
Sesuai Rencana, ketika langit mulai gelap dan malam mulai datang. Aditya, Wasesa dan Darman langsung pergi ke Padepokan Macan Kumbang. Mereka bertiga naik Mobil Aditya dengan Pak Tomo sebagai sopirnya.
Di tengah perjalanan Pak Tomo yang tidak tahu akan kemana, dia bertanya "tuan, kita mau kemana?"
"Wasesa, kamu tunjukkan jalan pada Pak Tomo!" perintah Aditya pada Wasesa.
"Baik tuan!" jawabnya cepat, dia kemudian buka suara pada pak Tomo "Kita ke Gunung Agung, tepatnya di Kampung Lembah mana!" Wasesa memberitahu Pak Tomo tujuan mereka.
Pak Tomo mengangguk mengerti, dia tidak bertanya lagi dan langsung tancap gas ke Gunung Agung.
Gunung Agung tempat yang cukup ramai, di sana banyak sekali obyek wisata pemandian air panas. Namun, di balik keramaian Gunung Agung, ada desas-desus kalau masyarakat di sana semuanya tunduk dengan Padepokan Macan Kumbang.
Adapun Padepokan Macan kumbang yang berdiri di kampung Lembah mana, sebenarnya kampung tersebut merupakan bagian dari Padepokan. Dengan kata lain kampung Lembah mana telah di kuasai Padepokan Macan Kumbang.
Aditya dan yang lainnya sampai di Kampung Lembah mana ketika sudah larut malam, karena mereka butuh waktu hampir tiga jam untuk sampai ke sana.
"Pak Tomo, kamu parkiran Mobil jauh dari sini, nanti aku akan telepon jika urusan kami sudah selesai!" perintah Aditya pada pak Tomo.
"Baik tuan!" jawab Pak Tomo yang langsung meninggalkan tempat tersebut.
Selepas Pak Tomo meninggalkan tempat tersebut, Mereka bertiga langsung memasuki kampung Lembah mana.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka bertiga di hadang bawahan Liam, yang memang dari tadi sudah memerhatikan mereka bertiga.
"Berhenti kalian!" lima orang menghadang mereka bertiga dengan Arogan.
Darman dan Wasesa menoleh ke arah Aditya. Aditya yang tahu maksud mereka berdua langsung mengangguk.
Wasesa dan Darman tersenyum, mereka berdua kemudian langsung menyerang tanpa menunggu musuh mereka sadar.
Bag
Bug
Arghh
Arghh
Hanya dalam hitungan detik, kelima orang yang menghadang mereka sudah terkapar tidak sadarkan diri di tanah.
Wasesa dan Darman merasa bangga karena bisa berguna oleh Aditya. Namun, ketika mereka sedang berbangga diri, siluet Khodam ular Hitam menyerang mereka berdua.
Bang
Bang
Bruakk
__ADS_1
Wasesa dan Darman terhempas puluhan Meter hingga menabrak rumah warga, akibat sabetan ekor Khodam Ular yang menyerang mereka berdua.
Aditya menyipitkan matanya, dia menatap ular hitam besar yang ada di depannya, terlihat seorang pria yang sedang berdiri di atas kepala ular tersebut sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Hahahaha... Orang lemah seperti kalian berani sekali masuk wilayah Padepokan Macan Kumbang!" pria tersebut terlihat sangat percaya diri.
Groaaar
Khodam Harimau milik Wasesa menerjang dan menggigit leher Ular tersebut, sehingga membuat pria yang ada di depan kepala Khodam Ular langsung melompat turun.
"Cih! Ternyata kalian memiliki Khodam juga ternyata!" gerutu pria tersebut.
"Berisik!" Darman menyerang bersama dengan Khodam dua Jin hijau kembarnya.
Swuz
Bang
Bruak
Pria tersebut giliran terlempar puluhan meter dan menabrak rumah warga. Akibat suara tubrukan yang kedua kalinya mengenai rumah, warga Kampung Lembah mana yang tadinya terlelap kini terbangun.
"Ada Rampok!" seru salah satu warga dengan suara lantang.
"Rampok!"
"Rampok!"
Namun mereka semua terkejut saat melihat Khodam ular dan Harimau yang sedang bergelut dengan sengit.
Pria yang tadi terkena serangan Darman, dia bangun lagi sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Dia memasukkan dua jarinya ke mulut "suit... suit....!" suara siulan sangat keras keluar dari mulut pria tersebut.
Setelah dia bersiul, tidak berselang lama beberapa orang dengan kecepatan luar biasa mereka sampai di tempat pertarungan.
Darman menelan ludah, dia tahu kalau mereka para Guru Padepokan Macan Kumbang.
Darman melirik melihat Aditya. Betapa terkejutnya Darman saat Aditya sedang bercengkrama dengan salah satu hansip Kampung Lembah mana.
"Hadeh... Tuanku memang beda dari yang lain, masa musuh di ajak bicara." Darman menggelengkan kepalanya tidak berdaya, dia kemudian fokus dengan pertarungan kembali.
Tiba-tiba Darman di kejutkan ketika sebuah pedang Khodam yang akan menebasnya. Darman tidak bisa menghindar, karena dia tadi lengah sejenak saat melihat Aditya.
Trang!
Suara benturan pedang terdengar, ketika jarak pedang Khodam satu meter lagi mengenai Darman.
__ADS_1
"Jangan melamun!" ucap Aditya yang sedang menahan tebasan tersebut dengan Keris naga Bunting yang langsung dia keluarkan tanpa drama ada angin atau petir menyambar terlebih dahulu.
"Java Keluarlah!" karena melihat banyak Khodam bermunculan di sisi musuh, Aditya langsung menyuruh Java keluar untuk membantu Wasesa dan Darman yang kesulitan melawan mereka.
Ular putih langsung keluar dari Cincin Aditya "Jangan diam Darman! Bantu Wasesa!"
Darman yang dari tadi tertegun, dia baru tersadar "Eh... Ba-baik tuan!"
Darman dan kedua Khodam kembarnya membantu Wasesa yang sedang di keroyok tiga Khodam sekaligus.
Wasesa terlihat kepayahan, karena kekuatan mereka semua setara dengannya, kalau satu lawan satu mungkin dia bisa menang, tapi kalau di keroyok ya babak belur.
Bang
Bang
Ular putih menerjang salah satu Khodam yang melawan Khodam Harimau Wasesa. tentu saja Wasesa terkejut, karena ini pertama kalinya dia melihat Khodam ular putih tersebut. Padahal dia rasa kalau Khodam tuannya adalah Naga.
Darman juga ikut menyerang mereka, sekarang Khodam mereka berimbang, malahan di kubu Aditya malah menang.
Sementara itu Aditya melawan tiga Orang guru yang ada di hadapannya, dia tidak merasa takut sama sekali.
"Apa kamu pikir bisa melawan kami seorang diri Bocah!" tegur salah satu dari mereka.
"Menyerahlah!" yang lainnya menimpali.
Aditya hanya menyeringai tipis, dia menganggap mereka semua seperti katak dalam sumur saja.
Melihat Aditya yang menyeringai, mereka bertiga sangat marah, secara bersamaan mereka menyuruh Khodamnya masing-masing untuk menyerang Aditya.
"Matilah kau Bedebah!" ucap salah satu dari mereka, ketika menyerang Aditya bersama dengan Khodam masing-masing.
Angin berhembus dengan kencang, Petir menyambar-nyambar ketika Aditya mengeluarkan keris naga Bunting dari selongsongnya.
Groaar
Seekor Naga besar muncul, membuat semua Khodam yang tadi akan menyerang langsung terdiam menatap Naga Bunting yang di keluarkan Aditya.
Aditya menghunuskan kerisnya ke depan, Naga Bunting langsung menerjang ke depan dengan menyemburkan petir pada para Khodam mereka semua.
Duar
Duar
Duar
Hanya dalam satu serangan Khodam mereka langsung menghilang tanpa jejak, Para bawahan Liam langsung me.untahkan seteguk darah dan tersungkur di tanah, mereka yang sedang menerjang Aditya malah tidak berdaya di atas tanah. Aditya berjalan santai mendekati mereka bertiga yang sedang tidak berdaya di tanah.
__ADS_1
Booom
Tiba-tiba ada Bola Api besar yang menghantam Aditya, sehingga dia terpaksa melangkah mundur.