
Sosok Hitam Gosong dengan tubuh gempal dan Gemuk membuat Aditya terkejut, dia pikir kalau di rumahnya ada Hantu.
Saat Aditya berteriak, jelas saja Roan dan Rebecca langsung menoleh, seketika mereka juga ikut berteriak.
Juriggg!
Ayah dan Anak tersebut langsung lari tunggang langgang, hanya Aditya yang malah masang kuda-kuda. Namun, anehnya saat Roan dan Rebecca berteriak, sosok tersebut juga ikut berteriak ketakutan dan berlari ke arah Aditya.
"Jurig! Mana Jurignya, Dit?" Glembo berlari ke arah Aditya.
Aditya mengernyitkan dahi, ternyata yang dia sangka Jurig, ternyata Glembo gosong. Aditya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan menepuk jidatnya.
"Hadeh! Kenapa kamu acara menyamar jadi Genderuwo segala sih 'Ndut!" Aditya menghela napas tidak berdaya.
"Siapa yang menyamar jadi Genderuwo? Orang aku baru juga keluar dari kamar." Elak Glembo.
"Lah, itu semua tubuhmu item, bajumu juga compang-camping." Aditya menunjuk baju Glembo.
Glembo menghela napas "Aku tersambar Petir Dit, ini... Ponselnya juga rusak karena tersambar petir." raut wajah Glembo terlihat sangat sendu.
Aditya mau tertawa tapi tidak tega dengan sahabatnya tersebut, jadi dia sebisa mungkin menahan Ketawa, agar sahabatnya tersebut tidak bersedih lagi.
"Ya sudah, nanti aku belikan yang baru lagi, dah sana mandi dulu!" Aditya menyuruh Glembo pergi dari hadapannya.
"Jangan bohong yah Dit." mata Glembo terlihat memelas.
"Iya Gendut! Kapan aku pernah berbohong denganmu?!" ucap Aditya ketus.
"Hehe... Terima kasih Aditya." Glembo langsung segera meninggalkan Aditya, karena sahabatnya tersebut terlihat akan marah padanya.
Aditya menghela napas "dasar lemak berlebih. Hadeh...."
Aditya menyadari kalau sahabatnya tersebut dari dulu tidak pernah memiliki benda kesayangan, karena itulah Glembo selalu mengikuti Aditya.
Aditya yang tahu kalau kehidupannya yang sekarang penuh dengan bahaya, dia sengaja membuat Glembo tidak mengikutinya lagi, dengan cara membuatnya sibuk dengan ponselnya.
Saat Aditya sedang memikirkan sahabatnya itu, Java memberikan sebuah Misi pada Aditya.
__ADS_1
[ Ding ]
Misi Terpicu : Serang Padepokan Macan Kumbang.
Hadiah : 100 Poin kekuatan dan Perubahan seribu wajah Rahwana.
Aditya menghela napas berat, baru saja mau bersantai, sudah dapat sebuah Misi lagi oleh Java System. Tapi Aditya yang sudah bertekad untuk lebih kuat, dia sedikit legowo ketika mendapatkan Misi.
Aditya yang merasa bosan di rumah, dia pergi keluar tanpa mengajak Glembo. Aditya mencari Mobil Rebecca dan Ayahnya, ternyata mereka benar-benar ketakutan saat melihat Glembo gosong.
Aditya jalan-jalan melihat pembangunan yang dia Danai dengan uangnya sendiri. semua perangkat Desa yang merasa malu karena Aditya seolah menampar wajah mereka di depan umum. Mereka turun tangan untuk mengawasi Proyek tersebut.
Setelah Aditya berjalan seratus Meter dari rumahnya, dia melihat para pekerja yang sedang istirahat di sebuah warung.
Aditya menghampiri mereka yang sedang asyik bercanda gurau khas pekerja kasar pada umumnya.
"Wah, kayaknya lagi pada Asyik nih!" tegur Aditya pada mereka.
Sontak saja mereka semua langsung menoleh ke arah Aditya, salah satu dari mereka tersenyum "Iya Mas, kami lagi istirahat." jawabnya ramah.
"Apa aku boleh ikut gabung?" tanya Aditya sopan.
Aditya tersenyum, dia ikut duduk di lantai bersama dengan mereka. Aditya melihat kopi mereka masih setengah gelasan, sebuah rokok kretek khas pekerja kasar ada di depan mereka masing-masing, dan Pring gorengan yang hanya tinggal satu. kebiasaan orang tingkat bawah, kalau gorengan tinggal satu buah di piring pasti gak berani ada yang ngambil.
"Mbak Surti!" Aditya memanggil pemilik warung yang memang dia kenal.
Ibu rumah tangga yang baru memiliki satu anak tersebut langsung keluar dengan memakai celemek, karena dia memang sedang goreng-goreng.
"Iya ada a...." Surti jelas saja terkejut saat melihat Aditya yang sedang duduk bersama para kuli pembangunan jalan, dia langsung tersenyum "Eh... Ada juragan Aditya, ada apa yah, Gan?" Surti berbicara sesopan mungkin.
"Mbak Surti bisa saja, panggil saja aku seperti biasa." Aditya tidak ingin terlihat sombong di hadapan warga Karbal, dia kemudian bertanya" Rokok Matahari enam belas ada mbak?" tanya Aditya pada pemilik warung yang masih mempertahankan senyum manisnya.
"Ada Mas Adit, Mas sekarang ngerokok?" Surti ganti memanggil Aditya dengan sebutan Mas, karena menurutnya tidak pantas kalau memanggil namanya langsung.
"Bukan buat saya Mbak, tapi Buat mereka, tolong ambilkan masing-masing satu bungkus, dan gorengannya tambah sepuas mereka yah. Nanti semua aku yang bayar." jawab Aditya yakin.
Sontak saja para pekerja tersebut terkejut dengan kebaikan Aditya, apa lagi mereka sempat mendengar Aditya di panggil Juragan, mereka berpikir pasti Aditya orang yang di bilang Mandor mereka, agar tidak berani menyinggungnya.
__ADS_1
"Baik Mas!" Surti terlihat bersemangat, karena dagangan-nya di borong Aditya, Walaupun tidak seberapa, tapi yang pasti bakal lebih dari dua ratus ribu, itu semua sangat besar jika di bandingkan warga yang setiap hari belanja.
"M-Mas tidak perlu repot-repot, ka...." orang yang dari awal mengobrol dengan Aditya langsung gugup, karena di depannya ada orang kaya yang membuat mereka bisa mendapatkan pekerjaan. Sebelum dia selesai bicara Aditya memotongnya.
"Tenang saja, itu tidak seberapa, yang penting semangat kerjanya." ucap Aditya sambil menepuk bahu orang tersebut.
Surti dengan tergopoh-gopoh, membawa tujuh bungkus rokok Matahari Enam belas pada para pekerja dan dua piring gorengan penuh.
"Silahkan di nikmati Mas-Mas, jangan khawatir uang mas Aditya Ulermited!" Surti sok-sokan pake bahasa Inggris.
"Unlimited Mbak." pekerja yang tahu sedikit bahasa Inggris meluruskan ucapan Surti.
"Eh... Iya itu Mas, hehehe...."Surti tertawa seperti orang bodoh.
"Sudah, sudah, berapa semuanya? Aku mau jalan lagi." tanya Aditya pada Surti.
"Satu bungkus Rokoknya dua puluh lima ribu, tujuh berarti seratus tujuh puluh lima ribu, di tambah gorengan jadi..." Surti sedang menghitung, tapi Aditya langsung mengeluarkan uang tiga ratus ribu perak dan menyerahkan langsung pada Surti.
"Sisanya, kalo mereka minta tambah kopi atau jajan yang lain kasih saja Mbak. Ya sudah aku permisi dulu." Aditya langsung meninggalkan warung Mbak Surti.
"Terima kasih Juragan!" ucap para pekerja bersamaan.
Aditya hanya mengangkat tangannya tanpa menoleh, dia kembali melanjutkan jalan, untuk melihat Proyek pengairan sawah.
Selepas kepergian Aditya, Para pekerja sangat senang mendapatkan jatah rokok yang enak dari Aditya.
"Gila, baik banget dia!" seru salah satu pekerja yang bergegas membuka bungkus rokoknya.
"Iya, sangat jarang ada orang kaya yang seperti itu. Untung banget kita kerja di sini." jawab orang yang mengobrol dengan Aditya.
Temannya yang lain mengangguk setuju, mereka semua membicarakan Aditya dengan memujinya setinggi langit. Surti pun tidak kalah ikut memuji Aditya juga.
Sementara itu Aditya yang sedang berjalan, dia melihat hasil pekerjaan orang-orang barusan. Menurut Aditya kerjaan mereka cukup rapi, meski mereka bekerja borongan.
Sepanjang jalan dia tersenyum, karena jalan Desa sudah berubah menjadi beton dan hanya tinggal mengaspal saja, agar tidak cepat rusak nantinya.
Tidak berselang lama Aditya sampai di tempat pembuatan irigasi, di sana terlihat Mandor sedang berdebat dengan anak buah Mugimin, yang melarang mereka membuat jalan pengairan di tanah Mugimin.
__ADS_1
Aditya mengerutkan keningnya, dia langsung bergegas menghampiri mereka semua untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa ini!" tegur Aditya pada mereka semua dengan suara lantang.