
"Padepokan Kalian akan di serang!" ucap Aditya langsung pada mereka berdua.
Sontak saja Liam dan Rayana terkejut dengan perkataan Aditya, pasalnya mereka tidak menemukan pergerakan mencurigakan sama sekali dari seseorang.
"Tuan Aditya, apa anda yakin?" tanya Liam masih ragu.
Aditya mengerutkan keningnya "kamu tidak percaya padaku? Baiklah aku pergi saja dan urus saja urusan kalian!" Aditya langsung beranjak dari duduknya, dia merajuk manja seperti ABG saja.
"Tuan, saya tidak bermaksud seperti itu, maksud saya kenapa anda bisa tahu?" Liam terlihat ketakutan karena Aditya marah.
Rayana menghela napas "Tuan Aditya, anda baru datang, lebih baik istirahat saja dulu." ucapnya lembut sambil memelototi Liam.
Liam merasa hidupnya sekarang serba salah, bicara beberapa patah kata saja sudah salah, dia memukul mulutnya sendiri untuk menebus kesalahannya.
Aditya menghela napas, dia kembali duduk, kali ini Aditya tidak mau bicara dengan Liam dan lebih memilih bicara dengan Rayana.
"Tuan Aditya, kapan dan siapa yang akan menyerang Padepokan macan kumbang?" tanya Rayana dengan sopan.
"Kapan aku tidak tahu, yang pasti cepat atau lambat mereka akan menyerang, dan untuk yang menyerang, mereka dari Padepokan Ayam Jantan!" jawab Aditya yakin.
Sontak saja Liam dan Rayana terkejut, karena baru tadi pagi Gumira mengatakan ingin bekerja sama dengan mereka.
"Bedebah itu!" Liam mengepalkan tangannya karena marah.
Aditya mengernyitkan dahi "Apa kalian mengenal mereka?"
Rayana tersenyum getir "Tuan, sebenarnya pemimpin mereka siang tadi kemari, dia mengatakan akan bekerja sama dengan kita." dia menghela napas berat "tapi ternyata itu hanya sebuah rencananya agar kita lemah ternyata."
"Guru! Biarkan saya yang membunuh Gumira! Dia sudah keterlaluan karena berani mempermainkan kita!" Liam menggertakkan gigi karena saking emosinya.
"Jadi maksud kalian, pemimpin mereka sempat menawarkan kerja sama?" tanya Aditya memastikan.
"Benar tuan, dan bodohnya saya yang langsung percaya padanya." jawab Rayana tidak berdaya.
Aditya mengangguk mengerti, dia menebak Misi terpicu karena Padepokan Macan kumbang sudah menjadi miliknya, oleh karena itulah dia harus melindungi Padepokan tersebut.
Baru saja mereka selesai bicara, seorang anak buah Liam dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam aula.
"Tuan gawat! Ada yang menyerang kita!" ucapnya tanpa basa-basi.
Sontak saja Liam dan Rayana terkejut, ternyata ucapan Aditya tidak mengada-ada, mereka berdua menatap Aditya.
Aditya menganggukan kepalanya, mereka kemudian langsung ketempat terjadinya penyerangan.
Di depan pintu masuk Padepokan Macan kumbang, Gumira dan dua orang murid Aji Darma sudah meluluh lantakkan tempat tersebut.
Khodam Ular yang bisa menyemburkan Api dan Khodam Buto ijo terlihat sedang mengamuk di sana.
__ADS_1
Hahahaha
Khodam Buto Ijo terdengar tertawa terbahak-bahak, karena tidak ada yang bisa menandingi mereka di padepokan Macan Kumbang.
Padahal murid-murid terbaik Liam sudah mengeluarkan Khodam dan Ilmu Kanuragan mereka. Namun, semuanya seolah tidak berarti sama sekali di hadapan mereka.
Gumira juga membawa ratusan anak buahnya dari Padepokan Ayam jantan, dia memang sengaja melakukan serang besar-besaran terhadap padepokan macan kumbang.
Perang Khodam dan Ilmu Kanuragan di tempat tersebut membuat energi negatif melonjak naik.
Orang-orang yang hanya memiliki ilmu Kanuragan rendah, mereka akan merasa tercekik akibat lonjakan energi negatif yang terus mengumpul di sana.
Blaarrr
Boommm
Ular Api terus menerus menyemburkan Api yang keluar dari mulutnya sehingga membakar pemukiman di sekitar padepokan Macan kumbang.
Sedangkan Khodam Buto ijo tidak kalah dengan Siluman ular Api tersebut, dia menghancurkan rumah-rumah penduduk dengan menginjak ataupun menghantamnya, dengan kaki dan tangannya yang seperti raksasa saja.
"Bedebah kamu Gumira!" seorang murid Liam mengeluarkan Khodam Banteng merah dengan ukuran besar.
Moooo
Banteng tersebut menerjang ke arah Ular Api, dia menyeruduk dan menghempaskannya hingga terlempar jauh.
Brugg
Buto Ijo tidak tinggal diam, dia meraih ekor Banteng Merah dan membantingnya ke kanan dan kiri, sebelum akhirnya melemparkannya.
Hoekkk
Pemanggil Khodam Banteng merah memuntahkan seteguk darah saat Khodamnya menghilang.
Pemilik Khodam kura-kura menghampiri Pemilik Khodam Banteng merah "Kamu tidak apa-apa?" ucapnya memapah teman seperjuangan-nya tersebut.
Pria tersebut memegang dadanya "Aku tidak apa-apa." jawabnya sambil menahan sakit.
Groaarr
Khodam kura-kura meraung kesakitan saat Buto Ijo terus membantingnya kesana kemari, meskipun tempurungnya kuat, namun dengan serangan yang terus di lakukan Khodam Buto ijo, membuat tempurungnya lama-lama pecah.
Hoekk
Khodam kura-kura juga menghilang, pemiliknya langsung memuntahkan seteguk darah.
Khodam kecil yang di keluarkan murid-murid Padepokan macan kumbang tidak berarti sama sekali. Mereka semua langsung menghilang dengan satu kali semburan siluman ular Api.
__ADS_1
Boomm
Boomm
Khodam Buto ijo terhempas saat bola-bola api menggempurnya tanpa ampun.
Murid-murid Padepokan macan Kumbang tersenyum senang, karena pemimpin mereka sudah datang.
Groaarr
Slash
Slash
Khodam macan kumbang Liam menyerang Khodam Siluman ular Api dengan cakarnya.
Melihat Liam dan Rayana yang muncul dengan Khodamnya masing-masing, Gumira tidak tinggal diam.
Gumira mengeluarkan Khodam Ayam jantan yang di balut dengan Api, sehingga bentuk dan ukurannya seperti Phoenix dalam negeri dongeng.
Khodam Gumira menyerang Khodam Liam, dengan mengangkatnya ke atas dan membakarnya.
Khodam Macan Kumbang meraung kesakitan, tidak sampai di situ saja, siluman ular Api langsung menyemburkan Api dari mulutnya dan ikut membakar Macan kumbang juga.
Groaaarrr
Macan Kumbang berteriak kesakitan, karena dua ilmu Api membakarnya secara bersamaan.
Hoekkk.
Khodam Macan Kumbang Liam menghilang, bersamaan dengan itu dia memuntahkan seteguk darah.
"Hahahaha... Liam, Liam! Kamu hanyalah semut bagi kami!" teriak Gumira dengan percaya diri.
Groaar
Sosok Khodam Grandong menyerang Liam, dia mau membunuh Liam saat dirinya lengah. Liam terkejut ketika Grandong sudah ada di depannya
Clap
Khodam Grandong langsung menghilang, ketika keris Naga Bunting milik Aditya menancap ke arahnya.
Ronggo pemilik Khodam Grandong memuntahkan seteguk darah, tapi tidak sampai di situ saja, Ronggo berteriak kesakitan dan tewas seketika.
Keris naga Bunting Aditya bukan hanya melenyapkan Khodam, tapi dia juga menyerap kehidupan Khodam saat menyentuhnya, bisa di katakan Ronggo Tewas karena Khodam Grandong lenyap sepenuhnya tidak bisa pulih kembali.
Sontak saja Gumira terkejut, karena Ronggo selalu ada di sampingnya, saat dia tewas tentu Gumira menyaksikannya sendiri.
__ADS_1
"Terima kasih Tuan Aditya." ucap Liam yang merasa tertolong dengan kehadiran Aditya.
"Kamu bantu bawahanmu, di sini biar aku yang urus!" Aditya tahu kalau Liam sudah tidak bisa menggunakan pemanggilan Khodam lagi, kurang lebih dalam waktu satu minggu. Jadi dia menyuruhnya untuk bertarung ilmu Kanuragan saja.