
Aditya memerhatikan Aji Darma dengan seksama, walaupun tadi dia sudah melihatnya, tapi dia belum memastikan orang seperti apa Aji Darma itu.
Walikota dan Santoso yang baru keluar dari Kafe, melihat pertarungan mereka terkejut, karena tiba-tiba saja tempat tersebut hancur berantakan, padahal mereka hanya melihat Aditya dan Luwito saja yang bertarung, tapi tempat tersebut bagaikan tertabrak truk tronton saja.
Aji Darma buka suara "Aku tidak menyangka kalau Kekuatan kamu sudah sebesar ini Bocah! Tapi Aku tidak akan membiarkanmu lebih kuat dari ini!"
Aji Darma melakukan gerakan aneh yang membuat Energi spiritual hitam pekat menyelimutinya.
"Ajian Rengkah Gunung!" teriak Aji Darma yang langsung menggunakan teknik terkuatnya langsung.
Java terkejut, karena Aji Darma memiliki Ajian terlarang tanah Java, Ajian yang bisa membuat orang-orang langsung gosong ketika terkena serangannya.
"Tuan berhati-hati lah!" seru Java pada Aditya.
Aditya langsung waspada, dia melihat siluet roh Aji Darma yang akan menyerangnya, sontak saja Aditya bereaksi, tapi sayangnya dia terlambat karena roh Aji Darma lebih cepat daripada gerakannya.
Boomm
Boomm
Suara ledakan-ledakan terdengar di sekitar Aditya, tubuh Aditya terkena tapak roh Ajian Rengkah gunung Aji Darma.
Arghhh
Tubuh Aditya langsung seperti terbakar saja, tapi dia hanya merasakan sakit sesaat saja dan kembali seperti biasa.
Aji Darma mengira Aditya pasti langsung tewas terkena Ajiannya, tapi sayangnya Aditya masih berdiri tegap di tempatnya.
Bukan hanya Aji Darma yang tercengang, tapi Java juga ikut terkejut, padahal seharusnya Aditya akan terkena serangan mematikan itu.
__ADS_1
"Sialan kamu pak tua! Kamu ngolesin Balsem saat pertarungan? Panas goblok!" gerutu Aditya kesal pada Aji Darma.
"Hah...!" Aji Darma melebarkan rahangnya tidak percaya, Ajian Rengkah gunungnya di anggap Aditya hanya sebatas balsem saja.
Luwito juga ikut terkejut, padahal dia mengira kalau Aditya akan tewas saat menerima serangan Aji Darma, tapi dia malah seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan serangan tersebut.
Kedua pria sepuh tersembunyi merasa di permainkan oleh Aditya, mereka yang sudah mengerahkan kekuatan terbaiknya tapi belum bisa melukainya sama sekali.
"Sudah cukup main-mainnya! Nahi, Keluarlah!" Khodam Naga Hitam keluar, Naga dengan muda dengan ukuran lebih besar dari Java meraung-raung di atas Aji Darma dan Luwito.
Aditya mengernyitkan dahi saat melihat Nahi, dia mau tertawa tapi takut dosa karena menertawakan orang tua. Dia hanya bisa menahan tawa melihat Nahi yang padahal ukurannya lebih besar dari Java.
Java menghela napas, dia tahu apa yang ada dalam pikiran tuannya tersebut, tapi Java juga sedikitpun tersenyum getir, karena ternyata orang terkuat di tanah Java hanya sebatas itu saja.
Melihat Aditya yang memerhatikan Nahi dengan seksama tanpa bergerak sama sekali, Aji Darma dan Luwito mengira, kalau Aditya ketakutan.
"Sekarang kamu tahu kan perbedaan kekuatan kita!" Aji Darma juga terlihat sombong.
Aditya menghela napas "Jadi cuma segini kekuatan Khodam kamu, Pak tua?" tanya Aditya malas.
"Java, kamu istirahatlah." perintah Aditya pada Java.
Java yang mengerti maksud Aditya, dia langsung masuk ke dalam Cincin yang ada di jari Aditya.
Aji Darma mengira kalau Aditya akan menyerah. Namun, sedetik kemudian setelah Java masuk ke dalam Cincinnya dia buka suara.
"Karena kamu serius, aku juga akan serius!" Aditya mengangkat tangannya, suara kilatan petir langsung terdengar, kemudian muncul sebuah keris di tangan Aditya.
Aditya mengeluarkan keris dari selongsongnya "Keluarlah Nabu!"
__ADS_1
Kilatan petir makin menyambar dahsyat, angin bertiup dengan kencang, cuaca yang tadinya cerah langsung berubah menjadi gelap seolah akan terjadi badai saja.
Walikota dan Santoso yang melihat kejadian tersebut, mereka berdua menelan ludah, meski tidak bisa melihat sosok Khodam yang di keluarkan Aditya dan Aji Darma, tapi mereka berdua masih bisa merasakan kekuatan yang menakutkan mengelilingi tempat tersebut.
Sosok Naga Bunting keluar dari keris yang dipegang Aditya, gemuruh petir menyambut kehadirannya dengan bersaut-sautan, seperti terompet penyambutan saja.
Luwito dan Aji Darma langsung berkeringat dingin saat melihat sosok Naga berwarna emas, dengan ukuran yang sangat besar meraung di atas Aditya.
Jika di bandingkan dengan Nahi, mungkin seperti anak ular yang baru menetas melawan seekor ular sanca yang sudah dewasa.
Aditya tersenyum melihat ekspresi keduanya yang terlihat ketakutan dengan kehadiran Naga Bunting miliknya.
"Kenapa pak tua? Mana tadi suara sumbang kalian?" ejek Aditya pada keduanya.
Aji Darma tidak tahu harus menanggapi perkataan Aditya dengan seperti apa, karena dia tahu kalau pemuda di depannya bukanlah lawan sepadan untuknya.
"Makan belut hitam itu Nabu!" Aditya memberikan perintah.
Nabu langsung bergerak ke arah Nahi untuk melahapnya seperti perintah tuannya tersebut. Nahi beringsut ketakutan, dia seketika langsung membatalkan kontrak Khodam dengan Aji Darma dan langsung lenyap dari tempat tersebut.
Aji Darma langsung memuntahkan seteguk darah, karena pembatalan kontrak sepihak oleh Nahi membuatnya kehilangan separuh energi spiritualnya.
Nabu bingung mau apa, karena Nahi melarikan diri darinya, dengan marah dia langsung melahap Aji Darma dan Luwito secara bersamaan yang tidak bisa bergerak karena terintimidasi oleh Nabi.
Nyam... Nyam...
"Ternyata gurih juga daging manusia." Nabu yang biasanya tidak bicara, dia sekarang berbicara. Sehingga Aditya terkejut saat mendengarnya.
"Kamu bisa berbicara?"
__ADS_1