
Cakra yang merasa dirinya dalam bahaya, ia merubah bentuknya menjadi kecil agar terlepas dari cengkraman harimau terbang tersebut.
"Cih." Cakra berdecak kesal kemudian menjadi cahaya dan pergi dari sana.
Sementara itu melihat Cakra yang melarikan diri, Sultan dan pak tua Iskandar memasukkan kembali khodam mereka ke dalam cincin masing-masing.
Tampak halaman rumah keluarga Iskandar yang menjadi tempat pertarungan kodam-kodam raksasa tersebut hancur berantakan, bahkan ada beberapa anak buah mereka yang tewas akibat sabetan ekor Cakra.
"Ayah, sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Sultan penasaran.
"Lihatlah kekuatan penerus Angkara Jaya, hanya dengan keris Naga Pati saja sudah membuat hancur tempat ini, aku yakin ia senagaja melakukan ini untuk membuat peringatan dengan kita! Jangan bertindak lebih bodoh lagi Sultan, tinggalkan kota Bibes jangan membuat masalah lagi!" perintahnya tegas.
Sultan hanya bisa menundukkan kepalanya, ternyata ia yang berniat masih ingin menguasai kota Bibes yang membuat penerus Angkara jaya menyerang mereka. Namun, bukannya takut, Sultan malah terlihat semakin geram.
Pak tua Iskandar sadar betul kalau dirinya sudah tidak lagi muda, untuk mengeluarkan beberapa Kodam miliknya, ia harus menggunakan banyak energi spiritualnya, sementara mengeluarkan raksasa tersebut saja sudah membuatnya banyak mengeluarkan energi spirit miliknya.
Tubuh tua nya sudah tidak bisa menampung banyak energi Spiritual lagi. Karena itulah ia menyuruh anak dan cucunya menghindari pertarungan energi spiritual sebisa mungkin.
Pak Tua Iskandar menyuruh bawahannya untuk membereskan tempat tersebut, sementara Sultan entah ia akan pergi kemana.
...***...
Sementara itu di rumah Aditya, tepatnya di halaman belakang. Pria itu sedang duduk santai sambil ditemani mba Kunti yang dari tadi menemaninya.
__ADS_1
"Tuh, bawahanmu kembali," ucap Mba Kunti tiba-tiba.
Aditya mengerutkan keningnya, ketika Cakra benar-benar muncul di hadapannya dengan tubuh yang terluka.
"Salam tuan, maaf saya tidak membawa kabar baik, ternyata mereka memiliki, dua Cincin Gedhe," lapornya tidak berdaya.
Aditya tersenyum. "Tidak apa-apa, setidaknya aku tahu kekuatan mereka, kembalilah agar lukamu sembuh kembali," jawabnya sambil membuka Keris Naga Pati, Cakra pun langsung masuk ke dalamnya.
Aditya menghela napas berat, ternyata musuhnya benar-benar kuat. Ia berpikir andai saja Keris Naga Bunting masih bersamanya, pasti ia bisa dengan mudah mengalahkan mereka.
"Hihihi... bisa bingung juga kamu?" tegur Mba Kunti sambil terkikik.
"Diam kau setan, sono pergi!" bentak Aditya.
"Sudah tahu aku setan, malah dipanggil seperti itu. Yo wis aku pergi, padahal aku tahu sesuatu tentang keluarga Iskandar, bye bye... Hihihi...." Mba Kunti berpamitan ke Aditya.
"Aduh!" pekik Mba Kunti kesakitan.
"Maen pergi-pergi aja, ceritakan padaku apa yang kamu tahu tentang keluarga Iskandar!?" tanya Aditya ketus sambil menatap Mba Kunti yang jatuh di tanah.
"Jangan harap! Kamu juga tidak pernah menghargai ku!" hardiknya marah sambil bergegas beranjak dari tanah dan akan pergi lagi.
"Hoooh... kamu berani denganku, baiklah aku akan menyegel mu hingga sampai akhir hayat kamu akan ada di sini terus!" Aditya mengancam mba Kunti sambil menunjukkan buku kejawen yang ada di cincin Java.
__ADS_1
Mba Kunti yang melihat buku tersebut, ia membelalakkan mata lebar, seketika wanita yang sudah menjadi arwah penasaran itu duduk dengan patuh di kursi sambil mengerucutkan bibirnya jengkel.
Buku Kejawen memiliki cara untuk menyegel roh yang gentayang, di tambah buku tersebut juga bisa memenjarakan para roh atau menyegelnya.
Aditya mendapatkan buku itu, ketika ia tidak sengaja menyuruh Java memberitahunya teknik-teknik raja Angkara jaya.
Di buku tersebut terdapat cara-cara menggunakan kemampuan terlarang tanah Java, termasuk penyegelan roh juga teknik terlarang.
"Darimana kamu mendapatkan buku itu?" tanya Mba Kunti kesal.
"Kamu tidak perlu tahu, cepat ceritakan apa yang kamu tahu tentang keluarga Iskandar!" seru Aditya tegas.
Mba Kunti menghela napas. "Aku kalau bersama kamu terus, lama-lama martabatku sebagai hantu sudah tidak ada sama sekali," gerutunya kesal.
"Masih saja ngoceh gak jelas, di suruh cerita juga!" bentak Aditya.
"Iya, iya bawel!" Mba Kunti kemudian mulai menceritakan apa yang ia tahu tentang keluarga Iskandar.
Hantu wanita yang satu itu menceritakan secara rinci semua kekuatan keluarga Iskandar, bahkan ia juga sampai tahu silsilah keluarga Iskandar.
Aditya sampai heran kenapa Mba Kunti bisa dengan gamblang menceritakan semua itu, padahal Ayah Darman saja hanya tahu sekilas saja tentang keluarga Iskandar. Berbeda dengan Mba Kunti yang hampir tahu semuanya tentang keluarga tersebut.
"Astaga, jangan-jangan kamu korban pemerkosaan rame-rame keluarga Iskandar, sehingga bisa tahu semuanya?" tanya Aditya pongah.
__ADS_1
"Sialan, bukannya berterimakasih malah mengejek, begini-begini aku mati masih perawan!" jawab Mba Kunti kesal.
Aditya tercengang, baru kali ini dia tahu kalau ternyata ada setan perawan, sehingga membuatnya tersenyum getir