
Aditya yang sekarang sudah lebih kaya dari Juragan Mugimin, Dia mulai membenahi sistem pertanian di Kampung Karbal.
Juragan Mugimin juga sudah tidak berani berbuat macam-macam lagi dengan Aditya. Dia hanya bisa marah dalam hati tanpa bisa melampiaskan-nya.
Aditya mulai menanamkan Modal pada para Petani di kampung Karbal. Dia juga tidak lupa untuk membantu warga yang kekurangan.
Sore Hari di kediaman Aditya. Terlihat antrian manusia yang sangat panjang ke belakang. Mereka semua sedang mengantri sembako yang di bagikan Aditya.
Rebecca, Vivi dan Glembo bersama pelayan Aditya, membantu Aditya membagikan sembako agar cepat selesai.
"Terima kasih Dit, semoga amal ibadahmu di terima di sisi-nya." seorang warga mendoakan Aditya.
Aditya dengan sopan menjawab "Sama-sama Pak, terima kasih juga atas doanya."
Tapi ketika orang tersebut sudah sedikit Jauh, Aditya baru mengetahui kalau doa untuknya, seperti doa untuk orang mati. Aditya melihat orang tersebut sambil tersenyum getir.
"Hahahaha... Semoga di terima di sisi-nya." ejek Glembo pada Aditya.
Aditya menoyor kepala Glembo "kamu ini ya Ndut! Seneng kalau lihat temenmu tidak baik-baik saja."
"Ya maaf Dit, aku kan cuma bercanda." Glembo merasa bersalah dengan Aditya.
"Sudah, sudah, Ayo lanjutkan lagi, biar cepet selesai membagikan sembakonya ini" Rebecca menegur Glembo dan Aditya yang sedang beradu mulut.
Kedua sahabat tersebut langsung tersenyum bersama dan kembali membagikan sembako pada warga Kampung Karbal.
"Aditya baik banget yah. Dia mau memberikan sembako sebanyak ini!." seru Warman tukang becak Kampung Karbal.
"Iya Man, mana mau juragan Mugimin berbagi kaya gini." Gondo Anak pak Muklis satpam Kampung, yang pekerjaannya tukang becak juga menimpali.
"Hebat sih Aditya menurutku, dia mampu memberikan kita banyak banget sembako, apa lagi katanya nanti akan ada juga beda rumah seperti di tipi-tipi. Wah aku gak bisa bayangin betapa kayanya Aditya." Sulistyo orang yang namanya hampir menjurus ke wanita tapi dia pria, terkagum-kagum dengan Aditya.
Para warga kampung Karbal kurang lebih menyukai Aditya semuanya, mereka semua sekarang tahu mana orang yang baik dan mana yang tidak.
__ADS_1
"Aku nyesel loh, kemarin-kemarin kita gak bantu Aditya waktu dia kesusahan, tapi sekarang Aditya yang malah bantu kita" Warman menghela napas panjang.
"Iya yah Man, waktu Aditya kesusahan kita malah mengabaikan-nya" Gondo juga merasa bersalah pada Aditya.
"Sudahlah, jangan terlalu melankolis seperti itu, Aditya bukan anak yang lemah! Lihat apa dia minta di kasihani? Gak kan? Tapi s karang dia sudah berhasil. Yang penting sekarang kita jangan sampai membuat Aditya tersinggung." Sulistyo memberikan wejangan pada teman-temannya.
Warman dan Gondo tersenyum getir, walaupun perkataan Sulistyo ada benarnya, tapi mereka tahu kalau tujuan Sulistyo jelas-jelas mau menjilat Aditya.
Sementara itu, Aditya, Glembo, Rebecca dan Vivi mereka sedang beristirahat di ruang tamu dengan minuman dingin masing-masing di tangan mereka. Setelah setengah hari ini membagikan sembako untuk para warga.
"Ah... Akhirnya selesai juga, mudah-mudahan semua yang aku berikan berguna untuk mereka." Aditya merasa senang, karena dia bisa berbagi dengan para warga.
Rebecca tersenyum "mudah-mudahan yah Dit, semoga yang kamu lakukan membuat sedikit perubahan di kehidupan mereka."
Vivi menimpali tidak mau kalah "mereka pasti senang banget Dit, tentunya bukan hanya meringankan pengeluaran mereka, tapi karena mereka sedang mencari sosok seperti kamu."
Orgggh!
Mereka bertiga terkejut ketika satu poci jus yang di buatkan pelayan ludes di minum Glembo, dan hanya tersisa Jus yang ada di gelas mereka bertiga saja.
"Gila kamu Ndut! Eling Woi!" Aditya menegur temannya tersebut.
Rebecca dan Vivi hanya bisa menghela napas berat, karena mereka berdua sudah paham betul gimana reaksi Glembo jika ada makanan ataupun minuman yang enak.
Glembo meringis sambil mengusap-usap perutnya yang seperti gentong Air tersebut "Hehehe... Abisnya enak Dit."
Aditya menatap tidak berdaya sahabatnya tersebut, jika di biarkan seperti itu terus, bisa-bisa Glembo mati karena di racun oleh seseorang. Karena dia memakan apa saja yang penting masih di sebut makanan.
...***...
...Sementara itu di padepokan Harimau, Wasesa yang sudah pulang ke sana, dia mengumpulkan para guru Padepokan....
"Maha Guru!" enam orang pria paruh baya memberikan salam pada Wasesa.
__ADS_1
"Duduklah! Aku akan bicara pada kalian!" Wasesa berbicara dengan tegas.
Mereka berenam langsung duduk di tempatnya masing-masing dengan patuh, menunggu Wasesa buka suara.
Wasesa melihat ke enam murid terbaiknya tersebut, yang dia jadikan menjadi guru di Padepokan-nya.
"Padepokan Harimau akan bekerja untuk seseorang!" baru Wasesa mengatakan hal tersebut, Pramdani langsung buka suara.
"Maha Guru. Apa maksud Anda? Bukankah anda bilang kalau padepokan Harimau tidak akan bekerja untuk siapapun? Tapi kenapa jadi seperti ini?!"
Wasesa tersenyum getir, dia mang pernah mengucapkan kalimat seperti itu ketika dirinya tidak terlibat dengan sepuluh Padepokan terkuat tanah Java.
"Dulu aku mengatakan itu karena situasinya tidak seperti sekarang!" Wasesa menghela napas kemudian melanjutkan "Padepakon Harimau hanya menjadi padepokan terlemah di antara sepuluh Padepokan kuat lainnya. Dengan kita bekerja untuk orang ini, aku yakin Padepokan kita akan menjadi uang terkuat suatu saat nanti!"
Wasesa terlihat sangat yakin dengan perkataan-nya, tidak ada keraguan sedikitpun di sana, dia benar-benar percaya dengan Aditya sepenuhnya.
Pramdani bertanya lagi "Maha Guru, kenapa anda begitu percaya dengan orang ini? Siapa dia sebenarnya?"
Rosid bawahan Wasesa lainnya menimpali "Pram benar Maha guru, siapa orang yang bisa menjanjikan kekuasaan seperti itu di dunia ini? Bukankah itu mustahil?"
Semua bawahan Wasesa mengangguk setuju dengan perkataan Rosid, karena kalau bukan dengan usaha keras sendiri, tidak mungkin bisa melangkah jauh, adapun yang sudah berusaha keras juga kalah dengan orang yang memiliki keberuntungan.
Wasesa sudah menebak kalau anak buahnya semua akan mempertanyakan keputusan-nya.
Wasesa tersenyum "Pemilik Cincin Angkara Jaya! Dia yang akan menjadi Tuan kita!"
Seketika tempat tersebut langsung hening, bawahan Wasesa tertegun di tempatnya masing-masing, mencerna perkataan Wasesa yang menyeruak masuk ke dalam telinga mereka. Ingin rasanya mereka semua tidak percaya. Namun, junjungan mereka sendiri yang mengatakan itu semua, tidak ada alasan untuk tidak percaya padanya.
"Maha guru! Apa anda serius!" Pramdani yang tersadar lebih dulu langsung bertanya.
Wasesa mengangguk "Aku serius, mulai hari ini kita bekerja dengannya, satu-persatu nanti aku kenalkan kalian padanya. Ingat jangan berani menyinggungnya! Kekuatan-nya bisa membunuh kalian dalam satu pukulan!"
Mereka berenam langsung menelan ludah masing-masing, karena mereka sudah mendengar dari buku Kuno Java yang ada di padepokan Harimau, kalau pemilik Cincin Angkara Jaya kekuatan-nya di luar nalar.
__ADS_1