
Rebecca yang melihat Santoso ketakutan, dia mengerutkan keningnya, karena biasanya Santoso sangat percaya diri, tapi di hadapan Aditya dia seperti melihat malaikat pencabut nyawa saja.
"Hei! Kenapa diam!?" tegur Aditya pada Santoso.
Sontak saja Santoso terkejut "Eh... iya tuan." ucapnya dengan nada takut-takut.
Aditya menyipitkan matanya, dengan kecerdasan yang sudah di milikinya sekarang, Aditya setidaknya sudah bisa menebak ekspresi orang. Dia yakin ada yang sedang di sembunyikan Santoso padanya.
"Ceritakan, sebelum aku mengorek sendiri perbuatanmu!" ucap Aditya dingin.
Benar saja Santoso semakin berkeringat dingin, dia tidak pernah menyangka kalau Aditya akan menanyakan hal tersebut. Santoso bingung ingin mengatakan apa pada Aditya, karena dia sudah terlalu lama memainkan pasar dagang kota Bibes.
"Tu-tuan Aditya, saya tidak bermaksud melakukan ini semua, tapi keadaan lah yang membuatku seperti ini." jawab Santoso merasa sangat tertekan.
"Pak Santoso apa maksud Anda?" Rebecca penasaran dengan arah pembicaraan yang ambigu tersebut.
"Nona Le, kurasa tuan Aditya sudah tahu semuanya, saya juga tidak akan menutup-nutupinya lagi." Santoso menghela napas berat.
"Aku sudah tahu semuanya? sejak kapan, dan apa maksud pria ini?" Aditya bingung dengan pernyataan Santoso, karena dia memang tidak tahu apa-apa, yang dia tahu cuma Santoso menutupi sesuatu darinya.
Aditya menatap Santoso dengan seksama, dia ingin tahu apa yang pria di depannya itu sembunyikan. Santoso yang melihat Aditya seperti itu semakin panik.
Santoso mengelap keringat yang mengucur deras di dahinya menggunakan tisu yang dia ambil dari meja depannya.
Dia menghela napas dan buka suara "sebenarnya saya sudah lama mempermainkan pasar dagang Kota Bibes, harga yang saya jatuhkan untuk menarik pembeli dari luar kota, itulah kenapa pemerintah kota juga mendukung saya, karena mereka mendapatkan keuntungan dari para pembeli luar kota."
Santoso terlihat merasa bersalah, dia menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Rebecca jelas saja sangat marah, karena ternyata semua yang membuat harga turun adalah kenalannya yang notabenya sangat Rebecca hormati.
Rebecca melihat Aditya, seketika Rebecca sangat ketakutan, karena wajah Aditya terlihat sangat marah.
Aditya menatap Santoso seperti akan menelannya hidup-hidup, karena di balik penderitaan kampung Karbal ternyata ada orang-orang yang sedang menari bahagia di atasnya.
Mungkin bukan hanya kampung Karbal yang menderita, mengingat seluruh wilayah Kota Bibes hampir semuanya bekerja sebagai petani. Jadi kemungkinan besar mereka semua juga mengalami kesusahan yang sama.
"Apa semua ucapan kamu benar?" tanya Aditya tanpa ekspresi.
Santoso mengangguk sambil ketakutan "tapi bukan hanya saya saja tuan, banyak orang yang terlibat dalam masalah ini."
__ADS_1
Santoso yakin kalau Aditya sangatlah marah, dia pasti ingin membunuh semua yang terlibat dengan masalah tersebut.
"Telepon mereka semua dan suruh kesini!" Aditya meninggikan suaranya hingga beberapa Oktaf, membuat tubuh Santoso semakin bergetar ketakutan.
Dengan tangan yang bergetar, Santoso mencoba menghubungi mereka semua yang terlibat dalam perdagangan ilegal tersebut, dia tidak ingin di salahkan seorang diri.
Rebecca memberanikan diri untuk bertanya pada Aditya "Dit, kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya lembut.
Aditya tidak menjawab, dia sedang berusaha mengontrol emosinya agar tidak membunuh pria yang ada di hadapannya tersebut.
Aditya yang sekarang memang sudah tidak takut lagi membunuh orang, tapi dia juga membunuh jika itu harus, kalau tidak ya sudah akan dia abaikan.
Rebecca yakin Aditya merasa tertekan akibat mendengar ucapan Santoso, pasalnya dia ingin memakmurkan kampung Karbal. Namun, ternyata ada orang-orang seperti Santoso yang membuatnya menjadi sangat marah.
Rebecca hanya bisa berharap agar masalah tersebut cepat selesai dengan adanya Aditya sebagai pusat reformasinya.
Santoso yang sudah selesai menghubungi orang-orang yang bekerja sama dengannya, dia tidak berani menatap Aditya sama sekali, dia hanya bisa menunduk tidak berdaya.
...***...
Sementara itu di konter Ponsel kota Larangan, Sintia yang mengajak Glembo dan Adiknya membeli Ponsel, mereka sedang memilih Ponsel untuk Gali.
Pelayan Konter langsung mengambilkan Ponsel Pinix dengan ram 6/128 GB. dan meletakkan-nya di atas etalase.
Sintia mengambil Ponsel tersebut "Gali, kamu suka gak?" tanyanya lembut pada Adik Glembo.
Tentu saja Gali langsung mengangguk "suka kak, aku suka sekali" ucapnya sumringah.
Sintia tersenyum "Mas aku ambil yang ini, sekalian kasih sim cardnya dan isikan data juga!"
"Siap Mbak, tunggu sebentar!" pelayan toko langsung bergegas mengambilkan SIM card dan memasangnya.
Setelah semuanya selesai, dia memberikan Ponsel tersebut pada Sintia "Semuanya jadi tiga juta perak Mba."
Sintia mengangguk, dia mengambil kartu Atm-nya dan menggesek dan semuanya terbayar sudah.
Glembo merasa bersalah, meskipun dia tidak secerdas Aditya, tapi nalurinya yang seorang pria tentu saja merasa tidak ada harga diri sama sekali.
__ADS_1
"Sin, maaf yah, aku jadi merepotkan kamu." ucap Glembo dengan nada sendu.
Sintia tersenyum "kamu tenang saja Glen, itu semua tidak apa-apanya kok." jawabnya dengan lembut.
Glembo tersenyum getir, mau menolak tapi dia juga tidak ingin membuat adiknya bersedih, sehingga dalam benaknya Glembo memiliki tekad untuk bisa menyenangkan Sintia suatu hari nanti.
Mereka bertiga pergi berjalan-jalan dan makan-makanan ringan di pinggir jalan, sebelum kembali ke kediaman Aditya.
...***...
Sementara itu di tempat Aditya, orang-orang yang di telepon Santoso semuanya sudah berkumpul di sana.
Ada lima orang yang datang, mereka tidak lain wakil walikota Bibes, dua dari kepolisian, dan sisanya pejabat pemerintahan kota Bibes.
Kedua Polisi yang pangkatnya lumayan tinggi itu memandang remeh Aditya, mereka berdua mengira kalau Aditya hanyalah bocah kemarin sore yang tidak tahu apa-apa.
"Apa cuma mereka saja Santoso!" tanya Aditya dengan tegas.
Santoso belum menjawab, salah satu Polisi menjawab "berani sekali kamu meninggikan suaramu disini Bocah!"
Plaaak
Suara tamparan yang sangat keras menggema di tempat tersebut, Aditya menampar polisi tersebut dengan sangat keras sehingga dia terhempas dan giginya beberapa melompat keluar dari tempatnya.
Sontak saja temannya tidak terima "Bedebah! Kamu tahu sedang berhadapan dengan siapa?!" raungnya marah pada Aditya.
"Apa kamu kira aku takut denganmu!" Aditya langsung menarik kerah Polisi itu dan melemparkannya.
Bruak
Polisi tersebut jatuh di kursi Kafe hingga kursi yang terbuat dari kayu tersebut hancur. Aditya yang dari tadi sudah menahan amarahnya, dia sudah tidak kuasa lagi menahannya.
Para pelanggan kafe dan pelayan tentu saja terkejut dengan kerusuhan yang terjadi. Mereka semua langsung menoleh ke arah Aditya dan yang lainnya.
Wakil walikota dan dua pejabat Bibes tentu saja ketakutan, mereka yang notabenya hanyalah orang biasa yang memiliki jabatan tinggi tentu tidak bisa berbuat banyak di sana.
Santoso juga semakin gemetar ketakutan, ternyata perkataan para pemilik ilmu Kanuragan Bibes benar, kalau Aditya bukanlah orang sembarangan.
__ADS_1
Aditya menatap dingin Santoso dan yang lainnya, dia sangat marah karena ternyata orang-orang yang berhubungan dengan harga pasar, semuanya sangat menjengkelkan di mata Aditya.