
Aditya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ternyata Glembo memang sahabat sejatinya. Dia tidak takut sama sekali melawan Darman yang Notabenya memiliki ilmu Kanuragan tinggi.
Aditya menghampiri sahabatnya itu "Kenapa kamu kemari? Di sini bahaya!"
"Mau gimana Lagi Dit, kakiku bergerak sendiri melihat kamu bertarung seorang diri." jawabnya tidak berdaya.
"Terima kasih Ndut. Ayo bantu aku kumpulkan mereka yang masih hidup, Aku urus mereka yang mati!" Aditya menepuk bahu sahabatnya tersebut.
"Dit, kamu kok sekarang berani membunuh orang? Apa kamu tidak akan di tangkap Polisi?" tanya Glembo sambil melihat mayat yang bergeletakan di sana.
"Tenang saja, Aku tinggal meminta tolong Rebecca beres masalah. Lagi pula mereka orang jahat!" Aditya meninggalkan Glembo, dia mengumpulkan mayat yang berserakan di sana.
Glembo hanya bisa menghela napas, dia juga tahu kalau Rebecca memiliki kekuasaan. Juragan Mugimin saja tidak berani berbuat apa-apa dengannya. Glembo pikir kalau yang di katakan Aditya ada benarnya.
Glembo mengumpulkan orang-orang yang masih hidup dan mengikatnya menggunakan ilalang yang tumbuh lebat di belakang rumah Aditya.
Sementara Aditya memasukan semua mayat ke dalam Cincin Java. Aditya tidak peduli ada Glembo di sana, jika pun dia bertanya, tinggal bilang mereka penganut Kimi hitam, jadi matinya di makan Jin. Glembo pasti akan menelan bulat-bulat kebohongan tersebut karena dia sangat percaya dengan perkataan Aditya.
"Sudah selesai Ndut?" Aditya menghampiri Glembo yang sedang mengikat kaki dan tangan Darman dan Anak buahnya yang masih hidup dengan ilalang.
"Selesai Dit, mau kamu apakan mereka?" tanya Glembo penasaran.
Seringai tipis terukir di sudut bibir Aditya "kita akan beri mereka pelajaran Ndut."
Glembo tidak tahu apa yang Aditya pikirkan, dia hanya mengangguk seolah mengerti saja. Lagi pula terserah Aditya mau melakukan apa pada mereka.
Aditya mengambil seember Air, dia langsung menyiramkan-nya pada Darman yang di ikat di depan para Anak buahnya.
Sontak saja Darman langsung terbangun karena terkejut dengan siraman Air Aditya, dia gelagapan seperti orang habis tenggelam saat baru membuka matanya.
"Bangun juga kamu akhirnya!" ucap Aditya ketus.
Darman terkejut ketika melihat Aditya yang berdiri di hadapan-nya. Dia menyapu pandangan-nya. Ternyata mereka semua telah kalah dan terikat bersama di sana.
"Brengsek! Lepaskan aku!" raungnya marah pada Aditya.
Ceplaak
__ADS_1
Suara tamparan terdengar begitu nyaring ketika telapak tangan Glembo mengenai Darman yang sedang fokus menatap Aditya.
Sontak saja Darman terkejut, karena tiba-tiba ada pria bulat berada di tempat tersebut, padahal tadi tidak ada Glembo di sana.
Bukan hanya Darman saja yang terkejut, Aditya juga terkejut, Glembo tiba-tiba saja menampar Darman tanpa rasa takut sedikitpun.
Darman mengetatkan rahangnya "Buntelan kentut! Berani sekali kamu menamparku!"
Ceplak!
Ceplak!
"Kamu pikir Aku takut padamu Hah!" Glembo menampar keras Darman bolak-balik, sambil mendengus kesal.
Darman hanya bisa menatap tidak berdaya Glembo yang menyilangkan tangannya di depan dada sambil memelototinya.
Aditya menggelengkan kepala, dia menepuk bahu sahabatnya tersebut "Sudah cukup Ndut, biara aku yang lanjutkan."
Glembo tersenyum ke arah Aditya, dia menyingkir dari hadapan Darman dan membiarkan sahabatnya itu menggantikan posisinya.
Aditya jongkok di hadapan Darman, sehingga wajah mereka berhadapan hanya terpaut beberapa jengkal saja.
Darman menelan ludah, dia tidak menyangka kalau pemuda yang kelihatannya sangat polos ternyata berdarah dingin juga.
Darman diam terpaku di sana, dia masih berharap Aditya bodoh dan melepaskan mereka semua begitu saja.
"Baiklah, karena kamu tidak menjawab, Aku anggap kamu ingin mati di sini!" suara Aditya begitu dingin, sampai-sampai Darman merasa sangat terintimidasi.
Aditya mengambil sebuah pedang bekas pertarungan, dia melihat-lihat bilah pedang tersebut seolah mau menyembelih hewan kurban saja.
"Kurasa ini cukup untuk menebas leher kamu, sekali tebas dan... pral! Kepala kamu lepas dari tempatnya!" serunya dengan seringai jahat seperti iblis.
Glembo yang melihat Aditya seperti itu saja sangat ketakutan, bulu kuduknya merinding, dia tidak pernah melihat sosok Aditya yang seperti itu. Aditya seperti sosok Antagonis dalam film-film Psychopat.
Aditya akan mengayunkan pedangnya, Darman tiba-tiba buka suara "Stoop! Baik aku menyerah! Aku akan melakukan apapun asalkan kamu mau melepaskan kami!"
Darman tidak memiliki pilihan lain selain memelas pada Aditya, hanya dengan cara menyerah saja menurutnya yang bisa membuat Aditya membebaskannya.
__ADS_1
Aditya tersenyum, dia menancapkan pedang yang tidak jadi dia ayunkan ke leher Darman di tanah. Dia langsung jongkok di hadapan Darman kembali.
"Jangan anggap aku bercanda Pak tua! Kalau kamu berani menarik janjimu! Akan ku hancurkan Padepokan Kliwung milikmu!"
Jelas saja Darman terkejut karena Aditya bisa tahu nama Padepokan-nya, padahal mereka dari Awal tidak menyebut nama padepokan mereka.
Aditya kembali menyeringai, dia tahu kalau tebakan-nya benar saat melihat ekspresi Darman yang terlihat sangat terkejut.
"Mulai hari ini! Padepokan Kliwung akan menjadi milikku! Tenang saja, aku tidak akan mengambil posisi pemimpin di sana. Kamu masih akan tetap memimpin di sana! Tapi dengan instruksi ku tentunya." Aditya memberikan penawaran pada Darman.
Darman mengehela napas, dia sudah tidak berniat melawan lagi, Apa lagi tawaran Aditya tidak merugikan-nya sama sekali.
"Baiklah Aku mengerti, Aku akan menuruti semua instruksi kamu." jawabnya dengan nada pasrah.
Aditya menyeringai "Bagus! Mulai besok jika aku melihat kalian berani mau menyerangku lagi, aku tidak akan segan-segan membumi hanguskan tempat kalian!" Dia melihat ke arah Glembo "Lepaskan mereka semua Ndut!"
"Tapi Dit...." Glembo terlihat enggan melepaskan mereka semua, karena takut mereka akan mengeroyok Aditya kembali.
Aditya yang tahu apa yang ada di pikiran Glembo dia tersenyum "Sudah, jangan berpikiran macam-macam, mereka tidak akan berani bertindak gegabah. Jika berani pun, aku akan melenyapkan mereka semua!"
Suara Aditya begitu mengintimidasi, membuat Darman semakin tidak berdaya di hadapan-nya. Dia hanya bisa berharap Aditya tidak menjadikan Padepokan Kliwung sebagai tempat yang akan di rusaknya pertama.
"Baik Dit." Glembo dengan enggan melepaskan mereka semua.
Setelah semua ikatan sudah terlepaskan, anak buah Darman yang terluka ringan memapah mereka yang terluka parah.
"Terima kasih tuan Aditya, mulai hari ini kami akan bersumpah setia pada anda!" Darman menangkupkan tinju untuk memberikan hormat pada Aditya.
Aditya hanya mengangguk "Pergilah! Nanti aku akan mengunjungi Kalian!"
Darman mengangguk, dia memerintahkan anak buahnya untuk segera kembali ke Padepokan Kliwung, karena misinya gagal dan malah menjadi bawahan Aditya.
Selepas kepergian mereka, Aditya mengajak Glembo untuk kembali ke dalam Rumah. Aditya langsung ke kamarnya, dia merasa sangat lelah setelah bertarung semalaman suntuk dengan Darman dan Anak buahnya.
[ Ding ]
Misi selesai : Taklukkan Padepokan Kliwung.
__ADS_1
Selamat, Anda mendapatkan Hadiah 50 Poin peningkatan dan Keris Naga Bunting. ]
Java memberikan notifikasi ketika Aditya sudah berbaring di ranjangnya. Aditya tidak peduli kalau bajunya compang-camping, akibat pertarungannya semalam.