
Aditya tersenyum getir, ia menghirup napas dalam-dalam, membuangnya. "Sekarang katakan siapa yang menyuruhmu?!"
"Tuan Sasongko, tolong lepaskan saya tuan, saya cuma di suruh," jawabnya memohon.
"Maksudmu Sasongko Iskandar?" tanya Aditya memastikan.
"Benar tuan, tolong lepaskan saya, kalau mau bunuh, bunuh saja dia, ide ini saya dapatkan dari dia," pria itu menunjuk Wahyudi.
Sontak saja Wahyudi tercengang, ingin rasanya mengumpat, tapi pipinya terasa sakit untuk berbicara karena bengkak, sehingga ia hanya bisa pasrah saja.
Aditya yang sudah mendapatkan jawaban, ia kemudian memberikan perintah kepada para kodam nya. "Bawa mereka berdua ke gunung kumbang, terserah kalian mau apakan mereka!" perintah Aditya sambil mengajak Sekar untuk cucu tangan, mengingat tangannya penuh dengan darah orang tersebut.
"Tuan, saya sudah bicara, tolong lepaskan sa...." tiba-tiba kedua orang itu menghilang dari sana, darah yang berceceran di lantai juga ikut menghilang.
Semua Jin yang di panggil Aditya tentu saja merasa senang, karena mereka akhirnya mendapatkan bawahan baru setelah sekian lama. Mereka akan membunuh Wahyudi bersama bosnya dan menawan roh mereka agar menjadi penghuni gunung kumbang menjadi pesuruh di sana.
Sebenarnya bukan hanya kedua pria tersebut saja yang menjadi pesuruh para Jin, mereka yang melakukan pesugihan dan telah tewas juga banyak yang tinggal di sana rohnya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, kenapa mereka tiba-tiba menghilang?" tanya Rebecca penasaran.
"Aku juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi," timpal Sintia.
"Lah, aku lebih bingung, kenapa tadi dia bisa terbang dan tiba-tiba ada yang pipinya bengkak juga," celetuk Glembo.
Aliya menghela napas. "Kalian tidak perlu pikirkan masalah tadi, anggap saja kalian tidak melihatnya jika tidak ingin seperti mereka."
"Rebecca, nanti kamu minta sama Adit untuk membuka mata batin kamu," lanjutnya berbisik kepada Rebecca.
Rebecca yang kurang lebih sedikit tahu kalau Aditya memiliki kekuatan gaib. Ia mengangguk mengerti dan tidak bertanya lagi masalah barusan.
Sekarang hanya Glembo dan Sintia yang masih bertanya-tanya dalam hati mereka, karena mau bagaimanapun mereka tetap masih penasaran.
Aditya yang sedang mengantar Sekar cuci tangan di kamar, ia menegurnya. "Lain kali jangan seperti itu, kamu itu seorang wanita," ucapnya lembut.
"Habisnya kamu terlalu baik dengannya, kalau mau cari informasi itu yang sadis, jadi mereka cepat buka suara, misalnya menguliti lengan tangannya, coba saja pasti langsung bicara," jawabnya enteng.
Aditya menghela napas, ia mencubit hidung Sekar dengan gemas. "Kita ini hidup di jaman modern, begitu banyak peraturan sekarang, lagi pula ada para Jin yang aku yakin bisa membuat mereka buka suara."
"Iya deh, aku gak lagi-lagi," jawab Sekar tidak berdaya.
Aditya tersenyum, setelah Sekar selesai membersihkan diri, keduanya keluar dari kamar menghampiri Rebecca dan Aliya.
Glembo bersama Sintia sudah pamit pulang, mereka tentunya tidak mau meninggalkan rumahnya sendiri lama-lama.
__ADS_1
"Glembo pulang?" tanya Aditya menebak.
Aliya dan Rebecca mengangguk bersamaan. "Iya, mereka tidak betah di sini, kalau main harus di kamar terus, hihihi...." ucap Rebecca sambil terkikik geli.
"Hais mereka itu memang tidak pernah berubah," ucap Aditya tidak berdaya.
Aditya dan ketiga Istrinya ngobrol-ngobrol Masalah barusan yang telah terjadi. Kini mereka tahu kalau dalang di balik warga yang Demo itu keluarga Iskandar. Karena itulah Aditya berencana mempercepat pergerakannya, agar kedua keluarga tersebut tidak semakin menekannya.
Remon juga sudah mulai membeli beberapa saham perusahaan untuk memperkuat Rajasa Jaya grup, tentu itu semua di lakukan dengan sangat cepat.
Liam Rajasa, Ayah Aliya juga ikut membantu ketika mendengar kalau Aditya akan memulai membesarkan perusahaan, pria paruh baya itu sangat bersemangat ketika mendengar modal yang di berikan Aditya kepada Remon sangatlah banyak.
...***...
Malam harinya ketika semua istrinya sudah terlelap setelah di beri jatah. Aditya pergi ke halaman belakang rumah.
"Sistem keluarkan keris Naga Pati!" perintah Aditya tegas.
[Baik Tuan!]
Keris Naga Pati di keluarkan dan muncul di tangan Aditya. Keris yang hanya panjangnya seukuran telapak tangan itu Aditya buka.
Aditya mengalirkan energi spiritualnya ke keris tersebut yang sudah di keluarkan dari selongsongnya.
"Salam tuan," sapa ular tersebut sopan.
Aditya mengangguk. "Siapa namamu?" tanyanya keada ular tersebut.
"Panggil saja saya Cakra tuan," jawabnya sopan.
Aditya mengangguk. "Cakra, aku perintahkan kamu untuk membuat onar di rumah keluarga Iskandar, aku ingin melihat sejauh mana kekuatan mereka!"
"Baik Tuan!" jawabnya lugas.
Cakra tiba-tiba menghilang, ia berubah menjadi sebuah cahaya berwarna merah dan melesat pergi dari hadapan Aditya.
Aditya memang berencana untuk mengukur kekuatan keluarga Iskandar, ia tidak meminta Cakra agar mengacak-acak tempat tersebut, melainkan hanya menyuruhnya untuk membuat sedikit masalah saja.
...***...
Perjalanan mahluk gaib sangatlah singkat, mau itu di luar tanah Java sekalipun, pasti mereka akan cepat sampai di sana menggunakan energi spiritual mereka.
Begitu juga dengan Cakra, hanya butuh beberapa menit saja ular tersebut sudah sampai di kediaman keluarga Iskandar.
__ADS_1
Duarr
Kemunculan Cakra yang ukurannya sangat besar, tentu saja membuat kerusakan yang cukup parah di kediaman keluarga Iskandar.
Sontak saja para penjaga terkejut dengan kemunculan Cakra yang tiba-tiba itu.
"Ada serangan! Cepat beritahu bos!" bawahan keluarga Iskandar tidak takut sama sekali, mereka langsung memanggil Kodam masing-masing.
Groaar
Cakra meraung marah, ia mengibaskan ekornya, para Kodam tersebut langsung menghilang seketika saat terkena kibasan ekor Cakra, para pemanggilnya juga langsung tidak sadarkan diri terhempas ke berbagai arah.
Bruak
Bruak
Cakra mengamuk di halaman rumah keluarga Iskandar, para bawahan keluarga Iskandar yang ada di dalam, mereka berhamburan keluar.
Pak Tua Iskandar tampak hanya menyaksikan dari balkon kamarnya dengan santai, melihat para bawahannya melawan Cakra.
"Keris Naga Pati, ternyata benar keturunan Angkara jaya sudah muncul," gumamnya lirih sambil mengusap cincinnya.
Dari cincin tersebut keluar asap tebal, kemudian muncul sesosok raksasa bertubuh merah, bermata satu dengan membawa sebuah gada besar.
"Semuanya mundur!" teriak para bawahan yang tahu kalau Kodam tersebut milik tuan besar mereka.
Duar
Gada Kodam pak tua Iskandar menghantam tanah, ketika Cakra menghindari serangannya dengan gerakan yang sangat cepat.
Duar
Duar
Raksasa tersebut terus mengincar Cakra dengan gada nya. Namun, Cakra masih tetap bisa menghindari serangan tersebut.
Groaaarrr
Cakra melesat dengan cepat kemudian melilit raksasa tersebut dengan tubuhnya.
Raksasa tidak bisa bergerak, hingga akhirnya ia roboh dan gada nya terlepas dari tangan. Cakra semakin mempererat lilitannya.
Raksasa itu meraung kesakitan, tapi tiba-tiba muncul sesosok Harimau memiliki sayap yang langsung mencengkram tubuh Cakra dan menggigitnya.
__ADS_1
Cakra meraung kesakitan akibat serangan mendadak tersebut, lilitannya mengendur dari Raksasa, sehingga Raksasa yang di lilitnya bisa melepaskan diri.