Java System

Java System
Menikah?


__ADS_3

Bukannya senang karena telah membobol mahkota seorang gadis cantik. Aditya terlihat murung, meski Aliya terus menempel padanya.


Aditya sedang merutuki kebodohannya, karena dia pikir telah merusak masa depan gadis yang dia tiduri.


Aliya masih memeluk Aditya dengan mesra, dia seolah tidak ingin melepaskan Aditya sama sekali.


"Kenapa kamu mau melakukan ini denganku?" tanya Aditya tiba-tiba dengan suara datar.


Aliya mendongak menatap Aditya "Karena aku menyukaimu."


Jawaban Aliya singkat padat merayap seperti cicak, sehingga membuat Aditya tertegun menatap gadis cantik yang telah di gagahinya tersebut.


Aditya memerhatikan gadis cantik yang memeluk dirinya, dia merasa sangat bersalah, bukan hanya telah mengambil kesuciannya. Namun, Aditya juga merasa bersalah pada Rebecca.


Aditya mulai menyadari dia ada rasa dengan Rebecca, tapi dengan kehadiran Aliya yang seperti itu, dia bingung ingin menjelaskan pada Rebecca seperti apa.


Aditya bukanlah pujangga yang pandai merangkai kata, dia juga bukan buaya yang bisa berkelit lidah dengan seribu bahasa. Aditya hanyalah pria yang baru pertama kali memainkan rasa dan Cinta.


Dirinya yang masih awam dengan hubungan perasaan, tentu saja membuatnya sangat dilema, jika haru memilih Rebecca yang mulai disukainya atau Aliya yang sudah menyerahkan kesuciannya.


Aditya menatap langit-langit kamar, dia seolah meminta pada sang pencipta untuk memberikan dirinya sebuah petunjuk.


Akhirnya Aditya terlelap karena kelelahan dari bertarung melawan Gumira dan yang lainnya, hingga di lanjutkan bertarung dengan Aliya.


...***...


Ke esokan paginya, Aditya terbangun ketika ada sesuatu yang dingin menyentuh tubuhnya, dia mengerjapkan matanya.


Aditya terkejut saat Aliya ternyata sedang mengelap tubuhnya dengan handuk basah, dia sangat telaten membasuh tubuh Aditya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aditya yang langsung terduduk.


Aliya yang sudah mengenakan pakaian yang semalam dia pakai tersenyum "Kata Ibu, aku harus melayani suamiku dengan benar, jadi aku membasuh tubuh kamu sayang."


"Hah... Suami?" Aditya terkejut saat Aliya melontarkan kata-kata tersebut.


Aliya mengangguk "Iya sayang, di padepokan macan kumbang, kalau kita sudah melakukan hubungan intim, kita sudah menjadi suami istri, hanya perlu melakukan ritual pengesahan dan pengenalan pada keluargaku."


Lidah Aditya langsung kelu, tenggorokannya tercekat, dia tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan Aliya.


"Ka-kamu serius?" tanya Aditya yang akhirnya bisa buka suara.


Aliya mengangguk mantap "peraturan di sini memang seperti itu sayang, kita sekarang sudah jadi suami istri, kamu boleh melakukan apapun pada tubuhku mulai hari ini."


Aditya tersenyum getir, ternyata napsunya membawa dirinya ke sumber masalah, jika dia tahu ada peraturan seperti itu mungkin Aditya tidak akan melakukan-nya dengan Aliya, dia akan berpikir seratus kali terlebih dahulu sebelum terjebak dalam kesenangan sesaat tersebut.


Tok... Tok... Tok....

__ADS_1


"Nona Aliya, kami membawakan sarapan pagi!" pelayan padepokan macan kumbang menegur dari luar kamar.


"Iya sebentar!" sahut Aliya langsung.


"Sayang, kamu tutupi tubuhmu pakai selimut dahulu, ada pelayan yang akan masuk ke kamar kita." ucap Aliya pada Aditya, dia kemudian langsung berdiri dan menutupi pakaian menerawangnya dengan jubah yang ada di kamar tersebut.


Aditya yang masih belum mengenakan apapun, dia juga langsung menutupi tubuhnya.


Aliya membukakan pintu, tiga orang pelayan yang membawakan sarapan langsung masuk dan meletakkan makanan yang mereka bawa di meja kecil yang ada di kamar tersebut. Setelah itu mereka langsung pamit undur diri.


Aliya kembali menutup pintu, dia mengajak Aditya untuk sarapan bersamanya. Aditya seperti boneka saja, dia sangat menurut dengan Aliya.


Gadis cantik tersebut meladeni Aliya dengan sangat telaten, dia mengambilkan makanan di piring Aditya.


"Ayo sayang makan dulu, setelah ini kamu mau melanjutkan yang semalam juga tidak apa." kata-kata Aditya sangat lembut dan terdengar sangat nyaman di telinga Aditya.


"Apa kamu semudah ini bisa menerima seorang pria? Apa kamu tidak takut aku Akan meninggalkan kamu?" tanya Aditya yang tiba-tiba buka suara.


Aliya tersenyum manis "Aku tahu kamu bukan pria seperti itu, dan kamu yakin mau meninggalkan aku yang sudah menyerahkan seluruhnya untuk kamu sayang?"


Aliya terlihat sangat percaya diri, sehingga Aditya hanya bisa menghela napas berat "untung saja kamu bertemu denganku." gumamnya lirih.


"Ya kamu benar sayang, kalau bukan kamu, aku juga tidak mau melakukan ini." jawabnya santai.


Uhuk... Uhuk....


Aliya membuka jubahnya setelah mereka selesai makan, dia ingin Aditya menjamahnya lagi, meskipun masih terasa perih. Namun, kewajibannya yang sudah menjadi istri Aditya membuatnya rela melakukan hal tersebut.


"Kamu sudah kesakitan semalam, istirahat saja dulu untuk hari ini, aku juga mau keluar." tegur Aditya pada Aliya yang mengetahui maksud Aditya.


"Kamu yakin sayang?" tanya Aliya tidak percaya, karena dia pernah di beritahu ketiga ibunya, kalau pria akan mengurung wanita satu hari penuh di malam pertamanya.


Aditya menghela napas "jangan sakiti tubuhmu, aku mau melakukan itu lagi jika kamu sudah baik-baik saja."


Aditya beranjak dari tempat duduknya, dia mencari pakaian dan mengenakan-nya. Selepas itu dia langsung keluar dari kamar.


Aliya tersenyum menatap Aditya, dia semakin menyukai Aditya karena mau mengerti perasaan seorang wanita.


"Aku memang tidak salah memilih kamu sayang." gumam Aliya lirih sambil menatap punggung suaminya tersebut.


Saat Aditya keluar dari kamar, dia tersenyum getir saat melihat kesibukan orang-orang padepokan yang sedang menyiapkan acara pengesahan dan pengenalan dirinya pada keluarga besar Padepokan macan Kumbang.


Ternyata semua ucapan Aliya benar, dan nampaknya Aditya memang sudah benar-benar menjadi suami Aliya.


Aditya berjalan ke arah Aula padepokan, dia mencari Liam dan Rayana untuk meminta mereka menjelaskan semuanya.


"Buat dekorasi sebagus mungkin! Jangan permalukan kami!" terdengar Sutri yang memberikan perintah pada para pelayan yang sedang membuat dekorasi.

__ADS_1


Aditya yang menghampiri mertuanya tersebut, karena dia belum mengenalnya, Aditya bertanya dengan biasa saja "Maaf Bu, Apa kamu melihat Liam?"


Sontak saja Sutri langsung menoleh ke arah Aditya, dia tersenyum ketika melihat menantunya "Eh... kamu sudah selesai dengan Aliya?" bukannya menjawab pertanyaan Aditya, Sutri malah balik bertanya.


"Aliya?" Aditya yang belum sempat berkenalan dengan istrinya, tentu saja dia bingung.


"Ya ampun, Aliya tidak memberitahukan namanya terlebih dahulu sebelum melakukannya?" Sutri terlihat sedikit kesal dengan anaknya.


"Kamu tenang saja Nak, Ibu akan mengajarinya sopan santun lagi, agar dia tidak seperti ini di kemudian hari!"


Mendengar perkataan Sutri, Aditya semakin bingung, sebenarnya wanita paruh baya di depannya itu sedang membahas apa, karena Aditya belum mengenal sama sekali orang-orang di sana.


"Ah... kamu sudah bangun ternyata Aditya." Liam terlihat menegur Aditya, tapi kali ini tidak ada embel-embel tuan ketika memanggil Aditya.


Aditya menoleh "baguslah aku bertemu dengan di sini Liam, aku mau berbicara sesuatu padamu."


Liam tahu kalau Aditya pasti ingin membicarakan masalah pernikahan dalam adat Padepokan macan Kumbang, jadi dia menanggapinya dengan santai.


"Ayo kemari, kita bicara di sana." Liam mengajak Aditya ke tempat duduk Aula padepokan.


Aditya menganggukan kepala, dia mengikuti Liam bersama dengan Sutri yang juga ikut dengan mereka.


Setelah duduk, Aditya langsung buka suara "Apa kamu sengaja menjeratku Liam?" nada suara Aditya begitu dingin.


Liam yang tahu kalau Aditya pasti marah, dia mencoba untuk tidak terintimidasi dan menjelaskan semuanya secara baik-baik.


"Bukan maksudku ingin menjerat kamu Aditya, Tapi anak kami memang sangat menyukai kamu." ucap Liam tidak berdaya.


"Benar kata suamiku Nak, Aliya putri kami satu-satunya tidak pernah menyukai pria sebelumnya, tapi setelah melihat kamu dia langsung tertarik dan rela menyerahkan kehormatannya untukmu." ucap Sutri menimpali.


Aditya baru menyadari kalau wanita yang tadi dia ajak bicara ternyata Ibu dari gadis yang telah dia tiduri semalam.


Aditya menatap wanita paruh baya itu lekat-lekat, benar saja memang wajahnya mirip dengan gadis yang bersamanya semalam.


"Jadi, aku sekarang sudah menjadi menantu kalian?" tanya Aditya memastikan.


Liam dan Sutri menganggukan kepala secara bersamaan, mereka berdua tidak mau menutupi apa yang memang seharusnya Aditya dengar.


Aditya menghela napas "aku hanya orang sebatang kara, apa kalian yakin ingin menerimaku sebagai menantu kalian?"


"Nak, kami tidak peduli kamu seperti apa, asalkan putri kami bisa bahagia, kami sudah senang mendengarnya." jawab Sutri lembut.


"Benar kata istriku Aditya, Aliya tidak seperti wanita pada umumnya, dia akan memantapkan pilihannya pada satu pria saja dan itu kami, karena itulah kami memohon padamu, agar menjaga Aliya dengan baik." Liam tidak segan-segan menundukkan kepalanya.


Aditya menghela napas lagi "baiklah kalau seperti itu, tapi ijinkan aku untuk mengenal lebih dekat lagi putri kalian, meski aku sudah menjalin hubungan dengannya, aku perlu lebih mengenalnya lagi."


"Tentu saja, kamu boleh melakukan apapun setelah acara pengesahan dan pengenalan nanti!" jawab Sutri langsung tanpa ragu.

__ADS_1


__ADS_2