Java System

Java System
Padepokan Macan Kumbang Takluk


__ADS_3

Liam dan gurunya tahu maksud dari Aditya, mereka sangat yakin kalau Aditya akan menyuruh mereka menjadi bawahannya.


"Jangan bercanda! Aku tidak akan Sudi menjadi bawahan kamu!" raung Liam langsung.


Swuzz


"Baguslah! Jadi aku tidak tahu untuk membunuhmu!" Aditya tiba-tiba sudah ada di hadapan Liam dengan menaruh keris Naga Buntingnya di leher Liam.


Guru Liam hanya bisa menghela napas, kecepatan Aditya bukanlah level mereka lagi, dia bergerak dengan sangat cepat, melebihi kemampuan Manusia pada umumnya.


"Tenanglah anak muda, meskipun dia sudah tua tapi pemikirannya masih sangat bodoh. Bicaralah baik-baik denganku." Guru Liam bicara dengan lembut pada Aditya.


Liam berkeringat dingin, karena keris Aditya sudah sedikit menyentuh lehernya sehingga keluar darah, jika dia bergerak sedikit saja maka akan merobek lehernya.


Aditya tidak menoleh ke guru Liam, dia masih fokus menatap tajam Liam yang sudah mulai gemetar ketakutan. Perkataan-nya dan nyalinya tidak selaras sama sekali.


"Manusia sepertimu yang mengganggu kesenjangan antara yang lemah dan yang kuat, lebih baik Manusia seperti kamu hilang saja dari muka Bumi ini!" ucap Aditya ketus dengan menekankan kerisnya ke leher Liam.


Liam sekarang melihat Aditya seperti Dewa kematian saja, yang siap mencabut nyawanya kapanpun dia mau.


"Anak muda, lepaskanlah murid aku, aku berjanji mulai hari padepokan Macan kumbang akan ada di bawah perintah kamu, aku bisa menjamin itu untukmu." guru Liam langsung mengambil tindakan, agar Aditya tidak berbuat lebih pada bawahan-nya tersebut.


Aditya menoleh ke arah Liam "Apa kamu pikir bodoh? Mempercayai perkataan kamu begitu saja?"


Guru Liam bertekuk lutut "Saya Rayana


bersumpah setia padamu! Langit dan Bumi menjadi saksinya!"


Petir menggelegar ketika Rayana berkata sumpah setia pada Aditya, seolah mengikat janji yang di katakannya.


Aditya melihat langit yang tiba-tiba menyambarkan petir, dia berkesimpulan kalau para Pemiliki ilmu Kanuragan memang tidak bisa sembarangan mengikat Janji.


Aditya menarik kerisnya dari leher Liam, dia juga menarik Naga Bunting masuk ke dalam keris juga, setelah itu dia memasukannya ke selongsong dan menyimpannya di Cincin Java.


Ular putih juga ikut masuk ke dalam Cincin Java. Aditya percaya kalau Jani Rayana bisa di pegang. Dia berbalik dan berkata sesuatu sebelum meninggalkan Rayana dan Liam.


"Aku percaya padamu Pak tua, jaga baik-baik janji kamu. Aku akan datang lagi kalau kalian berani mengingkari janji kalian! Dan ketahuilah, Padepokan Kliwung, Padepokan Harimau akan menjadi partner kalian." ucap Aditya dengan suara yang dingin.


"Wasesa, Darman! Kita pergi dari sini!" perintah Aditya pada bawahannya yang masih tertegun dengan kehebatan tuannya.


"Ba-baik tuan!" jawab mereka yang langsung tersadar dan berdiri mengejar Aditya.


Wasesa dan Darman menyeringai pada Liam, karena mereka merasa akan menjadi senior Liam nantinya. Setidaknya hal tersebut bisa menjadi kebanggaan sendiri buat mereka berdua.


...***...

__ADS_1


Mereka bertiga sudah sampai di Mobil. Pak Tomo dengan sigap membukakan pintu untuk Aditya.


"Tuan, apa kita langsung pulang?" tanya Pak Tomo ketika semuanya sudah di dalam Mobil.


"Ya, kita langsung pulang, aku ingin istirahat!" jawab Aditya sambil merebahkan tubuhnya di jok mobil.


Pak Tomo tidak bertanya lagi, dia langsung menginjak pedal Gas dan kembali ke Kampung Karbal, tempat kediaman Aditya berada.


Ketika Aditya akan terlelap, Java memberikan pemberitahuan padanya.


[ Ding ]


Misi Berhasil : Serang Padepokan Macan Kumbang.


Hadiah : 100 Poin kekuatan dan Perubahan seribu wajah Rahwana ]


.[ Status ]


Koin Emas : 999.999.900.895 keping


Nama : Aditya Nugroho


Umur : 20 tahun


Tinggi : 185 cm.


Kecerdasan : 15


Kelincahan : 15


Vitalitas :24


Kemampuan kusus :


Tubuh Gatotkaca


Dewa Brahma


Seribu Wajah Rahwana


Toko System level 1:


Panah Arjuna (100 poin)


Gada Bima ( 100 poin )

__ADS_1


Penyimpanan ruang : Keris Naga Bunting /


Poin Peningkatan : 100 ]


Sontak saja Aditya yang tadinya mau langsung istirahat, dia terbangun kembali dan melihat statusnya terlebih dahulu.


Aditya mengulas sebuah senyum ketika melihat status dirinya yang semakin membuatnya kuat, di tambah kemampuan Spesial nya bertambah lagi.


Aditya ingin mencoba kemampuan seribu wajah Rahwana, tapi dia sadar tidak bisa melakukan-nya di sana, karena ada Pak Tomo, Wasesa dan Darman.


Selepas kepergian Aditya dan bawahannya, Rayana menyuruh semua anggota Padepokan macan kumbang untuk membersihkan area pertarungan yang terlihat luluh lantak.


"Liam, lain kali lihat lawan kamu terlebih dahulu! Wasesa dia sangat cerdas, karena ketidak mampuan-nya, dia lebih memilih untuk menyerah dengan Aditya, seharusnya kamu juga memiliki pemikiran seperti itu, jangan malah mengorbankan anak buahmu!" Rayana menasehati muridnya tersebut yang sekarang menjadi pemimpin Padepokan Macan Kumbang.


"Saya mengerti Guru, lain kali saya akan berpikir lebih baik lagi." jawabnya tidak berdaya.


Liam mengangguk, dia tidak ingin terlalu menekan muridnya itu, karena dia pikir, Liam seharusnya sudah tahu letak kesalahannya.


Sementara itu di atas pohon, terlihat sebuah Khodam dengan bentuk seperti kelelawar sedang mengawasi Padepokan Macan Kumbang, dia seperti mencari sebuah informasi, sebelum akhirnya dia terbang dan meninggalkan tempat tersebut.


...***...


Aditya dan bawahannya sampai di Kampung Karbal ketika hari menjelang Pagi, mereka semua terlelap, hanya Pak Tomo saja yang terjaga menyetir Mobil.


"Tuan Aditya, kita sudah sampai." Pak Tomo menegur Aditya dengan lembut.


Aditya mengerjapkan matanya, dia menguap dengan mulut terbuka lebar, kemudian membuka mata sepenuhnya.


"Terima kasih Pak Tomo." Aditya langsung keluar dari Mobil, melihat Wasesa dan Darman yang belum terbangun, Aditya mengernyitkan dahi. Padahal mereka berdua masih bau darah, tapi heran bisa tidur dengan lelap.


Bruaakk


Aditya membanting pintu dengan sangat kencang, sehingga membuat Darman dan Wasesa langsung terbangun. Keduanya sangat terkejut karena mendengar benturan yang sangat kuat.


Melihat mereka yang seperti itu, Pak Tomo menggelengkan kepala sambil tersenyum, karena kedua bawahan Aditya seperti orang bodoh saat baru bangun tidur.


"Taun Adit? Mana tuan Adit?" tanya Wasesa terlihat cemas.


"Tuan sudah masuk ke dalam rumah, kalian bangunlah dan cepat mandi." tegur Pak Tomo pada keduanya.


Sontak mereka berdua saling menatap, keduanya baru teringat kalau tidak sempat membersihkan diri karena Aditya langsung minta pulang.


Mereka berdua bergegas keluar dari Mobil dan masuk ke dalam rumah Aditya untuk membersihkan diri sebelum pulang ke padepokan mereka masing-masing.


Sementara itu, Aditya sudah sampai di kamarnya, dia langsung membersihkan diri dan bersiap-siap untuk beristirahat. Dia terlelap dengan cepat karena menghabiskan banyak Energi spiritual ketika memanggil Naga Bunting. Meski energi spiritualnya tidak akan habis, tapi jika berkurang banyak, dia juga akan merasakan lelah sama seperti pemilik ilmu Kanuragan lainnya.

__ADS_1


Tidak ada yang berani membangunkan Aditya, karena para pelayan juga melihat kalau tuannya baru pulang menjelang pagi. Jadi mereka membiarkan tuan mereka untuk istirahat.


__ADS_2