
Ketika Aditya sedang mengobrol dengan Java, terdengar suara Glembo yang berteriak-teriak memanggil namanya sambil menggedor-gedor pintu.
"Dit! Adit!" teriaknya seperti di kejar-kejar Setan.
Aditya sontak saja terkejut, dia baru ingat kalau meninggalkan Glembo begitu saja tadi di bawah. Aditya berhenti ngobrol dengan Java, dia beranjak dari kamar tidurnya kemudian menghampiri pintu.
"Dit, kamu jahat! Masa ninggalin aku gitu aja sih?" matanya berkaca-kaca seperti mau menangis saja.
Aditya mengehela napas "iya maaf Ndut, Aku lupa tadi karung beras ketinggalan"
"Adit!" mulut Glembo monyong karena jengkel pada Aditya.
Aditya mengulas senyum di sudut bibirnya, dia kemudian menepuk bahu Glembo "sudah-sudah kamu mending tidur di kamar sebelahku, jadi kalau ada apa-apa bisa langsung beritahu aku oke!"
Glembo mengangguk "tapi aku gak bawa baju ganti Dit. Aku ambil di rumah dulu yah?"
"Boleh, sana ambil!" ucap Aditya pada Glembo.
Glembo tersenyum, dia langsung pergi meninggalkan Aditya untuk mengambil pakaian gantinya. Sementara Aditya melanjutkan obrolannya dengan Java.
Malam harinya, Glembo sudah tertidur lelap, sementara Aditya masih terjaga, dia di beritahu Java ada gerakan mencurigakan di luar rumahnya.
"Aditya... hihihi.... " suara khas perempuan malam terdengar di balkon jendela.
Bulu Aditya merinding, dia melihat ke arah jendela, benar saja sosok yang kemarin nongkrong di pohon waru doyong kembali muncul.
"Brengsek nih Kunti! " Walaupun takut Aditya menghampirinya.
"Hihihi..." dia mengikik seperti tidak punya hutang sama sekali, terasa lepas tanpa beban.
Aditya makin jengkel saja, dia membuka jendela dengan keras.
Duak
Mba Kunti kejedot jendela saat Aditya membukanya dengan cepat sampai terjatuh dari lantai dua.
"Mampus! Suruh siapa gangguin aku!" ucapnya kesal sambil melihat ke bawah.
Aditya terkejut ketika Mba Kunti tidak ada di bawah "Loh! Kemana perginya tuh perempuan gila?" celetuk Aditya bingung.
"Hihihi... disini Aditya" Mba Kunti terbang di depan Aditya dengan pakaian khasnya. serba putih dan lusuh dengan rambut yang acak-acakan.
Aditya mendengus kesal, dia mencari-cari sesuatu yang bisa di lemparkan. ketemulah sebuah pot bunga, tanpa basa-basi dia melemparkan-nya.
"Aduh!" bukan-nya kena Mba Kunti malah terkena seseorang yang sedang mengawasinya dari kejauhan karena dia melempar dengan sekuat tenaga.
Orang tersebut langsung terkapar karena saking kencangnya lemparan Aditya. Teman-nya yang ada di dekatnya langsung terkejut. Mereka mengira kalau Aditya mengetahui keberadaan mereka semua.
__ADS_1
"Sialan! Kita ketahuan! Cepat keluarkan semua khodam kalian!" Darman yang memimpin para bawahan-nya langsung memberikan perintah.
Mereka semua langsung merapal mantra Java kuno, keluarlah para khodam dengan berbagai jenis dan bentuk.
Khodam ular Hitam langsung menerjang ke arah Aditya bersama dengan Khodam manusia berkepala Banteng.
Aditya sontak saja terkejut "Apa lagi itu?"
[ Tuan gosok saya! ] Java berseru pada Aditya.
Aditya langsung menurut, dia menggosok Cincin Java, Ular putih yang kemarin muncul kembali dari Cincin Java.
Kali ini Ular putih tersebut berubah menjadi sangat besar, lebih besar dari pertama kali dia muncul.
Aditya langsung melompat dari jendela lantai dua, dia tidak mungkin membiarkan Java bertarung sendirian.
Darman melihat Aditya yang jatuh berguling dari lantai dua, dia langsung menyuruh Anak buahnya menyerang Aditya secara bersamaan.
"Cepat serang dia!" Darman memberikan perintah pada anak buahnya.
Anak buah Darman yang belum mengeluarkan Khodam. Mereka semua langsung menyerang Aditya.
"Mati kau Bedebah!" Anak buah Darman yang berjumlah delapan orang menyerbu Aditya dengan menggunakan pedang.
Slas
Slas
"Kalian curang!" gerutu Aditya kesal sambil mencoba menghindar dari sabetan pedang mereka semua.
Duak
Aditya berhasil menghantam salah satu mereka hingga terhempas puluhan meter kebelakang dan tidak sadarkan diri.
Rekan-rekannya terkejut, mereka semua menggenggam gagang pedang dengan sangat kuat dan kembali menerjang ke Aditya.
Slas
Pral
Aditya tergores di bagian dada akibat sabetan pedang mereka. Dia mundur beberapa langkah, menekan darah yang mengalir di dadanya dengan tangan kiri.
"Sialan! Tubuh Gatotkaca apanya? Aku masih bisa terluka, Eh... tapi kok lukanya langsung menghilang?" Aditya melihat kalau sayatan pedang tersebut menutup kembali seperti semula.
Aditya menyeringai tipis, dia tidak takut lagi terluka saat mengetahui cara kerja tubuhnya tersebut.
Aditya menerjang ke arah mereka "Rawe-rawe rantas! malang-malang Putung!"
__ADS_1
Dia berteriak layaknya pendekar jaman dahulu yang di ceritakan almarhum ibunya ketika kecil. Aditya menerjang kesetanan tanpa tahu jenis beladiri dan hanya pernah mendengar dari dongeng saja.
Pral
Duak
Aditya tersayat kembali, tapi dia juga berhasil menumbangkan satu orang lagi. Hal tersebut terjadi berulang kali hingga semua bawahan Darman tumbang tidak sadarkan diri.
Terlihat baju Aditya yang sudah robek-robek karena sayatan pedang, bercak darah juga mewarnai pakaian-nya. Namun, Aditya tidak terluka sama sekali.
"Walaupun sakit, setidaknya aku masih bisa bertahan!" gumam Aditya yang langsung menatap ke arah Java yang sedang bergelut dengan puluhan Khodam.
Aditya tidak tinggal diam saja, dia menyeruduk layaknya kerbau gila, hingga orang yang terkena serudukan-nya langsung pingsan seketika. Khodam miliknya pun hilang seketika.
"Ternyata dugaanku benar! Aku harus mengalahkan mereka semua membantu Java !"
Aditya kembali menerjang beberapa orang, hingga mereka semua pingsan seketika. Java yang melihat keberanian Aditya dia tersenyum.
Java mengibaskan Ekornya, Khodam dengan bentuk seperti belalang sembah langsung menghilang. Orang yang mengeluarkan Khodam tersebut menyemburkan seteguk darah dan ambruk.
Darman panik, karena satu-persatu Anak buahnya bertumbangan, dia ingin lari tapi gengsi dengan kedudukan-nya.
Darman merapalkan mantranya, Dua Khodam Jin hijau Kembar dengan tinggi seperti dua lantai rumah Aditya muncul.
Aditya mendongak ke atas "Besar sekali? Sialan!" gerutunya semakin kesal, karena dia sudah lelah menghadapi mereka semua.
"Java Aku hadapi pemiliknya! Kamu hadapi mereka semua!" Perintahnya pada Java.
[ Baik tuan! ]
Aditya terus menerus beradu pukulan dengan para pemburunya tersebut, walaupun dia sering terkena serangan karena belum mahir beladiri, tapi Aditya masih tetap bertahan.
Duak
Duak
Arghhh
Arghhh
Teriakan Anak buah Darman, yang Aditya pukul dengan keras terdengar menggema di tempat tersebut.
Aditya terlihat sudah sangat kelelahan, dia bertarung seorang diri melawan para orang-orang padepokan Kliwung tersebut.
Napas Aditya terdengar tersengal-sengal, tapi bawahan Darman seolah tidak ada habisnya. Padahal dia sudah dengan sekuat tenaga menghajar mereka dengan kuat agar tidak bisa berdiri lagi. Namun, Darman sudah merencanakan semuanya dengan matang, dia menyuruh anak buah yang lain-nya sembunyi dan menyerang Aditya kalau sudah kelelahan.
Clap
__ADS_1
Sebuah pedang menghunus belakang perut Aditya hingga tertembus kedepan. Aditya menyemburkan seteguk darah dan melihat pedang yang menyembul keluar dari tubuhnya.
"Hahahaha.... Saya berhasil tuan!"