
Sontak saja mereka semua menoleh ke arah suara. Bawahan Mugimin yang tadinya sangat sangar dan percaya diri, mereka semua seperti kerupuk yang di siram Air, langsung melempem dan menundukkan kepalanya.
"Syukurlah ada Anda tuan Aditya, Mereka melarang kami untuk membuat jalan air di tanah pak Mugimin, padahal kami hanya meminta satu meter saja." ucap Mandor tidak berdaya.
Aditya menyipitkan matanya "bilang pada pak tua sialan itu! Berapa dia mau menjual semua tanahnya?! Bila perlu aku beli juga sekalian kepalanya!"
Suara Aditya sangat lantang, sehingga yang mendengarnya akan langsung terkesiap. Meskipun terdengar sombong, tapi Aditya melakukan hal tersebut karena dia sudah muak dengan Mugimin yang selalu mencari gara-gara dengannya.
Mandor menelan ludah, begitu juga dengan para pekerjanya. Mereka tidak menyangka kalau Bos mereka akan sangat tegas dan tidak tanggung-tanggung kalau ingin melakukan sesuatu.
Sementara para bawahan Mugimin yang berjumlah enam orang tidak berani menatap Aditya mereka semua menundukkan kepalanya karena ketakutan, berbanding terbalik saat Aditya belum datang.
"Kenapa kalian hanya diam! Apa kalian tuli!" teriak Aditya dengan kencang.
Bawahan Mugimin tentu saja kaget, karena suara Aditya sangatlah keras, mereka semua langsung lari terbirit-birit meninggalkan tempat tersebut.
Aditya menghela napas "kalian lanjutkan pekerjaan, tenang saja, mereka semua urusanku. Nanti anak buahku akan aku kirim ke sini." Aditya menepuk bahu Mandor sambil tersenyum.
Mandor hanya manggut-manggut seolah mengerti, tubuhnya bergetar ikut takut seperti bawahan Mugimin, karena suara Aditya sangat kencang tadi.
Aditya meninggalkan para pekerja dan kembali ke rumahnya, sesuai Janji dia meminta Pramdani dan Darman untuk mengirim anak buahnya agar menjaga para pekerja proyek, agar tidak di ganggu orang-orang.
Tentu saja Pramdani dan Darman dengan sigap menyuruh orangnya langsung ke sana, sesuai perintah Aditya.
Sementara itu di Kediaman Mugimin, anak buahnya sedang melaporkan masalah yang terjadi di lahan miliknya.
"Juragan, kita harus bagaimana? Aditya mengancam kita di sana?" ucap salah satu anak buahnya dengan tidak berdaya.
__ADS_1
Mugimin menggertakkan giginya yang ompong, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Polisi saja tidak bisa berkutik melawan Aditya.
"Sudahlah Ayah! Jangan ganggu Adit terus! Kenapa Ayah tidak coba bekerja sama dengan Aditya saja?" celetuk Vivi yang tiba-tiba muncul.
Mugimin mengerutkan keningnya "Kerja sama dengan-nya? Apa kamu bercanda Vivi? Di mana harga diri Ayah nantinya."
"Harga diri, harga diri terus yang Ayah bicarakan. Ayah seharusnya sudah sadar kalau Ayah sudah tidak akan bisa melawan Aditya lagi! Dia sekarang sudah memiliki banyak pendukung! Musuh-musuhnya saja sekarang mau jadi anak buahnya." ucap Vivi Ketus.
"Ayah orang terkaya di Kampung kar..." Mugimin belum selesai bicara, Vivi sudah memotong ucapannya "Karbal? Sadar Ayah! Aditya sekarang jauh lebih kaya dari Ayah! Dia bahkan mampu membiayai seluruh pembangunan kampung! Apakah Ayah mau seperti ini terus? Harusnya Ayah malu dengan umur Ayah sudah segini tapi masih seperti anak kecil!"
Vivi tidak ragu-ragu menasehati orang yang telah membesarkan dirinya seorang diri itu, karena Vivi tidak mau Ayahnya terus-terusan terjebak dalam ideologinya yang tidak baik sama sekali.
Plaaak
"Berani sekali sekarang kamu Vivi!" Mugimin malah menampar Vivi dengan sangat keras, sehingga pipi putih mulusnya ada cap Lima jari Mugimin di sana.
Vivi langsung berlari meninggalkan rumah dengan menangis terisak, dia kecewa dengan Ayahnya yang sekarang. Padahal dulu Mugimin tidak pernah memukul anaknya, meskipun dia sangat marah dengan mereka. Namun, Mugimin yang sudah di butakan Egonya, dia seolah tidak peduli lagi dengan semua itu.
"Cari orang kuat yang bisa membantu kita! Aku akan mengeluarkan uang banyak!" perintah Mugimin pada bawahannya.
"Baik Juragan!" jawab mereka serempak yang langsung meninggalkan kediaman Mugimin.
"Jangan kira aku akan menyerah begitu saja Aditya!" Mugimin mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
...***...
Sementara itu di rumah Aditya.
__ADS_1
Glembo yang sudah di belikan Ponsel baru oleh anak buah Aditya yang di suruh olehnya, dia langsung mendownload game favoritnya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan yang lainnya, yang penting main, main,main dan Main.
Glembo akan berhenti main ketika perutnya mulai keluar suara kodok. saat itulah dia akan kembali ke dunia nyata, menerima takdir kalau dirinya adalah orang yang tidak berguna.
Sedangkan Aditya sedang berbincang dengan, Darman dan Wasesa, untuk melakukan penyerangan ke padepokan Macan kumbang.
"Tuan, Anda serius akan menyerang ke sana?!" tanya Wasesa terkejut, meskipun dia sebenarnya senang, tapi dia sadar kalau di padepokan macan kumbang, banyak pengguna ilmu Kanuragan Hebat.
"Benar tuan, apa anda tidak lebih baik menyusun rencana lebih matang lagi?" Darman menimpali, karena dia juga tahu kalau Padepokan tersebut sangatlah kuat menurutnya.
Aditya mengernyitkan dahi "Kalian takut?"
Wasesa dan Darman saling menatap, mereka berdua menghela napas tidak berdaya, karena mereka tidak menyangka kalau tuannya malah akan balik bertanya seperti itu.
"Bukan begitu tuan, tapi anak buah saya tidak ada yang setara dengan anak buah mereka." jawab Darman tidak berdaya.
"Darman benar tuan, sekelas Pramdani saja mungkin hanya sekuat murid tingkat atas mereka, mungkin hanya saya yang setara dengan para guru di sana." Wasesa setuju dengan ucapan Darman.
"Terus apa masalahnya? Aku hanya akan membawa kalian berdua, biarkan anak buah kalian tetap berjaga di sini." jawab Aditya santai.
Lagi-lagi Darman dan Wasesa saling menatap, mereka berdua saling menganggukan kepala, mereka setuju kalau hanya mereka berdua saja yang ikut dengan Aditya.
"Kalau begitu saya setuju" ucap Wasesa mantap.
"Saya juga." timpal Darman.
"Bagus! Nanti malam kita akan langsung berangkat!" Aditya tidak ingin membuang waktu, baginya masalah cepat selesai maka akan semakin bagus.
__ADS_1
Wasesa dan Darman mengangguk mengerti, mereka akan membantu Aditya dengan seluruh kemampuan mereka.