
Beberapa hari kemudian, proyek Aditya untuk memajukan masyarakat kampung Karbal mulai di gebrak secara bersamaan. Dari yang awalnya hanya bedah rumah warga yang sudah reot. Kini pembangunan jalan Desa, pengairan sawah, semuanya di perbaiki oleh Aditya.
Aditya menginginkan keadilan untuk semua golongan masyarakat, gak musti orang kaya dan antek-anteknya melulu yang selalu dapat jatah nomor satu terus. Sekarang semua warga bisa merasakan manfaat gebrakan yang di buat Aditya.
Antek-antek Mugimin juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa, mereka semua sepertinya kucing kecebur Got, tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Roan Le Ayah Rebecca, hari ini menemui Aditya di rumahnya. Bayangkan saja sekelas Roan Le yang kekayaan-nya nomor satu di Kota Bibes, sampai-sampai dia sendiri yang harus menemui Aditya.
Aditya memang tidak suka bepergian kemana-mana, apa lagi jika di suruh bertemu orang penting, dia akan menolak dengan tegas. Dengan alasan,
' Mereka saja tidak mengenalku saat aku kesusahan, untuk apa aku mengenal mereka ketika sudah sukses, lebih baik aku luangkan waktuku untuk orang-orang yang bernasib sama denganku' ~Aditya Nugroho_ Quotes.
Bukan bermaksud sombong atau apa, tapi Aditya mulai merasakan kalau dirinya akan di manfaatkan dari berbagai arah. itulah kenapa Aditya tidak ingin terjerat dengan perkataan orang-orang yang berkuasa.
***
"Dit, ini Ayahku. Yang kemarin aku bilang akan datang." Rebecca langsung mengenalkan Ayahnya ketika sudah sampai di ruang tamu rumah Aditya.
Aditya yang sudah menunggu dari tadi, dia beranjak dari duduknya, menatap pria paruh baya dengan kaca mata yang menghiasi wajahnya, Aditya pun mengulurkan tangannya pada Ayah Rebecca.
"Selamat datang Om, saya Aditya!" ucapnya sopan dan ramah.
Roan Le menyambut uluran tangan Aditya "Roan Le, senang bertemu denganmu Aditya."
Roan menepuk-nepuk bahu Aditya kemudian melepaskan jabatan tangannya. Aditya mempersilahkan Roan untuk duduk di sofa.
Setelah duduk, Roan langsung bicara tanpa basa-basi terlebih dahulu "Dit, apa kamu tidak berniat turun di dunia Bisnis?"
"Saya belum memikirkan hal ke sana Om, yang sedang saya pikirkan sekarang, bagaimana saya bisa mensejahterakan kampung Karbal lebih dahulu. Untuk masalah Bisnis, aku yakin kampung ini juga punya potensi untuk menjadi sumber Bisnis." jawab Aditya yakin.
__ADS_1
Rebecca tentu saja terkejut, bagaimana mungkin orang yang nyaris seperti orang idiot awalnya bisa berpikir realistis seperti itu.
Berbeda dengan Rebecca. Roan malah tertarik dengan perkataan Aditya, pasalnya belum pernah dia melihat pemuda yang berani menyimpulkan tindakanku sendiri dengan sangat percaya diri seperti Aditya.
"Kenapa kamu sangat yakin dengan pemikiran mu itu?" cecar Roan pada Aditya.
Aditya menyenderkan tubuhnya di sofa, dia menatap langit-langit rumahnya sebentar, baru kemudian dia menatap Roan kembali.
"Sebenarnya itu semua adalah mimpi saya dulu. Namun, meski itu cuma mimpi saya bisa meyakini itu semua akan terwujud, apa lagi dengan kondisi saya yang sekarang, saya yakin bisa melakukannya."
Tidak ada keraguan sama sekali dalam nada suara Aditya, semuanya seolah Pasti, tidak ada kata-kata Ambigu sama sekali di sana, sehingga membuat Roan semakin puas bisa mengenal Aditya.
"Bagaimana kalau aku akan mendukung kamu sepenuhnya, semua terserah pengaturan kamu, yang penting aku bisa ambil bagian di dalamnya. bagaimana?" Roan menawarkan kerjasama pada Aditya.
Aditya menggeleng sambil tersenyum "tidak perlu Om, saya tahu om melakukan ini untuk Rebecca bukan?"
Roan menghela napas "Rebecca bilang kamu pria yang polos, tapi dari cara kamu bicara dan berpikir, kamu seperti orang yang berpendidikan tinggi Aditya. Apakah kamu selama ini hanya pura-pura menjadi orang lain?"
Roan jelas saja penasaran, karena Rebecca selalu menceritakan Aditya yang polos dan tidak tahu apa-apa tentang dunia luar. Namun, kenyataan yang dia lihat malahan Aditya tampaknya orang yang cerdas.
"Apa perlu menunjukan kelebihan kita untuk umum? Om Roan, hidup itu bukan cuma untuk memberitahu orang-orang tentang kelebihan kita, tapi mereka juga harus tahu kekurangan kita, agar nantinya saat berada di titik terendah anda akan tahu mana yang baik dan mana yang buruk." Perkataan Aditya semakin di luar perkiraan.
Rebecca saja sampai bingung, dia seolah tidak mengenali Aditya sama sekali, Aditya yang dia kenal bukan orang yang cerdas seperti sekarang yang dia lihat.
Ketika mereka sedang berbicara serius, Pramdani anak buah Wasesa yang sekarang sudah bertugas di rumah Aditya, dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah.
"Tuan! Tuan Aditya gawat!" suara Pramdani tersengal-sengal ketika sampai di ruang tamu.
Aditya mengerutkan keningnya "Gak sopan banget kamu! Gak liat apa kalau aku lagi ada tamu?!" tegur Aditya pada Pramdani.
__ADS_1
"Tapi tuan... Ini penting banget. Di luar ada orang-orang Padepokan Macan Kumbang!"
Pramdani tidak mau buang-buang waktu lagi, lebih baik dia cepat berterus terang dari pada harus di marahi Aditya.
Rebecca dan Ayahnya saling menatap, mereka berdua yang notabenya sedikit tahu tentang sepuluh Padepokan terkuat, tentu saja langsung tau Padepokan Macan kumbang.
"Dit, kamu ada masalah apa dengan mereka?" tanya Rebecca khawatir.
"Tidak ada masalah apa-apa, mereka mungkin hanya ingin menemuiku." Aditya beranjak dari duduknya, dia langsung pergi ke luar Rumah.
Pramdani mengikuti Aditya dari belakang, begitu juga Rebecca dan Ayahnya, yang ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi antara Padepokan Macan Kumbang dan Aditya.
"Ayah, apa Aditya akan baik-baik saja? Maha Guru Liam orang yang kejam, menurut desas-desus yang aku dengar soalnya." Rebecca terlihat begitu sangat mencemaskan Aditya.
Roan menghela napas " kita berdoa saja agar Aditya tidak kenapa-kenapa."
Rebecca hanya bisa mengangguk Pasrah, meskipun dia khawatir dengan Aditya, tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
Aditya sudah sampai di halaman rumahnya, anak buahnya dari padepokan Harimau sedang menghadang anak buah padepokan Macan Kumbang.
"Cih! Ternyata Wasesa takut tidak mendapatkan jatah dari kami, dan mengirim kalian menjilat bocah kemarin sore ini!" suara Liam mengejek Pramdani dan bawahan-nya terdengar begitu menjengkelkan.
Pramdani maju kedepan dengan percaya diri dia mengejek Maha guru macan kumbang "Apa bedanya denganmu Liam! kalau bukan karena kau hutang budi dengan bedebah tua bangka itu, kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan kita!"
Liam mengerutkan keningnya "Oh... sekarang anak Harimau yang dulunya ompong sudah mulai menunjukkan taringnya ternyata! Baguslah, dengan begitu aku tidak perlu ragu menghabisi kalian semua!"
Liam sangat marah, auranya merembes keluar, Khodam macan kumbangnya langsung keluar dari tubuhnya dan meraung keras.
Meong
__ADS_1