Java System

Java System
Banyak Yang Mengincar Aditya


__ADS_3

Mereka semua pun pulang ke rumah Aditya, dengan Rebecca yang tidak mau lepas dengan Aditya tentunya.


Glembo terpaksa duduk di depan, sementara Aditya dan Rebecca duduk di belakang. Melihat Rebecca yang terus menempel pada Aditya, membuat Glembo sedikit merasa tidak enak karena sahabatnya di miliki orang lain.


Sementara itu di Padepokan Macan Kumbang, Maha guru Padepokan tersebut terlihat sedang bermeditasi. Di dalam Meditasinya, dia bertemu dengan orang-orang kuat seluruh tanah Java menggunakan teknik pertemuan Jiwa.


Di sana terlihat ada sepuluh orang pria sepuh dengan berbentuk Jiwa mereka masing-masing.


"Karena kita semua sudah berkumpul di sini, mari kita buat kesepakatan antara Padepokan masing-masing. Karena kita semua memiliki tujuan yang sama ingin memiliki Cincin Angkara Jaya!" seorang Pria sepuh yang merupakan pemimpin pertemuan berbicara dengan lantang.


Maha guru Padepokan Macan Kumbang buka suara "Sebaiknya kita cepat bertindak, sebelum orang yang memiliki Cincin itu membangkitkan kekuatan sepenuhnya."


Pria sepuh dengan jubah bergambar Elang, dia buka suara juga "Aku mendengar kalau Padepokan Kliwung saja di buat tidak berdaya olehnya, bukankah artinya kekuatan Cincin itu sudah bangkit?"


"Padepokan Kliwung sekarang hanyalah sekelas Padepokan pelatihan beladiri saja, semenjak menghilangnya pemimpin mereka. Wajar saja kalau mereka akan kalah melawan pemilik Cincin Angkara Jaya, meski belum sepenuhnya bangkit!" pria sepuh dengan jubah bergambar Ayam jago buka suara.


"Begini saja, kita tangkap anak ini bersama-sama, setelah Cincin kita dapatkan, baru kita tentukan dengan pertarungan antar padepokan, siapa yang layak memilikinya!" pria sepuh dengan Jubah Naga memberikan saran pada yang lainnya.


Semua pria sepuh yang ada di sana menoleh menatap pria sepuh yang memakai jubah begambar Naga.


Pria sepuh dengan jubah gambar Naga tersenyum "Kenapa? Apa kalian takut melawan Padepokan Naga emas?"


"Cih! Hanya karena kekuatan Padepokanmu di isi orang-orang berbakat, jangan mengira aku takut denganmu!" Pria sepuh dengan Jubah Harimau buka suara.


"Baguslah kalau begitu. Berarti kalian setuju dengan usulanku bukan?" Pemimpin Padepokan Naga emas tersebut mengulas seringai tipis di sudut bibirnya.

__ADS_1


"Terserah saja!" Pemimpin Padepokan Harimau langsung menghilang.


Pemimpin pertemuan menghela napas "Baiklah, karena tidak ada yang menolak usulan tersebut, kesepakatan ini telah kita setujui!"


Semua pria sepuh mengangguk, mereka semua kemudian menghilang satu persatu dari Alam bawah sadar tempat mereka berkumpul.


Maha guru Padepokan Macan Kumbang membuka matanya, dia menghela napas panjang, karena Padepokan Naga Emas yang akan mendapatkan ke untungan.


"Biarlah, lagi pula jika dia yang mendapatkan Cincin tersebut, pasti banyak ahli beladiri di luar tanah Java yang akan mengincarnya!" Maha guru Padepokan Kmacan Kumbang memang tahu semua seluk beluk pemimpin Padepokan Naga Emas yang dulunya memang kakak seperguruannya.


Sementara itu di padepokan Harimau, Waseda Pria sepuh yang tadi ikut rapat, dia menggebrak meja di depannya karena geram dengan keputusan Pemimpin Padepokan Naga Emas.


"Brengsek! Hanya karena dia kuat tidak menghargai yang lainnya!" geramnya kesal.


Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benak Wasesa, dia mengulas sebuah senyum "Jika aku tidak bisa memiliki Cincin tersebut, dia juga tidak boleh mendapatkan Cincin itu! Ya benar." seringai tipis muncul di sudut bibir Wasesa.


...***...


Ke esokan harinya di kediaman Aditya, dia sedang bersantai di pinggir kolam renang bersama dengan Glembo. Mereka berdua berjemur layaknya bule-bule di pantai.


"Dit, ini cara pakainya gimana?" tanya Glembo sambil menunjukkan Ponsel barunya.


Aditya menjulurkan kepalanya untuk melihat apa yang Glembo tunjukan "itu untuk menelpon, kamu tinggal cari nomorku yang sudah aku beritahu kemarin, terus tekan yang gambar telepon."


Aditya menjelaskan dengan gamblang pada temannya itu, karena Aditya sadar kalau kemampuan Glembo untuk mempelajari semuanya tidak seperti dia yang begitu mudah.

__ADS_1


Glembo manggut-manggut seolah mengerti semua yang di beritahu Aditya, dia kemudian mencoba menelpon Aditya. Ponsel Aditya pun langsung berbunyi.


Glembo tersenyum senang "Wah, aku sudah paham Dit."


Aditya balas tersenyum, dia kembali merebahkan tubuhnya di tempatnya dia bersantai.


Ketika mereka berdua sedang menikmati hidup mereka yang telah berubah dari seorang pecundang menjadi menjadi Miliarder.


Tiba-tiba seorang pelayan-nya dengan tergopoh-gopoh menghampiri Aditya. Dia terlihat begitu kalut seperti melihat seorang pembunuh saja.


"Tu-tuan Aditya gawat!" ucap pelayan tersebut dengan napas tersengal-sengal.


Aditya membuka matanya yang tadi dia pejamkan agar bisa meresapi hidupnya. Dia menyipitkan matanya dan bertanya "Ada apa?"


"Di depan! Ada pria sepuh yang mencari anda, dia bilang akan membunuh kami semua jika tidak mengizinkan bertemu dengan anda." jawabnya dengan cemas.


Aditya langsung terduduk "Lancang sekali dia mau membunuh orang-orang ku! Memangnya dia siapa?!" gerutu Aditya kesal.


Aditya langsung bergegas menuju depan rumahnya, dia ingin melihat siapa yang berani membuat keributan di kediamannya.


Sementara itu Glembo tidak peduli dengan Aditya, dia sedang sibuk dengan Ponsel barunya. Glembo terlihat sangat serius mempelajari Ponsel tersebut.


Aditya sampai di depan Rumahnya, dia mengerutkan keningnya ketika melihat dua satpamnya sedang di cengkram lehernya oleh pria sepuh tersembunyi.


"Lepaskan mereka! Atau aku akan membunuhmu!" tegur Aditya pada orang tersebut.

__ADS_1


Pria sepuh yang mencengkram leher dua satpam Aditya, dia melemparkan mereka berdua hingga tersungkur di tanah. Dia menatap Aditya dengan mengulas sebuah senyum.


__ADS_2