ia melesat ke arah pertarungan dengan menggunakan ajian Brajamusti nya.
Bang
Bang
Para bawahan keluarga Iskandar terhempas puluhan meter ketika terkena pukulan ajian Brajamusti Aditya, mereka juga langsung tidak sadarkan diri karena pukulan tersebut dipastikan bisa mematahkan tulang dalam tubuh.
Aditya terus membuka ruang untuk mendekat ke arah Sultan dan kedua tetua keluarga terhormat ditanah Java tersebut.
Sultan sementara sedang fokus melihat Pertarungan Khodamnya, ia tidak menyadari kalau Aditya sudah melesat ke arahnya dengan pukulan Brajamusti miliknya.
__ADS_1
Swuzz
Bangg
Arghhh
Bruak
Sultan terhempas puluhan meter hingga ia menabrak sebuah pohon hingga roboh, pria itu memuntahkan seteguk darah kembali.
Aditya tidak tinggal diam, ia kembali melesat ke arah Sultan. Namun, tiba-tiba pak tua Iskandar menahan pukulannya dengan tendangan besi miliknya.
Bang
Aditya terhempas mundur, tapi ia tidak terjatuh sama sekali dan berdiri lagi menatap pria sepuh tersebut.
"Anak muda, lebih baik kita sudahi perselisihan ini, kami berjanji tidak akan mengganggu wilayah mu lagi," ucapnya memberikan saran.
"Setelah kalian yang memulai pertikaian ini dan kalian juga yang menyuruh kami menyudahinya? Apa kamu pikir kamu bodoh setelah apa yang telah kalian lakukan pada kami selama ini!" raung Aditya marah.
Pak tua Semaka datang ke tempat Pak tua Iskandar. "Bagaimana Iskandar?" tanyanya memastikan.
"Tampaknya dia benar-benar penerus Angkara jaya," jawabnya tidak berdaya.
"Aku tidak menyangka setelah ribuan tahun lamanya, kita yang akan bertemu dengan pengurusnya," Pak tua Semaka langsung meluapkan energi spiritualnya.
"Ya, masa tua kita sepertinya akan melihat perubahan besar dari hasil pertarungan ini," Pak tua Iskandar juga melupakan energi spiritualnya.
Aditya yang melihat kedua pria sepuh tersebut tampak sudah sangat serius, ia juga tidak mau kalah dengan mereka.
__ADS_1
Energi spiritual dengan jumlah yang luar biasa banyaknya, mungkin sepuluh kali lipat dari milik kedua pria sepuh tersebut, membaut semua Kodam merinding ketakutan, mereka semua reflek menoleh ke arah Aditya.
Pak tua Iskandar dan Semaka menghela napas berat, mereka sangat yakin tidak akan mampu melawan Aditya yang kekuatannya di luar nalar manusia modern.