Java System

Java System
Sahabat Selamanya


__ADS_3

Aditya terlelap hingga siang hari, tidak ada yang membangunkan-nya sama sekali. Rebecca dan Sintia yang sudah datang ke rumah Aditya pun tidak berani membangunkan-nya.


Rebecca mengajak Sintia untuk bersantai di halaman belakang di bawah pohon waru doyong yang biasa mana Kunti duduk santai di sana.


Rebecca merasa tempat tersebut sangat sejuk, karena begitu banyak pohon di sana, di tambah kampung Karbal masihlah sangat Asri.


Rebecca tidak tahu sama sekali kalau tempat tersebut wilayah mba Kunti biasa bersantai, jadi dia tidak takut sama sekali duduk di sana sendirian.


Karena siang hari jadi Mba Kunti mungkin tidak berani menampakkan dirinya, Rebecca dengan leluasa duduk di tempat tersebut, dengan di temani Sintia.


"Becca, kenapa kamu tidak bangunkan Aditya saja, sudah jam berapa ini loh?" Sintia melihat Arloji yang melingkar di tangannya.


Rebecca menggelengkan kepalanya "Tidak perlu, Aditya pasti capek karena dia harus bekerja malam hari."


"Bekerja di malam hari? Memang kerjaan Adit apaan, Becca?" cecar Sintia lagi.


"Kamu kepo banget sih Sin? Aku juga gak tahu dia kerja Apa, yang pasti dia Bos besar, kerjaannya pasti menumpuk." jawab Rebecca yakin.


Sintia menghela napas "Iya, iya, Aku tidak bertanya lagi."


Sintia sadar, kalau menyangkut Aditya, tempramen Rebecca langsung berubah, jangankan menjelekkan-nya, baru saja kepo sudah di marahi oleh temannya itu.


Menurut Sintia, Rebecca perlu di ruqiah agar dia tidak terlalu tergila-gila pada Aditya, dia ingin sahabatnya kembali normal seperti dulu lagi.


Sementara itu, di tempat Glembo, dia sudah bosan bermain Game Moba di Ponselnya, dia memutuskan untuk mencari angin segar di luar.


Glembo pergi ke halaman belakang, dia kemudian melihat dua wanita cantik di bawah pohon waru doyong.


Glembo mengucek matanya, ternyata pandangannya benar melihat dua wanita cantik yang sedang bercengkrama di bawah pohon tersebut.


"Astag! Kenapa ada jurig siang bolong seperti ini? Apakah malam hari mereka tertidur jadi keluarnya siang?" gumam Glembo pada dirinya sendiri.


Glembo begidik ngeri, dia langsung berlari masuk ke dalam Rumah. Tentu saja Glembo akan melaporkan kejadian tersebut pada Aditya.


Dog... Dog... Dog....

__ADS_1


Bukan mengetuk pintu lagi, Glembo menggedor Pintu kamar Aditya dengan sangat kencang.


"Dit! Adit! Bangun Dit!" teriak Glembo dengan suara lantang.


Glembo terlihat ketakutan, karena melihat dua wanita cantik yang duduk di bawah pohon waru doyong.


Aditya di dalam kamarnya tentu saja langsung terbangun, dia yang sedang mimpi basah, menikmati bidadari alam Mimpi langsung membelalakan matanya dengan lebar.


Semua kenikmatan di alam mimpi sirna seketika, terlihat wajah Aditya yang sangat jelek karena kecewa, mimpinya tidak sampai dia menusukkan logam mulianya dalam goa.


"Dit! Bangun Dit! Ada Jurig!" teriak Glembo lagi dari luar pintu.


Aditya menggertakkan giginya, dia benar-benar marah dengan temannya itu, dengan bersungut-sungut, Aditya beranjak dari kamar tidurnya. Dia langsung membuka Pintu kamarnya.


"Ada a...." Aditya belum selesai bicara, di gedor kepalanya oleh Glembo karena sahabatnya tersebut tidak melihat ke depan.


"Aduh!" teriak Aditya yang di gedor tangan Glembo dengan kencang.


"Gendut! Brengsek kamu yah!" teriak Aditya marah sambil mencengkram tangan sahabatnya itu.


Aditya menghempaskan tangan Glembo "Ada apa brengsek!" tanya Aditya ketus.


Glembo memegangi tangannya yang sakit akibat cengkraman Aditya "ada Jurig Dit, di bawah pohon waru doyong." ucap Glembo dengan nada sendu, karena tangannya sangat sakit.


"Jurig, Jurig terus! Kemarin kamu juga bilang ada Jurig, tapi nyatanya tidak ada sama sekali!" jawab Aditya ketus sambil masuk ke dalam kamarnya kembali.


Glembo ikut masuk ke dalam kamar Aditya "Aku serius Dit."


Aditya menghela napas, dia melihat dari jendela kamarnya untuk memastikan kebenaran ucapan Glembo.


Glembo juga ikut melihat di samping Aditya, dia langsung berseru saat melihat Rebecca dan Sintia yang masih duduk di bawah pohon waru doyong.


"Tuh kan Dit, aku gak bohong sama kamu." ucap Glembo bangga.


Aditya memerhatikan dua wanita itu dengan seksama, dia kembali menghela napas saat tahu siapa yang ada di sana.

__ADS_1


"Jurig matamu! Itu Rebecca dengan Sintia Glembo!" Aditya merasa di bodohi sahabatnya tersebut.


"Iyakah?" Glembo memerhatikan dua wanita cantik tersebut dengan seksama. Glembo tersenyum kecut "Eh... ternyata aku salah, hehehe...." Glembo nyengir kuda di hadapan Aditya.


"Kalau bukan sahabatku, sudah aku lemparkan kamu dari atas sini ke bawah!" ucap Aditya ketus sambil kembali ke tempat tidurnya dan merebahkan diri di sana.


Glembo hanya bisa tersenyum getir, lagi-lagi dia salah, padahal dia ingin berguna untuk Aditya. Namun, yang terjadi malahan dia selalu salah menilai.


Glembo ikut berbaring di ranjang Aditya, dia menatap langit-langit "Dit, Kampung kita sekarang sudah maju berkat kamu, setelah ini rencana kamu selanjutnya apa?"


Aditya mengernyitkan dahinya, dia menoleh ke arah sahabatnya tersebut yang sedang menatap langit-langit. Dia tidak menyangka kalau Glembo bisa bertanya serius juga.


"Entahlah... Aku masih ingin memajukan Kampung Karbal, untuk kedepannya belum berpikir ke sana." jawab Aditya santai.


"Oh... gitu yah." Glembo terdengar menghela napas, dia kemudian buka suara lagi "Dit, aku takut kamu bakal lupa sama aku nantinya, apalagi kamu sekarang sudah punya segalanya." suara Glembo terlihat sangat sedih.


Aditya kembali melirik sahabatnya itu yang masih menatap langit-langit kamarnya, dia benar-benar merasa heran dengan Glembo yang tiba-tiba sangat melankolis.


Aditya menaruh punggung tangannya di dahi Glembo "tidak panas kok, kamu tidak sakit kan Ndut?" tanya Aditya sambil beranjak duduk.


"Siapa yang sakit Adit! Aku tidak apa-apa." ucap Glembo ketus, karena perkataannya di anggap hanya candaan oleh Aditya.


"Hehehe... maaf, maaf Ndut." Aditya terkekeh pelan.


Melihat keseriusan di wajah Glembo, Aditya juga ikut serius sekarang, dia tidak ingin mengecewakan sahabatnya tersebut.


"Aku tidak mungkin melupakan kamu Ndut, kamu adalah keluargaku satu-satunya. Di saat yang lain menghina dan menjauhiku, hanya kamu yang ada di sampingku, percayalah aku bukan kacang yang lupa sama kulitnya." jawab Aditya dengan serius.


"Terima kasih Dit, aku harap kamu tidak akan pernah berubah nantinya." Glembo terlihat sedikit sumringah, Walaupun masih ada jejak kesedihan di matanya itu.


Aditya tahu kalau Glembo sangat peduli padanya, bukan hanya dia yang khawatir pada Glembo, tapi Glembo juga memiliki pemikiran yang sama dengannya.


Kedua sahabat tersebut memang seolah terikat satu sama lain, keduanya memiliki ikatan batin sendiri, meskipun mereka tidak terlahir dari rahim yang sama. Mungkin karena mereka menjalani penderitaan bersama-sama, jadi ikatan keduanya saling menguat satu sama yang lain.


"Adit! Kamu sudah bangun?" tanya seseorang tiba-tiba, ketika Aditya dan Glembo sedang saling membuka perasaan.

__ADS_1


__ADS_2