Java System

Java System
Wasesa


__ADS_3

Wasesa menatap Aditya yang berdiri di halaman Rumahnya. Dia kemudian mendekat ke Aditya.


Wasesa melihat pemuda di hadapannya dari atas sampai bawah, pria dengan postur tubuh cukup tinggi, wajahnya juga lumayan tampan Meski hanya mengenakan celana pendek saja.


Wasesa buka suara "Aku akan memberikan kamu pilihan, bergabunglah dengan Padepokan Harimau dan kamu akan kami lindungi!"


Aditya jelas saja terkejut, tiba-tiba ada orang yang menawarkan kesepakatan, yang dia sama sekali tidak tahu apa maksudnya.


Aditya mengernyitkan dahi "datang-datang memberi penawaran dengan cara seperti ini? Kamu pikir aku bodoh Pak tua? Aku tidak mungkin percaya kamu begitu saja!"


"Kamu harus mau! Kalau tidak akan ada banyak orang yang mengincarmu!" Wasesa terkesan memaksa Aditya.


"Aku bilang tidak ya tidak! Pak tua." Aditya kekeh dengan pendiriannya.


"Kalau begitu biar aku paksa kamu masuk ke Padepokan Harimau!"


Wasesa langsung menyerang Aditya dengan teknik beladiri Khas Padepokan Harimau dengan cakar dan pukulan beragamnya.


Bag


Bug


Suara adu pukulan terdengar di sana, Aditya dengan mudah bisa mengimbangi Wasesa, dia tanpa kesulitan sama sekali menahan semua serangan Wasesa.


Bang


Wasesa terhempas puluhan meter ke belakang saat tendangan Aditya mengenainya. Wasesa memegangi dadanya dan menatap tajam Aditya.


" Kekuatan nya belum bangkit sepenuhnya, tapi sudah sehebat ini! " Wasesa membatin.


Aditya bersiap menerjang Wasesa, tapi tiba-tiba Wasesa menyuruhnya berhenti "Cukup! Aku kalah sudah!"


Aditya langsung berhenti, dia mengerutkan keningnya "Kenapa pak Tua?!"


Aditya sangat kesal, karena dia yang memulai tapi dia juga yang menyerah. Aditya geram dengan Wasesa, seolah dia mempermainkan dirinya.


Wasesa mendekati Aditya, dia kemudian bertekuk lutut di hadapannya "Tuan, biarkan kami Padepokan Harimau melayani anda, sebagai ganti atas kelancangan saya!"


Sontak saja tindakan Wasesa membuat Aditya, satpam dan Pelayan yang ada di sana terkejut. Awalnya bikin kerusuhan dan sekarang malah bertindak sebaliknya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan Pak tua!?" tanya Aditya langsung.


Wasesa melirik Satpam dan Pelayan, dia tidak mungkin menceritakan masalah Cincin yang di pake Aditya di hadapan umum.


"Tuan, ini menyangkut Cincin anda, lebih baik kita bicarakan empat mata saja." Wasesa memberikan saran pada Aditya.


Aditya melihat Cincin di jarinya, dia kemudian menatap Wasesa yang terlihat bersungguh-sungguh ingin menjadi bawahannya.


Aditya menghela napas "Baiklah, kita masuk ke dalam!"


Walaupun masih tidak percaya dengan Wasesa. Namun, menyangkut masalah Cincin Java. Perkataan Wasesa membuat Aditya ingin mendengarkan-nya.


Aditya masuk ke dalam Rumah, begitu juga dengan Wasesa yang mengikuti Aditya dari belakang.


Sementara itu dua Satpam yang di cengkram lehernya oleh Wasesa, mereka berdua saling bahu membahu untuk berdiri.


"Sialan! Untung saja tuan Aditya cepat kemari." gerutu salah satu satpam.


"Gila saja, orang tua sepertinya memiliki kekuatan yang sangat besar seperti itu." timpal satpam lainnya.


"Sudahlah, lebih baik kita jangan bahas dia lagi, takutnya nanti malah kemari lagi."


Aditya mengajak Wasesa ke ruang tamu, dia kemudian mempersilahkan Wasesa untuk duduk. Dengan senang hati Wasesa langsung duduk di sofa ruang tamu Aditya.


Aditya menyilangkan kakinya seperti Bos kemudian bertanya "Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?"


Wasesa menghela napas "Sebenarnya ada sepuluh Padepokan Besar yang mengincar Cincin anda."


Aditya mengerutkan keningnya "Mengincar Cincinku? Apa kalian semua tahu manfaat Cincin ini?"


Wasesa mengangguk "kurang lebih seperti itu tuan, tujuan saya datang kemari, karena saya berbeda pendapat dengan mereka, jadi saya langsung memberitahukan informasi ini pada anda."


Aditya menurunkan kakinya, dia memegang dagunya berpikir sejenak untuk mencerna perkataan Wasesa. Aditya belum tahu pasti bagaimana sifat asli Wasesa, jadi dia masih sedikit ragu dengannya.


Jantung Wasesa berdetak sangat kencang, karena dia telah berbohong pada Aditya kalau dirinya berbeda pendapat dengan yang lainnya. Padahal Padepokan Harimau yang merupakan terlemah dari sepuluh Padepokan terkuat, ingin mencari ke untungan dengan menjadikan Aditya sebagai tameng mereka.


Aditya menatap Wasesa dengan tajam "Apa ucapan kamu bisa di pertanggung jawabkan?"


Wasesa bergegas mengangguk-kan kepala "tentu saja tuan, mana berani saya membohongi anda!"

__ADS_1


Aditya menghela napas "baiklah, aku percaya padamu! Tapi ingat, kalau kamu sampai berbohong. Aku tidak akan segan-segan menghancurkan kalian!"


Aditya sekarang terlihat sangat berkarisma, perkataan-nya juga mulai terdengar layaknya seorang Bos besar.


Wasesa saja merasa aneh dengan Aditya, karena di pertemuan pertamanya malah sosok sepertinya terasa sangat santai. Seharusnya jika Aditya orang normal dia akan terintimidasi oleh aura Khodam miliknya.


Wasesa tersenyum "baiklah tuan, hari bin saya hanya akan memberikan laporan tersebut, jika anda perlu sesuatu, carilah aku!"


Aditya mengangguk mengerti, sementara itu Wasesa langsung bergegas pergi dari kediaman Aditya, karena dia sudah tidak ada urusan lagi di sana.


Aditya memegang pangkal hidungnya,dia bertanya pada System "Kenapa kamu tidak bilang jika kamu memiliki banyak pemburu Java?"


[ Tuan, setiap kebaikan pasti ada keburukan yang mengikutinya. Begitu juga dengan anda mendapatkan apa yang semua anda mau, tentu saja harus ada resiko yang harus anda ambil bukan? ]


Aditya mengehela napas panjang "kamu memang benar, walaupun aku masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi."


[ Tuan tenang saja, selama saya masih menyatu dengan anda, saya akan tetap membantu anda kapanpun anda membutuhkannya! ]


Aditya merasa sedikit lega, meskipun hidupnya sekarang penuh dengan lika-liku, tapi setidaknya dia tidak akan menyerah begitu saja ketika sudah ada di titik yang sekarang sedang menjunjungnya.


"Terima kasih Java, setidaknya aku bisa sedikit bernapas lega karena mendapatkan bantuan dari kam,." ucapnya dengan yakin


[ Sudah tugas saya, untuk membantu anda Tuan.]


Saat Aditya dan Java sedang mengobrol, Glembo tiba-tiba berlari ke arah Aditya dengan tergesa-gesa. Dia seperti orang ketakutan saja.


"Dit, gawat Dit?!" teriak Glembo sambil menatap Ponselnya.


Aditya mengernyitkan dahi "Kenapa lagi Ndut!" tegur Aditya ketika Glembo sudah ada di hadapannya.


"Ponselku Dit! Ponselku tiba-tiba tidak ada gambarnya!" Glembo terlihat sangat kalut.


Aditya merebut Ponsel Glembo, dia langsung menekan tombol on/of. Aditya menghela napas ketika melihat tidak ada daya baterai satu persenpun.


"Carger dulu dudul! Daya baterainya habis ini."Aditya menyerahkan Ponsel Glembo kembali.


"Oh gitu yah? Hehehe... Iya sih dari kemarin gak aku carger." Glembo menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir.


Aditya menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak tahu harus mengekspresikan dirinya seperti apa, karena temannya itu memang masih belum cepat mengerti sepertinya.

__ADS_1


__ADS_2