Java System

Java System
Gunung Kumbang


__ADS_3

Aditya bergegas ke rumah Glembo, ia akan mengajak sahabatnya itu kembali mencari cincin Java dengan pengetahuan yang diberikan hantu muka rusak.


Pria itu mengetuk pintu rumah sederhana Glembo, tapi tidak ada yang menyahut sama sekali. Namun, ketika memegang gagang pintu, ternyata tidak di kunci, akhirnya ia masuk ke rumah sahabatnya itu.


"Ndut, kamu di rumahkan?!" teriak Aditya.


Tidak ada sahutan sama sekali, padahal rumah itu tidak sebesar rumah Aditya, karena Glembo menginginkan rumah sederhana agar tidak perlu pembantu untuk mengurusnya.


Aditya semakin masuk kedalam, ia berniat pergi ke dapur untuk mengambil minum. Ia dan Glembo memang menganggap rumah mereka seperti rumah sendir, jadi wajar kalau mereka selalu bertindak seolah rumah sendiri.


"Ah... terus sayang lebih cepat!"


Aditya seketika tertegun, ketika mendengar suara ******* di dapur. Ia menghentikan langkahnya sambil menelan ludah, ternyata Glembo dan Sinta sedang bermain di dapur.


Aditya menggelengkan kepalanya agar tersadar dari lamunannya nya. "Gendut sialan! Kalau mau melakukan di sembarang tempat kunci pintu dulu, bodoh!" teriak Aditya kesal yang langsung pergi dari sana dan menunggu di ruang tamu.


Glembo dan Sintia yang sedang menikmati momen mereka, tentu saja terkejut saat mendengar teriakan Aditya.


"Aditya datang sayang, kita sudahi dulu," pinta Sintia.


"Ah tanggung, udah di ujung ini," jawab Glembo yang semakin mempercepat gerakannya.


******* Sintia semakin keras, hingga akhirnya Glembo meraung ketika sampai di puncak. Pria itu merasa sangat puas setelah menggauli Istrinya beberapa kali hari ini.


Teplak

__ADS_1


Tampar Glembo di pantat istrinya."terimakasih sayang, aku menemui Aditya dulu," ucap Pria gendut tersebut sambil bergegas memakai pakaiannya kembali dengan cepat.


Sintia hanya tersenyum simpul, wanita itu memang sangat senang dikasari oleh suaminya jika berhubungan badan.


Glembo yang sudah berpakaian lengkap, ia menemui Aditya sambil membawa sebotol air mineral dingin tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Lain kali kunci pintu, Ndut!" bentak Aditya.


"Hehehe... habisnya gak tahan lihat Sintia sehabis joging," jawabnya enteng.


Aditya menghela napas berat. Pasangan sahabatnya itu memang memiliki keanehan s*ksual. Sang istri suka di sakiti, yang satu sangat suka kalau melihat istrinya berkeringat. Aditya tahu kelainan mereka karena Sintia memang sering curhat dengan kedua istrinya.


"Kita berangkat sekarang Ndut," ajak Aditya tanpa basa-basi.


"Kemana lagi Dit? Kamu sudah mencari setahun dan tidak ketemu, sudahlah menyerah saja, lagian juga kamu sudah hidup enak," jawabnya menasehati.


"Sayang aku pergi dengan Aditya dulu!" teriak Glembo kepada istrinya.


Sintia yang baru selesai memakai pakaiannya dan mau menghampiri mereka menjawab. "Ia hati-hati!" sahutnya santai.


Sintia sudah paham betul kalau Aditya dan Glembo itu tidak bisa di pisahkan, karena itulah wanita itu tidak pernah marah sama sekali kalau suaminya pergi dengan Aditya.


Glembo mengeluarkan motor Maticnya, Aditya yang menyetir, kemudian langsung pergi ke gunung Kumbang untuk mencari Cincin Java.


Gunung kumbang cukup jauh dari kampung Aditya, mereka butuh waktu dua jam perjalanan untuk sampai ke sana.

__ADS_1


Tidak ada persiapan sama sekali ketika mereka melakukan perjalanan, karena Aditya mendadak memiliki ide pergi ke sana.


...***...


Mereka pun sampai di gunung kumbang, Aditya menitipkan motornya di salah satu rumah warga.


"Dit, kamu yakin ada di sini cincin itu?" tanya Glembo penasaran.


Aditya menggeleng. "Aku juga tidak tahu, kita coba cari saja," jawabnya sambil berjalan ke arah gunung tersebut.


Glembo mengikuti sahabatnya itu dengan patuh, ia tidak merengek ataupun mengeluh, karena tahu jika melakukan itu pasti Aditya akan memarahinya.


Aditya berhenti melangkah ketika berada ditepi gunung, ia merasakan energi spiritual aneh ada di gunung tersebut.


"Ndut, kamu jangan jauh-jauh dariku," perintah Aditya lirih.


Seketika Glembo merangkul lengan Aditya, sehingga pria itu mengernyitkan dahi sambil menatap rangkulan Glembo.


Glembo tersenyum simpul, sambil menaik turunkan alisnya. Aditya hanya bisa menghela napas tidak berdaya.


Mereka berdua pun mulai berjalan menaiki gunung tersebut, langkah demi langkah mereka lewati, tidak ada yang aneh sama sekali dengan gunung tersebut. Namun, Aditya semakin waspada ketika energi spiritual aneh yang ia rasakan semakin mendekat ke arah mereka berdua.


"Ndut, jika ada sesuatu yang bahaya, kamu langsung lari turun, kalau bisa menggelinding biar lebih cepat!" perintah Aditya.


"Sialan, memangnya aku Drum apa?!" gerutu Glembo kesal.

__ADS_1


Aditya tidak menggubris gerutuan Glembo, sekarang ia sedang fokus dengan energi spiritual aneh yang semakin mendekat ke arah mereka saja.


__ADS_2