
Selepas makan, Aditya langsung di antar ke kamar khusus untuknya, kamara yang memang sudah di desain khusus untuk pemimpin Padepokan macan kumbang yang baru.
Aditya merasa senang karena di perlakukan layaknya orang yang berkedudukan tinggi, dia masuk kamar dan menutupnya langsung.
"Selamat datang tuan." tiba-tiba saja terdengar suara lembut yang menyambut Aditya ketika dia berada di dalam kamar.
Tubuh Aditya merinding, karena biasanya suara lembut tersebut pasti jurig, dia menoleh perlahan-lahan untuk memastikan siapa yang menyapanya.
Aditya langsung tertegun di tempatnya saat melihat seorang wanita cantik, dengan mata biru, Rambut hitam tergerai.
Pakaian serba putih yang menerawang sehingga memperlihatkan jelas penutup gunung kembar dan belahan sungai Amazon yang berwarna merah cerah.
Air liur Aditya seolah ingin menetes, karena kecantikan Rebecca dan Vivi tidak bisa di bandingkan dengan kecantikan yang ada di depannya tersebut.
Wanita tersebut terlihat malu-malu saat Aditya menatapnya dengan tatapan mesum seperti itu. Namun bukannya takut wanita tersebut malah menghampiri Aditya.
"Tuan, Ayah bilang malam ini aku harus menemani tuan, apakah anda tidak keberatan aku temani?" tanya Wanita tersebut sambil merangkul lengan Aditya dan menyenderkan kepalanya di bahu Aditya.
Aditya mengangguk seperti orang bodoh saja, dia seolah masuk dalam dunia ilusi wanita tersebut, Aditya seakan pasrah saja apa yang akan di lakukan wanita itu padanya.
Wanita itu menuntun Aditya ke ranjang, dia tanpa ragu membelai-belai pusaka Aditya yang masih tertutup celananya.
Pusaka Aditya meronta tidak karuan, meski dia tidak mengenal wanita tersebut, tapi pria mana yang bisa menolak kecantikan seperti itu?
Aditya duduk di ranjang, pandangan-nya tidak teralihkan sama sekali pada wanita itu, Aditya selalu menatapnya seolah dia tidak pernah bisa memalingkan wajah.
Aliya Rajasa, Anak Liam Rajasa dari istri ketiganya. Aliya memang anak Liam tercantik, bukan karena dia anak Liam satu-satunya yang perempuan, tapi kecantikan Aliya memang tidak ada bandingannya.
Sementara Aditya yang sedang terhipnotis oleh kecantikan Aliya, Liam sedang berbincang dengan Rayana di aula padepokan setelah selesai mengatur anak buahnya membereskan tempat pertarungan.
"Kamu yakin membiarkan anak perempuan kamu untuk tuan Aditya Liam?" tanya Rayana heran, karena biasanya Liam akan menolak seluruh Pria yang menggoda anaknya.
Liam menghela napas "Entahlah Guru, Aliya yang menawarkan diri untuk menemani tuan Aditya, sepertinya dia jatuh cinta padanya saat pertama kali melihat waktu beliau menyerang Padepokan." ucap Liam tidak berdaya.
Rayana terkekeh mendengar ucapan Liam "Kalau begitu bagus Liam! Anakmu tahu mana orang yang akan berkuasa nantinya."
__ADS_1
"Guru bisa saja." ucapnya sambil tersenyum kecut.
Aliya memang melihat Aditya pertama kali, waktu saat dia menyerang Padepokan Macan Kumbang bersama Wasesa dan Darman.
Aliya langsung mengagumi sosok Aditya yang menurutnya sangat berkarisma dan kuat. Karena Aliya biasa di didik untuk mencari pasangan yang bisa melindunginya oleh Ayah dan Ibunya, dia akhirnya menjatuhkan pilihan pada Aditya, padahal dia tidak mengenal Aditya sama sekali.
Semenjak saat itu, Aliya selalu menanyakan Aditya pada Liam, dia bertanya pada Ayahnya, kapan Aditya akan datang lagi ke padepokan Macan kumbang dan pertanyaannya itu hampir setiap hari dia lakukan pada Liam.
Liam akhirnya menyadari kalau anaknya sudah kepincut dengan sosok Aditya, mau tidak mau Liam akhirnya membolehkan Aliya melakukan hubungan dengan Aditya jika dia datang ke padepokan dan inilah puncak kemauan Aliya sendiri yang ingin melayani Aditya.
Ibu Aliya, Sutri Sulasih malah mendukung anaknya, jadi Liam tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan menyerahkan semua keputusan pada Aliya sendiri.
Di kamar Aditya, Aliya sudah mulai bermandikan peluh saat Aditya mulai memberikan sentuhan padanya.
Aliya sudah tidak sabar untuk melakukannya dengan Aditya, sampai-sampai dia sesegera mungkin melucuti pakaiannya dan pakaian Aditya.
Aditya yang sudah mendapatkan pengalaman Foreplay dari Rebecca meski hanya sebentar saja, dia mulai paham dengan keinginan seorang wanita saat sedang berada di kamar.
"Astaga Tuan!" Aliya terkejut saat melihat pusaka Aditya yang terlihat sangat perkasa dan hampir seukuran lengannya yang mungil itu.
Aliya menelan ludah berkali-kali, walaupun dia menginginkan-nya tapi dia takut karena ukurannya begitu besar. Padahal Ibunya pernah bilang padanya kalau ukuran udang Jawa paling hanya sebesar ibu jari kaki.
"Kenapa? Apa tidak jadi?" tanya Aditya dengan polosnya, meski dia menginginkan-nya, tapi dia juga tidak mau memaksa Aliya.
Aliya menggelengkan kepalanya, dia langsung terlentang dan membiarkan belahan sungai Amazon-nya terpampang jelas di depan mata Aditya.
Rumput-rumput liar yang ada di atas belahan sungai Amazon terlihat melambai-lambai di mata Aditya, sehingga napas Aditya semakin memburu saja.
Satu kali gagal
Aliya menghela napas tertahan.
Dua kali gagal
Aliya menahan napas lagi.
__ADS_1
Ketiga kalinya, Perlahan pucuk pusaka Aditya masuk, Aliya sudah membelalakan matanya, padahal itu baru sepucuk saja.
Bless
Arghhh
Jeritan Aliya sangat keras sehingga hampir seluruh penghuni Padepokan Macan kumbang mendengarnya.
Di aula padepokan, tangan Liam yang sedang menyeruput teh yang ada di cangkirnya gemetaran, ini pertama kalinya dia mendengar putri kesayangannya berteriak kesakitan.
"Apa sesakit itu?" tanya Rayana pura-pura bodoh.
Liam tidak menjawab, dia masih gemetaran karena tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi dengan putrinya tersebut.
Bukan hanya satu kali teriakan Aliya, dia beberapa kali berteriak dengan suara serak, sehingga semakin membuat Liam ketakutan anaknya tidak bisa mengimbangi Aditya.
"Gu-guru, Apakah anakku baik-baik saja di sana?" Liam juga tersalur seperti orang bodoh juga.
"Hahahaha... Kamu ini kaya tidak pernah saja, dia pasti baik-baik saja, dan dengarlah sudah tidak ada jeritan lagi, dia pasti mulai menikmati milik tuan Aditya." ucap Rayana sambil terkekeh geli.
Liam tersenyum getir, dia tidak menyangka kalau akan mendengar jeritan malam pertama anaknya sendiri.
Bukan hanya Liam saja, ketiga istri Liam juga tersenyum kecut, putri mereka berteriak seperti itu tapi tidak bisa membantunya sama sekali.
Sutri menitihkan air matanya "Putriku sudah dewasa, ah... aku tidak sabar ingin menimang cucu." ucapnya terharu karena akan segera menimang seorang cucu.
Rajem istri kedua Liam menimpali "kamu benar, kita akan segera menimang cucu, daripada ngarepin dua anak laki bodoh kita yang tergila-gila sama ilmu beladiri sama seperti ayahnya."
"Semoga saja anaknya kembar tiga, agar kita bisa menimangnya satu-satu." Wasti istri pertama Liam juga terlihat sangat bahagia.
Ketiga istri Liam memang hidup rukun, mereka bertiga tidak pernah iri satu sama lain, mereka selalu menerima apapun yang akan Liam berikan pada mereka.
Sutri yang merupakan Ibu dari Aliya tentu saja sangat senang, dia sekarang bisa bernapas lega karena sebentar lagi anaknya akan memberikannya cucu.
Sementara itu di kamar Aditya, Aliya terlihat sangat lemas, bercak darah terlihat di kasur mereka. Napas Aliya tersengal-sengal karena saking kuatnya Aditya.
__ADS_1
Untung saja ini pertama kali untuk Aditya, jadi dia dengan cepat mengeluarkan lava panasnya, dengan Jepitan sungai Amazon yang masih sempit, membuat pusaka Aditya cepat mencapai puncak.
Aliya memeluk Aditya yang berbaring di sampingnya, meski dia merasakan rasa sakit yang luar biasa di sungai Amazon-nya. Namun, dia sangat bangga karena bisa memberikannya pada orang yang dia kagumi.