
Rebecca menyeringai melihat Vivi yang terlihat kalut, dia yakin Vivi berpikir dirinya telah berhubungan badan dengan Aditya.
Rebecca melakukan hal tersebut karena jengkel dengan Vivi yang mengganggu ke intimannya dengan Aditya.
Vivi menatap jengkel Rebecca, dia tidak rela jika Rebecca berhasil mengambil Aditya darinya, padahal dia sudah bersusah payah untuk membuat Aditya jatuh cinta padanya.
"Kenapa di tanya malah diam? Apa hanya itu yang ingin kamu katakan?" tegur Aditya pada Vivi yang terdiam terpaku di depan pintu.
Vivi menghela napas "Dit, apa aku tidak menarik bagimu sama sekali?" tanyanya dengan sendu.
Aditya mengernyitkan dahi "apa maksudmu?"
"Kamu selalu saja berdiam dengan dia, tapi ketika sama aku, kamu sangat cuek, apakah aku begitu hina di matamu?" mata Vivi mulai berkaca-kaca, bulir Nuning seakan siap tumpah kapan saja dari pelupuk matanya.
Aditya semakin bingung dengan wanita Cantik di kampungnya tersebut, dia seolah memaksa dirinya untuk menyukainya.
"Vivi, apa yang kamu katakan sebenarnya? Kita hanyalah teman, apa ada yang salah dengan itu?" ucap Aditya tiba-tiba.
Deg
Seketika air mata Vivi yang tadinya dia tahan, akhirnya jebol juga, bulir bening mengalir di punya dengan deras. Vivi tidak bisa menahan tangis saat Aditya menganggapnya hanya sebagai teman saja.
"Kamu jahat Dit!" Vivi berbalik dan berlari meninggalkan Aditya dan Rebecca.
Rebecca langsung melepaskan rangkulannya, meskipun dia berharap Vivi akan jera. Namun, dia juga tidak bisa melihat Vivi yang begitu terluka dengan perkataan Aditya yang begitu terus terang, karena mau bagaimana pun dia juga seorang wanita.
"Dit, sepertinya kamu salah bicara deh." tegur Rebecca pada Aditya.
"Sudahlah, aku malas membahas ini, aku ingin istirahat." Aditya meninggalkan Rebecca dan langsung merebahkan dirinya ke ranjang.
Rebecca hanya bisa menghela napas, ternyata perkataan Aditya sungguh sangat menyakitkan, walaupun dia tahu kalau Aditya tidak mengerti perasaan wanita, tapi menurut Rebecca Aditya terlalu frontal.
Rebecca menatap tidak berdaya Aditya yang sedang berbaring di ranjangnya, niatnya yang tadi akan menyerahkan mahkotanya, kini dia sedikit berubah pikiran, lebih baik membiarkan Aditya beristirahat terlebih dahulu.
Rebecca menutup Pintu kamar Aditya, dia tidak ingin mengganggu Aditya lagi, dirinya merasa bersalah dengan Vivi.
Sementara itu selepas kepergian Rebecca, Aditya yang sudah sendirian dia memanggil Java.
"Java, apa kamu mendengarku?"
[Ya tuan, saya mendengar anda]
"Cek statusku Java!" perintah Aditya pada Java.
[ Baik tuan!]
Status ]
Koin Emas : 999.999.900.895 keping
Nama : Aditya Nugroho
Umur : 20 tahun
Tinggi : 185 cm.
Masa Otot : 15
Kecerdasan : 15
Kelincahan : 15
Vitalitas :24
__ADS_1
Tubuh Gatotkaca
Dewa Brahma
Seribu Wajah Rahwana
Toko System level 1:
Panah Arjuna (100 poin)
Gada Bima ( 100 poin )
Penyimpanan ruang : Keris Naga Bunting /
Poin Peningkatan : 100 ]
Aditya melihat seratus poin peningkatannya, dia kemudian buka suara "Java! Beli panah Arjuna untukku!"
[ Baik tuan! Mulai membeli panah Arjuna, pembelian berhasil!]
Status ]
Koin Emas : 999.999.900.895 keping
Nama : Aditya Nugroho
Umur : 20 tahun
Tinggi : 185 cm.
Masa Otot : 15
Kecerdasan : 15
Kelincahan : 15
Vitalitas :24
Tubuh Gatotkaca
Dewa Brahma
Seribu Wajah Rahwana
Toko System level 1:
Gada Bima ( 100 poin )
Penyimpanan ruang : Keris Naga Bunting / Panah Arjuna /
Poin Peningkatan : 0 ]
Aditya tanpa menunggu lagi dia mengeluarkan panah Arjuna dari penyimpanan ruang.
Panah dengan warna ke emasan, ada ukiran kata-kata Jawa di seluruh bagian panah. Namun, Aditya bingung karena tidak ada anak panah yang ikut keluar bersamaan dengan Panah tersebut.
"Java! Mana anak panahnya?" tanya Aditya kesal.
[ Tuan, anda tinggal perlu membayangkan anak panah yang akan anda gunakan ketika akan memanah, dengan sendirinya anak panah tersebut akan muncul. ]
Aditya mengangguk mengerti, dia memejamkan matanya, memikirkan anak panah Cakra yang merupakan anak panah dengan kekuatan dahsyat ketika Arjuna dalam tokoh pewayangan menggunakannya.
Benar saja, anak panah tersebut langsung muncul di tangan Aditya, tentu saja Aditya tersenyum senang, karena perkataan Java ada benarnya. Namun, Aditya tidak mungkin mencoba anak panah tersebut, karena kekuatannya sangat menakutkan saat dia mengingat Arjuna dalam tokoh pewayangan menggunakannya.
__ADS_1
"Lebih baik aku simpan saja terlebih dahulu, aku coba nanti sekalian." gumam Aditya lirih.
Baru saja Aditya mau memejamkan matanya untuk istirahat, Java tiba-tiba memberikan pemberitahuan.
[ Ding ]
Misi Terpicu : Bantu Padepokan Macan kumbang, melawan Padepokan Ayam Jantan.
Hadiah : 100 Poin peningkatan dan Kekuatan Rama.
Tentu saja Aditya terkejut dengan pemberitahuan Misi dari Java, pasalnya sudah berapa bulan dia tidak mendapatkan Misi, dan sekarang baru mendapatkan-nya lagi.
"Kebetulan sekali untuk mencoba senjata baruku! Lebih baik aku berangkat sekarang!" Aditya tidak jadi untuk istirahat, dia bergegas ke Padepokan Macan kumbang untuk membantu mereka bertahan dari serangan Padepokan Ayam jantan.
Liam dan Rayana tidak tahu, kalau Gumira sebenarnya membuat mereka berdua lengah untuk melakukan serangan dadakan nantinya.
Untung saja Aditya memiliki Java yang bisa menebak kapan musuh akan bergerak, dengan cara memberikan sebuah misi untuk Aditya.
...***...
Di Padepokan Naga Hitam, Gumira pemimpin Padepokan Ayam Jantan sedang menemui Aji Darma pemimpin Padepokan Naga Hitam.
"Kerja bagus Gumira! Kita lenyapkan orang-orang yang tidak memiliki pendirian! Melawan bocah saja kalah!" Aji Darma tersenyum senang saat Gumira memberikan laporan untuknya.
"Benar sekali Tuan Aji, mereka harus di beri pelajaran, karena berani membelot ke kubu lain." Gumira semakin memanasi situasi.
Aji Darma mengangguk, dia kemudian memanggil dua murid terkuatnya " Wiro, Luyo! Kalian ikut Gumira! Bantu dia menaklukkan Padepokan Macan Kumbang!"
Aji Darma mengutus dua murid terkuatnya, karena dia pikir mereka berdua saja sudah cukup untuk membantu menaklukan padepokan macan kumbang.
"Baik Maha guru!" jawab keduanya yang memang mendengarkan percakapan antara gurunya dan Gumira.
Gumira merasa senang, karena dia akan mendapatkan dua bantuan kuat, dengan begini dia yakin Padepokan Ayam jantan tidak akan kalah dengan Padepokan macan kumbang.
Gumira tidak tahu saja, ada sosok menakutkan yang sedang mengincarnya ketika dia berani menyerang Padepokan macan kumbang.
"Terima kasih, Tuan Aji! Saya akan menaklukkan Padepokan Macan kumbang untuk anda!" Gumira terlihat sangat percaya diri.
Aji Darma mengangguk "Pergilah! Aku mendukung keberhasilan kalian!"
Aji Darma tentu saja percaya dengan dua muridnya, karena murid-muridnya sudah setara kekuatan-nya dengan Liam.
Gumira dan kedua murid Aji Darma pamit undur diri, mereka menuju padepokan Ayam jantan terlebih dahulu untuk melakukan persiapan.
Sementara itu, Liam dan Rayana yang tidak tahu kalau Gumira sebenarnya hanya melihat kerapuhan ke amanan di sana, mereka berdua tidak merasa curiga sama sekali. Padahal seharusnya mereka curiga karena Gumira tidak meminta langsung bertemu dengan Aditya.
Malam harinya di padepokan macan Kumbang.
"Kamu perlu belajar dari Gumira, Liam, dia penuh dengan perhitungan, tahu kapan harus menyerang dan kapan harus mundur." Rayana menasehati murid kesayangan-nya tersebut.
Liam menghela napas "baik guru, saya pasti akan berusaha menjadi lebih baik lagi."
Liam merasa jengkel dengan Gumira, gara-gara dia, dirinya di banding-bandingkan terus dengannya.
Ketika mereka sedang mengobrol santai di aula pertemuan petinggi Padepokan, salah satu bawahan mereka mengantar Aditya yang sudah tiba di sana.
Tentu saja, Liam dan Rayana terkejut saat melihat Aditya, mereka berdua langsung berdiri untuk menyambut Aditya.
"Tuan Aditya!" sapa mereka berdua sopan sambil membungkukkan badan.
"Duduklah, aku mau bicara sesuatu pada kalian!" Aditya langsung duduk bersila di tempat pertemuan tersebut.
"Tuan Aditya, ada apa sebenarnya?" tanya Liam langsung.
__ADS_1
"Padepokan kalian akan di serang!"