
Aditya tidak tidak berniat menguasai seluruh Padepokan di tanah Java, oleh karena itulah saat mengalahkan Aji Darma dan Luwito, dia membiarkan Padepokan mereka.
Yang di inginkan Aditya sekarang, menitih karirnya setinggi mungkin, dia tidak mau jika kelak keturunannya, mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Aditya yang sekarang sudah memiliki pemikiran jauh ke depan berkat kecerdasan Brahma yang di milikinya.
Taksi Online yang di naiki Aditya, membawanya ke kediamannya, melihat Aditya pulang dengan Taksi Online. Pak Tomo langsung menghampirinya karena merasa bersalah.
"Tuan, kenapa tidak menghubungi saya?" tanya Pak Tomo yang tergopoh-gopoh menghampiri Aditya.
"Tadi aku jalan-jalan dulu, kebetulan dekat dari sini, jadi aku pulang menggunakan Taksi Online."
Aditya menepuk bahu Pak Tomo dan meninggalkannya sendirian berdiri di depan halaman Rumah Aditya dengan tidak berdaya.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Aliya menyambut kedatangan Aditya dengan wajah berbunga.
Aditya tersenyum "kamu seperti senang banget, ada apa?"
Aditya yang melihat ekspresi wajah Aliya yang begitu berbunga-bunga, dia menebak ada sesuatu yang telah terjadi.
Aliya tersenyum, dia merangkul tangan Aditya dan membawanya ke dalam tanpa buka suara, sehingga membuat Aditya penasaran dengan apa yang telah terjadi.
Saat di ruang keluarga, Aditya melihat kedua mertuanya ada di sana. Liam dan Sutri memang mengunjungi rumah Aditya tanpa memberitahu terlebih dahulu.
"Ayah, Ibu, kapan kalian datang?" tanya Aditya yang langsung bersalaman dengan mereka berdua.
Liam merasa terharu, karena ternyata Aditya sudah menganggap dirinya sebagai Ayah mertuanya.
"Kami datang tadi pagi, tapi kamu sudah pergi, kata Aliya kamu sedang mengurus bisnis?" jawab Liam dengan wajah berbinar.
Aditya duduk di hadapan mereka berdua, dengan Aliya yang selalu menempel padanya, seperti perangko saja.
Aditya tersenyum kecut, dia merasa malu di lihat kedua mertuanya, yang daritadi memerhatikan mereka berdua sambil tersenyum-senyum.
Aditya menghela napas "Ada maksud apa Ayah dan Ibu kemari?"
Liam yang mendengar pertanyaan Aditya, dia tersenyum getir, karena menantunya masih sama seperti dulu, sangat terus terang tanpa berbasa-basi terlebih dahulu ketika bicara.
"Ayah mau memberikan ini padamu." Liam menyerahkan sebuah berkas Kontrak yang telah di buat Remon.
Aditya mengambil berkas tersebut "ini apa Ayah?"
"Aku sudah mengatur kerjasama dengan sebuah perusahaan di Tiongkok atas nama kamu, sekarang kamu hanya tinggal tanda tangan di sana, dan berangkat ke Tiongkok untuk meyakinkan mereka agar mau bekerjasama dengan kita."
Sontak saja Aditya terkejut, dia tidak menyangka kalau Liam sudah menyiapkan sesuatu yang besar untuk dirinya.
"Ayah, apa maksudnya ini?" tanya Aditya ingin tahu maksud perkataan Liam.
Liam tersenyum "salah satu perusahaan Ayah sudah aku pindah alihkan atas nama kamu, sekarang kamu bebas ingin mengelola perusahaan tersebut seperti apa. Tapi Ayah harap kamu bisa membuat perusahaan tersebut menjadi lebih baik lagi."
"Ayah punya perusahaan?" celetuk Aditya terkejut.
Liam belum menjawab, Aliya buka suara "Ayah memang punya perusahaan sayang, salah satunya ada di kota Bibes ini. Apa kamu pernah mendengar tentang perusahaan Rajasa Jaya Group? Nah, itu dia perusahaan Ayah yang ada di kota Bibes."
Aditya manggut-manggut seolah mengerti, dia tersenyum sambil menatap Liam dan Istrinya "terima kasih banyak Ayah, Ibu, Aditya janji akan membuat Rajasa Jaya Group akan menjadi perusahaan besar di kota Bibes!" ucap Aditya dengan mantap.
"Ayah dan Ibu juga berharap seperti itu." Sutri yang daritadi diam, dia buka suara.
"Oh, iya Dit, Ayah hampir lupa, nanti Remon akan menjadi asisten pribadi kamu, dia orang yang cakap. Ayah harap dia bisa membantu kamu menyelesaikan semua masalah perusahaan nantinya!" seru Rajasa pada Aditya.
"Sekali lagi terima kasih Ayah." jawab Aditya sambil membungkukkan sedikit badannya.
Mereka berempat ngobrol-ngobrol sebentar, sebelum akhirnya, Aliya mengantar kedua orang tuanya ke Kamar yang sudah di siapkan pelayan.
__ADS_1
Sementara itu Aditya kembali ke kamarnya dengan wajah yang berbunga, karena dengan dirinya sudah memiliki perusahaan, dia sekarang bisa bebas mengelola uangnya.
Aditya di kamarnya sendirian, karena Aliya sedang bersama dengan orang tuanya, menunjukan kamar untuk mereka.
"Java, cek status!" sambil berbaring Aditya memanggil Java.
[ Baik Tuan! ]
[ Status ]
Koin Emas : 999.999.000.895 keping
Nama : Aditya Nugroho
Umur : 20 tahun
Tinggi : 185 cm.
Masa Otot : 15
Kecerdasan : 15
Kelincahan : 15
Vitalitas :24
Kemampuan kusus :
Tubuh Gatotkaca
Dewa Brahma
Seribu Wajah Rahwana
Gada Bima ( 100 poin )
Penyimpanan ruang : Keris Naga Bunting / Panah Arjuna
Poin Peningkatan : 200 ]
Aditya yang melihat statusnya, dia buka suara " Beli gada Bina dan habiskan seluruh Poin peningkatan untuk peningkata Atribut!"
[ Baik Tuan! Mulai membeli Gada Bima! Pembelian berhasil!
Mulai meningkatkan semua Atribut kekuatan!]
Seperti biasa tubuh Aditya terasa sangat panas dan menyakitkan. Namun kali ini dia masih bisa menahan rasa sakit dan panas dalam tubuhnya.
Aditya mengatupkan rahangnya, agar dia tidak berteriak membuat seisi Rumah khawatir dengannya.
Keringat langsung mengucur deras di tubuh Aditya, bajunya langsung basah kuyup karena keringat, seolah dia habis kehujanan di jalan.
Pembentukan masa otot, dan tulang-tulangnya terus terjadi. Aditya tetap menahan Rasa sakit tersebut tanpa bersuara sedikitpun.
[ Peningkatan Atribut berhasil ]
[ Status ]
Koin Emas : 999.999.000.895 keping
Nama : Aditya Nugroho
__ADS_1
Umur : 20 tahun
Tinggi : 185 cm.
Masa Otot : 30
Kecerdasan : 30
Kelincahan : 30
Vitalitas :49
Kemampuan kusus :
Tubuh Gatotkaca
Dewa Brahma
Seribu Wajah Rahwana
Toko System level 2:
Kitab Yudhistira (200 Poin)
Ajian Rawa Rontek (200 Poin)
Penyimpanan ruang : Keris Naga Bunting / Panah Arjuna / Gada Bima
Poin Peningkatan : 0 ]
Aditya membuka mata, napasnya masih tersengal-sengal akibat perubahan bentuk tubuhnya. Fisik Aditya terlihat sudah mulai sangat kekar.
Aditya yang dulunya kurus kering, sekarang menjelma menjadi seperti seorang pendekar ahli beladiri dengan bentuk tubuhnya yang sekarang.
"Lebih baik aku mandi dulu sebelum Aliya ke sini!"
Aditya bergegas ke kamar mandi, meski Aliya istrinya, dia tidak ingin membuka rahasia tentang Java untuknya.
Benar saja, Aditya baru masuk ke dalam kamar mandi, Aliya masuk ke dalam kamar, dia mencari suaminya, tapi saat mendengar suara orang mandi. Aliya tersenyum dan lebih memilih menunggu bersender di ranjang.
...***...
Sementara itu di depan rumah, Glembo dan Sintia baru pulang dari belanja, terlihat Glembo yang berpenampilan nyentrik, setelah di dandani Sintia.
Sintia membelikan Glembo baju baru yang menurutnya sangat cocok dengan ukuran tubuh Glembo.
Celana Kolor panjang berwarna putih, dengan setelan baju Rege warna-warni, yang terlihat sangat besar, membuat penampilan Glembo berbeda dari sebelumnya.
Pak Tomo yang melihat Glembo memakai pakaian seperti itu, dia menutup mulutnya, agar tidak kelepasan menertawakan-nya.
Sintia terlihat tersenyum-senyum, dia merasa sangat senang karena bisa merubah penampilan Glembo sedemikian rupa.
Aditya dan Aliya turun dari kamarnya, mereka berdua mengerutkan kening saat melihat Glembo dan Sintia.
"Bhahaha... Kamu bawa badut mana itu Sin?" tanya Aditya yang tertawa terbahak-bahak saat mereka berpapasan.
"Hihihi...." Aliya hanya tertawa kecil saja mengikuti suaminya yang menertawakan sahabatnya tersebut.
"Apaan sih Dit, ini model baru tahu, kata Sintia!" ucap Glembo ketus.
"Hahahaha... Model baru?" Aditya semakin tertawa menjadi-jadi saat Glembo memberikan penjelasan.
__ADS_1
Sintia menggembungkan pipinya "ini bagus kok buat Glen!"
Sintia merangkul Glembo dengan mesra, Aditya tidak tahu harus tertawa atau menangis. Ternyata istilah cinta itu buta itu memang ada, benar kata Fajar Sad Boy!