Java System

Java System
Salah Orang


__ADS_3

Sintia merasa aneh dengan dirinya sendiri, dia padahal sangat membenci pria yang tidak bisa menjaga tubuhnya sendiri. Namun, sekarang dia malah tertarik dengan pria yang Notabenya dia benci.


Glembo tidak menyadari sama sekali, kalau wanita cantik yang duduk di seberangnya sedang memperhatikan-nya. Dia masih sibuk mengajari adiknya bermain game Moba yang selalu di mainkannya.


"Kak, bilang kak Adit dong, kalau Gali juga mau ponsel seperti kakak, jadi kita nanti bisa maen bersama." ucap Gali yang menginginkan ponsel.


"Huss... kamu ini, gak enak sama kak Adit kalau kita minta-minta terus."tegur Glembo pada adiknya.


Sintia yang mendengar percakapan kakak beradik itu, dia menimpali "mau beli Ponsel sama kakak?"


Sontak saja Glembo dan Gali menoleh, Gali langsung menjawab "kakak serius?" tanyanya penasaran.


Sintia tersenyum, kemudian mengangguk "tentu saja kalau kamu mau." jawabnya ramah.


"Tidak usah Sin. Adikku memang gak sopan, maaf." ucap Glembo tiba-tiba sambil memelototinya Adiknya.


Gali langsung menundukkan kepalanya, dia ketakutan saat kakaknya marah, karena meskipun gemuk seperti itu kalau sedang marah menurutnya sangat menakutkan.


"Gak papa Glen, lagian aku iklas kok" begitulah Cinta, jangan orangnya yang gendut terlihat sempurna, nama Glembo saja di ganti jadi Glen, sungguh Cinta itu buta mungkin memang nyata adanya.


"Bener kak?, Asyik... Aku bakal punya ponsel baru. Ayo kak berangkat!" Gali tidak perduli lagi dengan Glembo. Dia sangat senang ketika Sintia akan membelikannya sebuah Ponsel baru.


Sintia beranjak dari duduknya "Ayo kita berangkat sekarang." ajak Sintia pada Gali.


Gali mengangguk senang, dia bergegas mendekati Sintia yang mengajaknya pergi membeli Ponsel. Tentu saja Glembo tidak tinggal diam, dia bergegas mengikuti mereka berdua.


...***...


Sementara itu di tempat Aditya dan Rebecca, mereka berdua sedang menunggu seseorang di sebuah Kafe dekat dengan Padepokan Kliwung.


Para bawahan Darman yang mengenal Aditya akan selalu menyapanya, membuat Rebecca kebingungan, karena Aditya sekarang banyak yang mengenal.


"Dit, kamu mengenal mereka semua?" tanya Rebecca penasaran.


Aditya menggeleng "aku tidak mengenalnya."


Rebecca mengernyitkan dahi "terus kenapa kamu menyapa mereka juga?"


"Lah, itukan salah satu tata cara bermasyarakat bukan? Kalau aku gak balik menyapa, namanya aku sombong." elak Aditya.


Rebecca manggut-manggut mengerti, karena ucapan Aditya ada benarnya juga, kehidupan bermasyarakat memang harus saling menghormati satu sama lain.


Ketika mereka sedang asyik bercengkrama berdua sambil menunggu kenalan Rebecca yang belum datang juga.

__ADS_1


Di meja lain kebetulan ada Darman yang sedang bersama dengan Marcel, orang yang menyukai Rebecca dan pernah di hajar Aditya sebelumnya.


Marcel yang melihat Aditya dan Rebecca, dia menyunggingkan senyum tipis, dia langsung menegur Darman.


"Pak Darman! Kebetulan sekali orang yang saya suruh beri pelajaran ada di sini, anda langsung habisi saja di sini." ucap Marcel dengan percaya diri.


"Mana orangnya?" tanya Darman mencari orang yang di maksud Marcel. Posisi Aditya yang membelakangi Darman membuat dia tidak mengenali Tuannya tersebut.


"Itu....!" Marcel menunjuk ke arah Aditya.


Darman mengangguk mengerti, dia langsung berdiri dan menghampiri Aditya. Marcel langsung mengikuti Darman dan ingin memprovokasi Aditya tentunya.


Prok, Prok, Prok


"Wah, wah, ternyata dunia ini memang sempit, kita ketemu lagi pecundang!" Marcel datang sambil tepuk tangan.


Darman memasang wajah sangarnya, dia memang seperti itu kalau mendapatkan sebuah misi untuk menghajar seseorang.


Rebecca yang terlebih dahulu menoleh, dia terkejut saat melihat Marcel yang sudah ada di belakang Aditya bersama seseorang yang wajahnya sangar. Tentu saja Rebecca tahu maksud dari Marcel, dia yakin kalau Marcel menyewa seseorang untuk memukuli Aditya.


"Marcel! Apa kamu tidak kapok juga? Seharusnya kamu sadar setelah kejadian saat itu!" bentak Rebecca pada Marcel.


"Sadar? Hahahaha... Rebecca, kalian sekarang ada di wilayah Pak Darman, tidak mungkin pecundang ini bisa lolos lagi dariku!" Marcel terlihat sangat percaya diri karena telah memiliki Darman di sampingnya.


Sontak saja ekspresi wajah Darman langsung berubah menjadi jelek, dia yang tadinya menegapkan badan dan memasang wajah tegas.


Tiba-tiba saja nyalinya langsung menciut, wajahnya juga di tekuk, dia menunduk tidak berani menatap Aditya yang menatapnya dengan malas.


"Pak Darman! Hajar dia!" Marcel berseru dengan percaya diri.


"Mampus kali ini kamu pecundang!" ucap Marcel sambil mundur beberapa langkah.


Namun, Marcel mengerutkan kening, karena Darman tidak mau bergerak sama sekali, dia seolah mematung di tempatnya.


Tentu saja Marcel berseru lagi "tunggu apa lagi Pak Darman! Saya sudah membayar mahal anda! Ayo hajar dia!" raungnya mulai sudah tidak sabar ingin melihat Aditya babak belur.


Aditya menatap Darman dengan seksama, sambil dagunya dia sendirian di kursi "kamu kenal dia Darman?" tanya Aditya dengan suara datar.


Darman langsung menggelengkan kepalanya "Sa-ya tidak mengenalnya tuan!" jawab Darman langsung.


"Haaah!" Marcel melebarkan rahangnya tidak percaya dengan percakapan Aditya dan Darman, apa lagi Darman bilang tidak mengenalnya sama sekali.


Aditya membalik badannya "baguslah kalau tidak mengenalnya, tidak baik berteman dengan orang sepertinya, jauhkan dia dariku, aku malas melihat wajahnya!" ucap Aditya tanpa melihat Darman dan Marcel sama sekali.

__ADS_1


"Baik tuan!" Darman menghela napas, dia menghampiri Marcel.


Bug


Bug


Arghhh


Darman memukul perut Marcel dua kali sehingga dia langsung tersungkur di lantai, tidak sampai di situ, Darman menyeret Marcel keluar dari Kafe agar tidak mengganggu acara Makan Aditya.


Rebecca yang melihat hal tersebut, dia menatap Aditya tidak percaya, ternyata Aditya benar-benar mengenal orang di sekitar sana, pantas saja begitu banyak orang yang menghormatinya.


"Dit, tadi itu kenalanmu?" tanya Rebecca langsung.


"Bisa di bilang seperti itu, dia memang kenalanku." jawab Aditya sambil menyeruput kopinya.


Rebecca semakin penasaran saja dengan sosok Aditya, semakin lama dia mengenalnya, Aditya seolah semakin menunjukkan kekuasaannya, padahal dua bulan lalu ketika dia baru mengenal Aditya, dia terlihat hanya pria miskin biasa, tapi sekarang Aditya di kenal di kota Bibes.


Tidak berselang lama kenalan Rebecca datang, dia tidak lain tidak bukan masih orang Darman, jadi langsung mengenal Aditya.


"Tu-tuan Aditya, anda juga ada di sini?" ucapnya terbata, karena tidak percaya bisa bertemu dengan orang yang paling di takuti Darman.


Rebecca terkejut "Anda mengenal Adit Pak Santoso?"


Santoso mengangguk "di kota Bibes ini, siapa yang tidak mengenal tuan Aditya, Nona Rebecca, beliau adalah pelindung seluruh kota Bibes."


Santoso tidak segan memuji Aditya, dia juga sangat senang karena bisa bertatap muka langsung dengan sosok seperti Aditya.


Santoso langsung duduk "tunggu dulu, apakah klien yang Nona Rebecca bilang itu tuan Aditya?" tanya Santoso menyimpulkan.


Rebecca mengangguk "Anda benar, memang dia orang yang aku maksud kliennya."


"Wah, kebetulan sama sekali kalau begitu, saya siap membantu apapun yang tuan Aditya inginkan." ucapnya dengan penuh percaya diri.


Aditya mengerutkan keningnya "kamu yakin?" tanyanya dingin.


"Tentu saja tuan, asalkan masih dalam lingkup pekerjaan saya, saya akan berusaha semaksimal mungkin!" jawabnya dengan penuh keyakinan.


"Baguslah kalau begitu, urus semua hasil panen kampung Karbal! jangan kasih harga murah, kasih harga sesuai dengan apa yang ada di pasar!" ucap Aditya langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.


Sontak saja Santoso terkejut, dia mengira kalau Aditya tahu kalau dirinya lah yang mempermainkan pasar kota Bibes, yang mengakibatkan harga hasil panen di kampung-kampung menurun drastis.


Santoso berkeringat dingin, dia takut Aditya memberikan hukuman yang berat untuknya.

__ADS_1


__ADS_2