
Java menatap Aditya dengan aneh saat tuannya tersebut memanggil dirinya belut putih.
Buto Kramat Jati dan Luwito yang sudah keluar dari Kafe tersebut, dia juga keheranan dengan Aditya yang tidak menghargai Khodamnya sama sekali, padahal seharusnya setiap Khodam dan pemiliknya memiliki perjanjian untuk saling menghargai.
Aditya yang melihat Luwito mengernyitkan dahi, dia merasa jengkel lama-lama melihat pria tua yang ada di depannya tersebut.
"Java! Kalahkan orang-orangan sawah tersebut! Biar aku yang kalahkan majikannya!"
Aditya meremas tangannya sendiri hingga berbunyi, dia seolah sudah siap untuk menghajar Luwito.
Srtttt
Dengan kecepatan melatanya, Java Langsung menyerang Buto Keramat jati. Aditya juga melakukan hal yang sama, dia menerjang ke arah Luwito.
Swuzz
Bug
Bruaakk
"Eh... Kok lemah sekali?" ejek Aditya pada Luwito, karena Luwito tidak bisa menahan serangan Aditya, begitu juga dengan Buto Keramat jatinya yang tidak bisa menahan kibasan ekor Java.
Meskipun Aditya coba tidak menghancurkan Kafe, nyatanya serangan yang dia lakukan bersama Java, membuat Luwito menabrak depan Kafe hingga hancur berantakan.
Luwito mencoba bangkit kembali, meski tubuhnya penuh luka akibat menabrak kaca depan Kafe.
"A-du-duh, sialan kamu Bocah! Kalau mau menyerang setidaknya bilang dulu!" gerutu Luwito kesal pada Aditya.
Aditya ingin tertawa saat mendengar Luwito menggerutu, mana ada gelud minta ijin dulu kalau mau memukul?.
Aditya tersenyum kecut, karena ternyata lawannya tidak sehebat Liam, ataupun Rayana. Pergerakannya saja dia tidak bisa melihatnya sama sekali.
"Buto! Bunuh dia!" seru Luwito pada Khodamnya.
Groaarr
__ADS_1
Buto Keramat jati meraung keras, dia kemudian berlari menerjang ke arah Aditya, dia seolah ingin menghancurkan Aditya, menjadi berkeping-keping.
"Tuan, dia lambat sekali." Java yang menunggu serangan Khodam Luwito, dia merasa bosan menunggu Buto Keramat jati, yang larinya sangat lambat tersebut.
Aditya menghela napas "sudahlah akhiri saja, tidak ada gunanya melawan orang seperti dia."
Aditya juga sama merasa bosan melawan orang seperti Luwito, dia pikir Luwito kuat, tapi ternyata dia tidak lebih hebat dari Darman.
Java mengangguk, dia menerjang ke arah Buto dengan kecepatannya, dia melebarkan rahangnya untuk mematahkan leher Buto Keramat jati.
Klapp
Namun, Buto Keramat Jati menjadi kuat dan bisa menahan rahang Java yang siap menerkamnya tersebut.
Aditya terkejut, begitu juga dengan Java yang sama terkejutnya, padahal tadi dia sangatlah lemah, dan tidak memiliki reflek sama sekali, tapi sekarang seolah dia berubah menjadi lebih kuat dalam seketika.
"Hahahaha... Kamu pikir aku selemah itu Bocah!" tiba-tiba saja Luwito sudah ada di atas Aditya dengan pukulannya.
Aditya menoleh ke atas, dia yang melihat Luwito sedikit terkejut. Aditya menyilangkan tangannya di atas kepalanya untuk menahan serangan Luwito.
Duakk
Tanah yang di pijak Aditya retak karena serangan Luwito sangatlah kuat. Aditya merasa ada yang salah dengan kekuatan Luwito, pasalnya dia tadi tidak bisa bereaksi sama sekali dengan serangannya.
"Bagaimana Bocah! Apa sekarang kamu tahu betapa kuatnya kami?" ejek Luwito yang mengira kalau Aditya takut dengan dirinya.
Aditya menyeringai, dia mulai mengerti dengan kekuatan Luwito "meniru kekuatan orang lain saja kamu membanggakannya?"
Sontak saja Luwito membelalakan matanya, karena Aditya tahu rahasia kekuatan padepokan keramat jati yang bisa meniru kekuatan orang lain dengan menerima serangan dari mereka.
Luwito melompat ke belakang, dia sedikit waspada pada Aditya, Pasalnya hanya dalam sekejap saja dia mengetahui rahasianya.
"Kenapa pak tua? Apa kamu terkejut bisa mengetahui rahasiamu?" ejek Aditya pada Luwito.
Luwito semakin geram, karena Aditya terus memprovokasinya "Persetan denganmu Bocah! Walaupun kamu tahu rahasiaku, Aku akan tetap membunuhmu!"
__ADS_1
Luwito langsung menerjang ke arah Aditya lagi, dia pikir kalaupun Aditya tahu rahasianya, itu bukan masalah untuknya.
Duak
Boomm
Kali ini pukulan mereka beradu, hingga terjadi ledakan yang cukup besar di sekitar mereka berdua.
"Kamu pikir lawanmu siapa, Pak tua?" Aditya sangat yakin kalau tubuh renta Luwito tidak akan sanggup meniru seluruh gerakan dan kekuatannya.
Benar saja, Luwito terlihat menyemburkan seteguk darah, dugaan Aditya dia tidak sanggup menampung kekuatan yang melebihi kapasitas tubuhnya.
Luwito mau melompat mundur, tapi dengan sigap Aditya langsung mencengkram tangannya dengan kuat.
"Mau kemana kamu Pak tua?" Aditya menyeringai ke arah Luwito.
Sontak saja Luwito panik, karena ternyata dia tidak bisa mengalahkan anak muda di depannya itu sendirian.
Slas
Prall
Tangan Luwito terpotong oleh sebuah benda tajam yang terbang ke arah tangannya, benda tersebut seolah bisa di gerakan dan kembali ke pemiliknya.
"Mundurlah Luwito!" ternyata yang memotong tangan Luwito Aji Darma, dia mengetahui kalau Luwito dalam bahaya, oleh karena itu dia memotong tangannya langsung.
Luwito mengangguk mengerti, sambil memegangi tangannya yang berlumuran darah, dia langsung bergegas mundur di belakang Aji Darma.
Aditya yang memegang tangan Luwito dia melemparkan tangan tersebut ke arah Luwito "Ini ketinggalan pak Tua!"
"Aduh!" Luwito mengaduh kesakitan saat tangannya yang di lemparkan Aditya mengenai kepalanya.
Luwito tersenyum getir saat melihat tangannya yang tergeletak di tanah, dia mau memungutnya, tapi dia tiba-tiba memuntahkan seteguk darah dan ambruk bersimpuh di tanah.
Luwito melihat ke arah Buto Keramat Hatinya, benar saja, kepala Khodamnya terputus karena di gigit Java, sehingga Khodamnya harus menghilang dari sana.
__ADS_1
Java yang sudah menyelesaikan tugasnya, dia kembali ke sisi Aditya "Tuan, hati-hatilah! Sepertinya dia lebih kuat dari orang barusan!"
Java memberikan peringatan pada Aditya untuk waspada terhadap Aji Darma, karena dia merasakan energi spiritual yang aneh dari Aji Darma.