
Berita terbunuhnya Sasongko dan ratusan bawahannya di wilayah mereka sendiri, membuat geger keluarga Iskandar.
Sultan sangat marah anak semata wayangnya yang akan menjadi penerus keluarga Iskandar berikutnya harus tewas mengenaskan di Vilanya sendiri.
"Ayah, kita harus memberikan pelajaran padanya!" raung Sultan di depan peti mati anaknya kepada Pak Tua Iskandar.
Pak Tua Iskandar yang sedang berdiri didepan peti mati Sasongko menjawab. "Kita bahas itu nanti Sultan, kita urus dulu jenazah anakmu," jawabnya datar.
Sultan menatap tidak berdaya anaknya yang terbujur kaku di peti mati, dalam hati ia bersumpah akan membunuh Aditya yang ia yakini pembunuh Sasongko.
Hari itu keluarga Iskandar berkabung, kematian Sasongko membuat keluarga yang selama turun temurun menguasai tanah Java itu merasakan kesedihan yang mendalam.
Seluruh kerabat, relasi bisnis mereka berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa kepada keluarga tersebut, termasuk keluarga Semaka yang menjadi partner mereka semenjak jaman kerajaan Angkara jaya berdiri.
...***...
Meninggalnya Sasongko membuat Aditya kini tidak mendapatkan halangan berarti ketika memulai proyek besarnya di kota Bibes. Ia menggunakan kesempatan tersebut untuk lekas membangun perusahaan yang besar agar bisa bersaing dengan keluarga Iskandar.
"Tuan, ada beberapa perusahaan di kota tetangga yang sudah resmi menjadi milik kita, apakah nama mereka juga harus di ganti?" tanya Remon ketika sedang meninjau proyek pembangunan berbagai penunjang ekonomi kota Bibes bersama Aditya.
"Sepertinya itu ide bagus, tapi aku juga mau mengganti nama perusahaan induk kita menjadi Java Jaya Grup, dengan nama baru itu aku harap perusahaan ini akan semakin berkembang pesat!" ungkap Aditya.
__ADS_1
Remon mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Baik tuan, saya nanti akan mengurus semuanya bersama dengan firma hukum yang telah bekerjasama dengan perusahaan kita," jawabnya mantap.
"Bagus, aku percaya padamu Remon," Aditya menepuk bahu asistennya itu dan melanjutkan meninjau tempat lainnya.
Aditya menggunakan kesempatan terbunuhnya Sasongko untuk memperluas wilayah kekuasaannya, karena ia yakin keluarga Iskandar tidak akan mengganggunya untuk beberapa waktu di masa berkabung mereka.
Bahkan Aditya bergegas mulai mencengkram wilayah sekitar kota Bibes. Kota Vigal, dan Sindang yang berbatasan langsung dengan Kota Bibes langsung ia masuki.
Kecepatan pergerakan Aditya dalam merangkul warga sekitarnya membuat Remon sampai geleng-geleng kepala, pasalnya ia sangat mudah sekali mendapatkan kepercayaan dari mereka semua, di tambah sekarang kota-kota sekitar juga mau bekerja sama dengannya.
Semua itu sebenarnya tidak terlepas dari kemampuan Dewa Brahma yang di milikinya, otak Aditya sudahlah sangat cerdas, karena itulah ia bisa dengan mudah mengambil hati para warga kota sekitar dan para pemilik perusahaan.
Hari berganti hari terus berlalu, wilayah kekuasaan Aditya mulai bertambah lebar, proyek-proyek nya juga mulai terlihat pembangunannya.
Jalanan yang tadinya rusak, kini semuanya mulai di perbaiki, gedung induk Java jaya Grup juga mulai terlihat bentuknya, di tambah bangunan-bangunan lain yang akan menjadi penopang Java jaya Grup.
Pabrik-pabrik mulai di bangun, dari pabrik pembuatan batu bata, tempat pengolahan hasil bumi kota Bibes, hingga Pabrik yang bekerja sama dengan perusahaan luar negri.
Bisa dikatakan sepuluh tahun kedepan, kampung Karbal akan menjadi kampung ramai, karena banyaknya industri di sana, tentu Aditya juga tidak lupa menerapkan beberapa kebijakan, agar pribumi di sana tidak tersisihkan.
...***...
__ADS_1
"Sayang, ini nama-nama perusahaan yang dikatakan Ayah mau bekerja sama dengan kita," ucap Rebecca menunjukkan laptopnya kepada Aditya.
Aditya tampak membaca semua informasi yang diberikan Rebecca kepadanya, ia tampak serius menatap layar laptop, membuat Rebecca tersenyum simpul menatapnya.
Rebecca jelas masih ingat dimana ia pertama kali bertemu dengan Aditya. Pria itu begitu lugu dan pengetahuannya tentang dunia sangatlah minim, bisa dikatakan bodoh juga, akan tetapi suaminya itu kini telah menjelma menjadi salah satu sosok yang menakutkan di kalangan pebisnis.
"Hanya ada tiga perusahaan yang memenuhi standar ku, menurut data yang aku lihat di sini, kamu nanti bilang ke Ayah, kalau tiga perusahaan ini layak untuk bekerjasama dengan kita, sementara sisanya aku ingin melihat apa yang bisa mereka tawarkan agar bisa saling menguntungkan," ucapnya yakin.
Rebecca mengangguk mengerti. "Baik sayang, aku akan langsung memberitahu Ayah," jawabnya sambil tersenyum.
"Dit, kenapa kamu tidak membuat wisata juga di kampung ini, bukannya tempat ini sangat bagus untuk di jadikan wisata, misalnya tanah bulak yang sudah ada jalan besar, kamu hanya perlu mengaspal jalan tersebut, memberikan beberapa arahan kepada para warga untuk bekerja sama, aku yakin itu juga bisa mendongkrak ekonomi warga," ucap Aliya memberikan saran.
Aditya tersenyum. "Ide kamu sama seperti aku, dan aku sudah merencanakan itu semua, terimakasih sayang."
"Sepertinya diantara kami, hanya aku yang tidak berguna di sini," celetuk Sekar sedih.
Sontak saja semuanya menoleh ke arah Sekar, Aditya tersenyum. "Kata siapa kamu tidak berguna, kamu paling perkasa di ranjang, mereka berdua menghadapi ku dua jam di ranjang saja sudah kelelahan, tapi kamu sampai pagi pun sanggup."
"Ih... bukan masalah itunya!" Sekar menggembungkan pipinya kesal.
Aditya dan kedua istri lainnya tertawa geli melihat Sekar yang merajuk seperti anak kecil. Tampak mereka berempat sangat bahagia walau kadang ada masalah kecil seperti itu.
__ADS_1