Java System

Java System
Menang


__ADS_3

Liam mengangguk mengerti, dia langsung ke tempat anak buahnya untuk membantu mereka bertarung. Liam sadar kalau dirinya tidak bisa melanjutkan pertarungan dengan para Khodam tingkat atas.


Aditya mengeluarkan Panah Arjunanya, dia membayangkan anak panah Argeniyastrha yang bisa membakar apapun yang terkena oleh serangan anak panah tersebut.


Aditya membidik ke arah Khodam siluman ular Api, dengan kecerdasan Brahma dia bisa mengincar dengan tepat meski jarak mereka cukup jauh.


Swuzzz


Anak panah Argeniyastrha meluncur deras ke arah Khodam ular Api. Anak panah tersebut perlahan di selimuti Api.


Semakin mendekat, anak panah tersebut Api yang menyelimutinya semakin berkobar besar.


Clap


Blarr


Groaar


Siluman ular Api meraung kesakitan ketika anak panah Argeniyastrha menancap di kepalanya dan langsung membakar seluruh tubuhnya.


Siluman Ular Api menggelepar-gelepar kesakitan, sebelum akhirnya ular tersebut hangus terbakar dan menghilang dari sana.


Wiro yang merupakan pemilik Khodam tersebut langsung memuntahkan seteguk darah, dia menatap tidak percaya jika Khodam tingkat tingginya akan sangat mudah di kalahkan Aditya.


Tidak sampai di situ saja, Aditya membayangkan anak panah Pasoepati milik Arjuna.


Anak panah dengan ujung seperti bulan sabit tersebut langsung muncul di genggaman Aditya yang membidik Khodam Ayam jantan.


Tentu saja Gumira tidak membiarkan Aditya begitu saja saat dia melihat Aditya membidik Khodamnya.


"Serang dia!" teriak Gumira pada Khodamnya, tapi sayang, Aditya sudah meluncurkan anak panah tersebut ke arah Khodamnya.


Khodam Ayam jago yang tadi menyerang Aditya langsung mencoba bertahan dengan perisai Api yang di buat menggunakan sayapnya. Namun, anak panah Pasoepati berubah menjadi sangat besar, siluet bulan sabit yang sangat besar menerjang Khodam Ayam jago.


Boommm


Suara ledakan serangan panah Aditya yang mengenai Ayam jantan tidak terelakan, bulu-bulu Api Ayam jantan rontok, seketika dia menatap dari hadapan Aditya.


Hoekk


Gumira memuntahkan seteguk darah, dia menatap ngeri Aditya, sekarang dia menyesal tidak mendengarkan perkataan Liam dan Rayana.


Aditya menyimpan panahnya, kali ini dia menerjang untuk menghajar Gumira dan Luyo yang sudah tidak memiliki Khodam.


Bag


Bug


Suara adu jotos terdengar saat Aditya melawan mereka berdua secara langsung, pertarungan beladiri Campuran Aditya melawan dua ahli Bela diri dari dua padepokan sekaligus.

__ADS_1


Aditya terus menyerang meski melawan dia orang sekaligus, Gumira semakin menyesal karena Aditya benar-benar sangat kuat.


Wiro juga merasakan hal yang sama, dia meyakini kalau kekuatan Aditya sudah melebihi Aji Darma pemimpin Padepokan Naga Hitam.


Duak


Duak


Brak


Brak


Gumira dan Wiro terhempas dan menabrak rumah warga yang sudah hangus terbakar semburan Ular Api.


Gumira bangkit lagi dengan terhuyung-huyung, sementara Wiro terlihat tidak terbangun lagi, karena dia sudah tewas akibat tubuhnya menancap di kayu besar reruntuhan rumah warga yang menembus perutnya.


Gumira melihat Wiro yang sudah tewas, dia berkeringat dingin saat Aditya mulai mendekati dirinya.


Klap


Dengan kecepatan penuh Aditya menangkap leher Gumira dan mencengkramnya dengan sangat kuat.


Gumira merasa sesak napas, dia mencoba berontak, tapi kekuatan cengkraman Aditya sangatlah kuat.


"Sampah seperti kamu sebaiknya tidak hidup di dunia Ini!" ucap ketus Aditya.


Krekk


Pletaakk


Gumira memelototkan matanya saat lehernya patah, dia berangsur-angsur melemas sebelum akhirnya tewas di cengkraman Aditya.


Bruug


Aditya melemparkan Gumira yang sudah tewas, dia kemudian menatap pertarungan antara Khodam Banaspati milik Rayana dengan Khodam Buto Ijo milik Luyo.


Pertarungan keduanya terlihat berimbang, mereka saling menyerang dan saling bertahan satu sama lain.


Di sisi lain Rehana juga bertarung ilmu Kanuragan dengan Luyo, meski terlihat ringkih, tapi Rayana masih bisa meladeni kekuatan Luyo.


Sementara itu di sisi lainnya, anak buah Gumira bertumbangan satu-persatu saat Liam ikut bertarung disana, tidak ada masalah yang berarti bagi Liam.


Aditya yang melihat semuanya sudah ada dalam kendali Padepokan Macan putih, dia mencari tempat duduk yang bersih dan duduk di sana, menyaksikan Pertarungan bawahannya.


Blaarrr


Groaar


Banaspati Rayana membakar tubuh Buto ijo sehingga dia meraung kepanasan, tapi Buto Ijo masih bertahan dan tidak mau menyerah.

__ADS_1


Tubuhnya yang di bakar Api Banaspati tidak menghentikan gerakannya sama sekali, Buto Ijo menyerang Banaspati kembali.


Pertarungan dua Khodam raksasa tersebut menjadi tontonan yang menarik untuk Aditya, dia seperti menonton pertunjukan kolosal di dunia nyata saja.


Sementara itu, Rayana masih melancarkan ratusan pukulan pada Luyo, hasilnya Luyo kewalahan melawan Pria sepuh tersebut.


Bag


Bug


Bruak


Luyo terhempas puluhan meter saat pukulan Rayana mengenainya, Luyo menyeka darah di sudut bibirnya. Namun, dia tiba-tiba memuntahkan seteguk darah saat Khodam Buto Ijo nya menghilang dari Pertarungan.


Ternyata itu semua terjadi karena Aditya menggunakan Panah Arjuna untuk mengalahkan Buto ijo.


Aditya merasa jenuh karena pertarungan mereka sangat lama, di tambah dia sangat lapar, jadi Aditya ingin cepat mengakhiri Pertarungan tersebut.


Rayana menyeringai pada Luyo yang terlihat sudah sedikit gemetar ketakutan, tanpa Khodamnya Luyo hanyalah sekelas Murid tingkat menengah Padepokan macan Kumbang.


"Matilah kamu bedebah!" Rayana mengeluarkan tombak Api yang entah dari mana munculnya.


Luyo terkejut, dia mencoba menangkis serangan Rayana, tapi semuanya sia-sia belaka, dia terlambat, sehingga tombak Api Rayana menancap menembus tubuh Luyo dan membakarnya hingga hangus.


Rayana menghilangkan tombak Apinya, seketika tubuh hangus Luyo langsung ambruk ke tanah. Dia menghela napas lega karena berhasil membunuh Luyo.


Liam di tempatnya juga sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya, dia dan anak buahnya membunuh semua anak buah Padepokan Ayam jantan yang tersisa.


Setelah beberapa jam mereka bertarung, akhirnya semuanya sudah mampu di atasi dan padepokan Macan kumbang berhasil memenangkan peperangan tersebut.


Rayana dan Liam menghampiri Aditya yang sedang duduk malas memerhatika pertarungan mereka.


"Tuan Aditya!" Rayana dan Liam menangkupkan tinju untuk memberika hormat pada Aditya.


"Sudahlah aku lapar, apa kalian punya makanan?" ucapan Aditya membuat Rayana dan Liam tersenyum kecut, tapi meskipun begitu, mereka tetap mengiyakan keinginan Aditya.


"Tuan Aditya, mari ikut saya." Ajak Rayana pada Aditya. Rayana memberikan perintah pada Liam "Kamu bereskan semuanya Liam, dan beritahu seluruh Padepokan lainnya, kalau padepokan Ayam Jantan menjadi milik Kita!" ucap Rayana tegas.


"Baik guru!" Liam tanpa ragu menjawab.


Aditya tidak mempermasalahkan mereka mau berbuat apa pada pedepokan lainnya, yang dia pikirkan sekarang bagaimana bisa mengisi perutnya yang sudah keroncongan dari tadi.


Rayana dan Aditya kembali ke padepokan, Rayana langsung menyuruh juru masak, untuk memberikan Aditya makanan terbaik mereka.


Sambil menunggu makanan datang, Rayana berbicara dengan Aditya "Tuan Aditya, berkat anda Padepokan Macan kumbang terselamatkan, terima kasih banyak."


"Kalian sekarang adalah bagian dariku, jadi wajar kalau aku membantu kalian, tidak perlu terlalu formal seperti itu." jawab Aditya santai.


Rayana tersenyum, sekarang dia sangat yakin, kalau tidak salah mengikuti pemuda di depannya tersebut, dia yakin suatu saat nanti Aditya akan menjadi orang paling di takuti dalam dunia ilmu Kanuragan.

__ADS_1


__ADS_2