Java System

Java System
Hukuman


__ADS_3

Glembo mengerucutkan bibirnya, karena ia selalu salah di mata Aditya. Padahal memang dirinya memang salah bertanya pada sesuatu yang sudah jelas ia lihat sendiri.


Aditya dan ketiga istrinya masuk ke dalam, begitu juga dengan Glembo yang mengekorinya dari belakang.


Sementara itu Buta Ireng mengejar pria yang menurut Aditya menjadi dalang yang memprovokasi warga Karbal.


Terlihat pria itu sedang tergesa-gesa menghampiri sebuah mobil yang tidak lain orang suruhan Sasongko.


Pria itu masuk ke dalam mobil, Buta Ireng juga ikut masuk ke dalam mobil.


"Bos gawat, ternyata Adit memiliki banyak uang!" ucapnya langsung tanpa menunggu di tanya.


Orang yang di panggil bos menoleh kebelakang. Pria tersebut yang memilih sedikit energi spiritual, tentu saja bisa melihat keberadaan Buta Ireng dan langsung terkejut.


"Astaga, siapa kamu!" tanyanya sedikit terkejut.


"Bos, ini aku, Wahyudi," jawab Pria yang ada di belakang mobil, karena tidak melihat Buta Ireng.


"Diam kamu, aku tidak bertanya padamu!" bentak orang yang di panggil bos tersebut.


Seketika Wahyudi terdiam, ia tidak berani bicara sama sekali sambil menundukkan kepala.


Buta Ireng tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha... kau tidak perlu tahu siapa aku!"


Swuzz


Slap


Buta Ireng berubah menjadi asap hitam dan merasuki pria yang di panggil Bos itu dengan mudahnya.


Wahyudi sedikit melirik bosnya itu, ia terkejut ketika mata bosnya berwarna merah. Apa lagi pria itu menyuruhnya untuk keluar dari mobil.


Wahyudi bingung kenapa di suruh turun dari mobil, ia bertanya. "Bos, kita mau kemana?" tanyanya penasaran.


"Diam, dan ikut saja!" jawabnya dingin.


Wahyudi mengangguk, ia mengekori bosnya hingga baru merasa ada yang aneh ketika jalan yang mereka ambil menuju ke rumah Aditya.


"Bos, kenapa kita ke rumah Adit?" tanyanya bingung dan takut.


"Diam dan ikut saja!" perintahnya tegas.


Wahyudi hanya bisa menurut, walaupun takut pria itu tetap berjalan mengikuti bosnya, karena ia pikir dengan ada bosnya, maka dirinya akan baik-baik saja.


Wahyudi tidak tahu saja kalau sebenarnya ia sedang dalam masalah besar karena berani menunjukkan wajah di depan Aditya.


Mereka berdua sampai di rumah Aditya, baru saja sampai murid-murid padepokan Kliwung langsung menangkap mereka berdua sehingga membuat Wahyudi terkejut.


"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!" teriak Wahyudi yang mencoba berontak.

__ADS_1


Buta Ireng juga keluar dari tubuh pria yang di panggil Bos tersebut, seketika pria itu tersadar dan tercengang ketika sampai di kediaman Aditya.


"Apa yang terjadi, Wahyudi! Kenapa kamu m membawaku kemari!" pria itu juga berteriak dan berontak.


"Lah, kok malah nyalahin aku Bos, anda yang tadi mengajak saya kemari," jawabnya tidak berdaya.


"Buta sialan! Ini pasti ulahmu bukan?!" teriak Wahyudi yang melihat Buta Ireng sedang menertawakannya kemudian menghilang.


Wahyudi dan pria yang di panggilnya bos tidak bisa berbuat apa-apa, mengingat bawahan Aditya cukup terampil.


Mereka berdua di bawa masuk ke dalam rumah Aditya. Keduanya masih tetap berusaha berontak dan meraung marah.


Aditya dan Ketiga Istrinya yang sedang berada di ruang keluarga, mereka mendengar teriakan Wahyudi bersama Bosnya. Begitu juga dengan Glembo dan Sintia, mereka penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Dit, siapa yang berteriak-teriak di depan?" tanya Glembo penasaran.


Aditya tersenyum. "Orang bodoh yang mencoba berbuat tidak baik dengan kita," jawabnya santai.


"Apa maksudmu sayang?" tanya Rebecca penasaran.


"Nanti juga kamu tahu," jawab Aditya santai.


Suara teriakan mereka berdua semakin mendekat ke ruang keluarga, hingga akhirnya mereka sampai di ruang keluarga.


Aditya memejamkan matanya ia memanggil puluhan Jin dari gunung kumbang untuk menakut-nakuti pria yang menurut Buta Ireng bisa melihatnya.


Setelah mereka sampai, pria yang di panggil bos oleh Wahyudi langsung terdiam ketika melihat berbagi Kodam yang sedang berdiri memelototinya.


"Baik tuan!" jawab para penjaga yang langsung keluar dari ruang keluarga setelah mengantar dua orang tersebut.


Aditya beranjak dari duduknya, ia mendekati Wahyudi dan bosnya. "Siapa yang menyuruh kalian!?" tanyanya langsung.


"Kamu pikir aku ta..."


Plakk


Tiba-tiba sebuah tamparan keras mengenai Wahyudi, hingga pria itu terdiam seketika. Ia kebingungan karena tidak orang di depannya tapi ada yang menamparnya.


Glembo, Rebecca dan Sintia juga ikut bingung, mereka tidak tahu kenapa tiba-tiba terdengar suara tamparan renyah yang menggema di ruangan tersebut.


Si bos yang tahu ada berbagai Jin di sana, ia tidak berani berbicara sama sekali.


"Cepat katakan siapa yang menyuruh kalian!" hardik Aditya.


"Breng...."


Plak


Plak

__ADS_1


Plak


Wahyudi di tampar bolak-balik oleh buta Ireng hingga pipinya memerah dan bengkak, bahkan di sudut bibirnya sampai mengalir darah segar.


Wahyudi kali ini benar-benar ketakutan. Ia buru-buru menatap mulutnya sambil bercucuran air mata, karena tidak tahu sama sekali ada apa sebenarnya.


"Angkat dia agar mau bicara!" perintah Aditya kepada Buta ijo yang ada di sampingnya.


Buta ijo langsung mengangkat pria tersebut dengan mencekiknya hingga bergelantungan di udara, sontak saja Wahyudi dan orang yang tidak bisa melihat Buta ijo menelan ludah.


"Mau berbicara atau tidak?" tanya Aditya dingin.


Pria itu masih kekeh dengan pendiriannya, sehingga membuat Aditya sedikit kesal. Padahal wajahnya sudah mulai membiru, karena kesulitan bernapas.


"Lepaskan dia!" perintah Aditya yang tidak mau pria itu tewas sebelum ia dapat informasi.


"Uhuk... Uhuk...." Pria itu terbatuk-batuk akibat cekikan Buta Ijo.


"Dit, biar aku saja yang tanya padanya," sekara beranjak dari duduknya, ia mengeluarkan tusuk rambutnya, sehingga membuat rambutnya terurai.


Aditya bingung apa yang akan di lakukan oleh Sekar, tapi ia hanya melihatnya saja. Sementara Ara Jin tampak menyeringai, sepertinya mereka tahu apa yang akan di lakukan Sekar.


Clap


Clap


Clap


Arghhh


Pria itu berteriak sangat keras ketika tusuk rambut Sekar di tancapkan ke paha dekat bijinya.


Aditya dan yang lainnya terkejut dengan Sekar yang begitu sadis melakukan hal tersebut, padahal ia saja belum berani melakukan penyiksaan seperti itu.


"Siapa yang menyuruhmu!" bentak Sekar.


Clap


Argh


Sekar terus menancapkan tusuk rambutnya, selagi pria itu tidak mau bicara. Aditya menelan ludah melihat betapa sadis wanitanya yang satu itu.


Di jaman dahulu hukuman seperti itu sudah sangat wajar, para wanita juga di tuntut agar bisa membela diri, salah satu senjatanya tusuk rambut, karena benda itulah yang selalu ikut dengannya.


"Baik, aku akan bicara, hentikan! Tolong hentikan!" raungnya yang sudah berlumuran darah di kedua pahanya.


Sekar tersenyum, Ia beranjak dari duduknya. "Masalah beres, silahkan di tanya," ucapnya enteng kepada Aditya.


Aditya menganggukkan kepalanya, ia tidak bisa berkata-kata dengan apa yang telah di lakukan Sekar.

__ADS_1


Mereka yang ada di sana juga ikut takut dengan Sekar, ternyata wanita cantik yang satu itu memiliki keanehan tersendiri.


__ADS_2