
Ke esokan harinya, melihat kedua Istrinya tidak kunjung beranjak dari tempat tidurnya. Aditya menepuk jidatnya sendiri. Ia tahu kalau semalam kebablasan melakukan hubungan dengan kedua istrinya tersebut.
Melihat keduanya masih terlelap, ia menghela napas panjang, mengecup kening mereka satu-persatu kemudian beranjak dari tempat tidur untuk pergi membersihkan diri.
...***...
Aditya sudah berada di meja makan seorang diri, karena ia tidak mau mengganggu kedua istrinya yang sedang beristirahat.
"Bi, nanti antar makanan untuk Nyonya ke kamar yah!" perintah Aditya lembut sambil menyantap sarapannya.
"Baik Tuan!" jawab pelayan paruh baya itu sopan.
Setelah Aditya selesai sarapan, ia berpesan kepada pelayan di rumahnya agar selalu stay di depan kamarnya, karena ia tahu kalau kedua istrinya tidak mungkin bisa berjalan untuk hari ini.
Aditya pergi ke gunung Suplawan lagi, karena hari-harinya memang sekarang di gunakan untuk mencari cincin Java.
Kehidupan Aditya sekarang memang cenderung membosankan, kalau tidak ke gunung Suplawan, pria itu pasti akan merenung di pinggir kali.
"Jurig!" tiba-tiba terdengar suara teriakan ketika Aditya hampir sampai di gunung Suplawan.
Sontak saja pria itu bergegas menghampiri orang tersebut. "Ada apa pak?" tanya Aditya khawatir.
"Ju-Jurig Dit, tadi ada yang memanggilku tapi tidak ada orangnya sama sekali," jawabnya ketakutan.
Aditya bukannya takut, malah langsung berlari ke gunung Suplawan. Ia berharap kalau itu adalah Java yang selama ini di carinya.
Orang yang tadi di hadang Aditya tentu saja bingung, bukannya ikut takut tapi ia tampak sangat bersemangat.
"Dasar aneh," gerutu pria itu sembari pergi dari sana.
Aditya berlari dengan sangat cepat ke jalan yang biasanya di lalui warga jika mau ke kebun, saat ia sampai di sana malah tidak ada apa-apa sama sekali.
__ADS_1
"Java! Apa kamu di sini!" teriak Aditya seperti orang gila.
Tidak ada yang menyahut sama sekali, tempat tersebut sangat hening. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Java sama sekali.
Aditya mengepalkan tangannya, padahal ia berharap Java ada di sana. Namun, ternyata tidak ada apa-apa sama sekali.
"Halo mamang!" tiba-tiba terdengar suara dari belakang Aditya.
Bang
"Aduh!" sesosok Hantu yang tadi menyapa orang desa yang lari kalang kabut terhempas puluhan meter ketika Aditya yang terkejut reflek memukulnya.
Aditya yang sudah memiliki kekuatan supranatural peninggalan dari Java tentu masih bisa melukai mahluk astral sekalipun.
"Brengsek, aku kaget bodoh!" gerutu Aditya kesal.
"Ya maaf mamang, aku cuma menyapa, malah di pukul, sakit tahu," gerutu hantu yang wajahnya rusak dan seluruh tubuhnya berlumuran darah tersebut.
"Siapa yang mengganggu, aku cuma menyapanya saja," jawabnya tidak merasa bersalah sama sekali.
"Itu namanya mengganggu, kamu itu setan!" bentak Aditya.
"Eh... benar juga yah," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hantu tersebut menghampiri Aditya. "Kebetulan aku bertemu denganmu, kamu mesti mencari tuan Java bukan?" tanyanya memastikan.
Aditya terkejut ketika ada hantu yang tahu tentang Java. Seketika harapannya untuk menemukan cincin tersebut langsung sangat besar.
"Apa kamu melihatnya?" desak Aditya langsung.
Hantu itu menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali," jawabnya pongah.
"Sialan!" gerutu Aditya kesal, harapannya seketika sirna sudah.
__ADS_1
"Kamu ini aneh, seharusnya kamu yang tahu keberadaan tuan Java, mengingat energi spiritual kalian sudah terhubung satu sama lain," ucap hantu itu tiba-tiba.
Aditya mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
Hantu itu menghela napas. "Sebenarnya aku malas memberitahumu, tapi setahun kebelakang, kamu mulai membuat gaduh tempat istirahat kami, bisa-bisa semua penghuni tempat ini pergi dari sini, jadi agar itu tidak terjadi aku akan memberitahumu."
"Benarkah? Cepat katakan!" cecar Aditya bersemangat.
Sosok tersebut kemudian mulai menjelaskan kepada Aditya, kalau ia bisa menggunakan energi spiritualnya untuk mencari cincin Java.
Walaupun sosok itu tidak bisa memastikan Aditya bisa menemukannya, karena semakin jauh keberadaan cincin Java, maka Aditya tidak mungkin bisa merasakan energi Spiritualnya. Dengan kata lain energi spiritual cincin Java bisa dirasakan dengan jarak tertentu saja.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Aditya bingung.
"Hadeh, kenapa tuan Java memiliki tuan yang begitu bodoh seperti kamu ini?" ungkapnya tidak berdaya, kemudian melanjutkan. "Ketika kamu memukulku, itu kamu menggunakan energi spiritual, jika tidak kamu tidak mungkin bisa menyentuhku, apa kamu paham sekarang?"
Aditya mengangguk mengerti, walaupun ia tidak tahu pasti bagaimana caranya mendeteksi energi spiritual cincin Java dengan energi spiritual miliknya, tapi ia sudah sedikit paham cara kerjanya.
"Terimakasih banyak, aku akan mencobanya," ucap Aditya ramah.
"Jangan di...."
Hantu tersebut belum selesai bicara, Aditya sudah mencoba mengumpulkan energi spiritualnya ke dalam pikiran. Pria itu langsung memuntahkan seteguk darah ketika ada sebuah energi Spiritual yang menghambat pencariannya.
"Kamu ini benar-benar bodoh yah! Ditempat ini ada segel pusar bumi! sekuat apapun energi spiritual milikmu, segel tersebut akan menghadangnya otomatis, bodoh!" gerutu hantu tersebut.
"Kenapa tidak bilang daritadi?" tanya Aditya tidak berdaya.
Hantu itu menghela napas. "Biar kuberi tahu kamu, tuan Java tidak ada ditempat ini, kamu lebih baik cari ditempat lain."
Aditya mengangguk mengerti, ia membungkuk hormat untuk berterimakasih kepada hantu tersebut dan pergi dari tempat itu, setidaknya ia kini memiliki petunjuk untuk menemukan cincin Java.
__ADS_1