
Tentu saja Pria tua itu mengerutkan keningnya saat Aditya tiba-tiba meminta kerja sama dengannya. Dia melihat Aditya dengan seksama, seolah mencari tahu siapa anak muda di depannya itu.
"Anak muda, Aku sudah tua renta, begini saja sudah cukup untukku, lebih baik kamu cari orang lain saja." ucapnya dengan nada sopan dan meninggalkan Aditya begitu saja.
Aditya tersenyum "Aku ingin mengubah tempat ini menjadi lebih baik lagi."
Pria tua itu menghentikan langkahnya, dia membalik badannya, menatap Aditya kembali, dia sedikit tertarik dengan perkataan Aditya.
Aditya tahu kalau Pria tua itu sebenarnya memiliki sebuah ambisi yang terpendam, dia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri pria tua tersebut.
"Satu Milyar Perak! Aku akan memberikan dana untuk Anda untuk merubah tempat ini menjadi lebih baik, dan tentunya dengan pengelolaan sampah daur ulang dengan lebih baik lagi."
Aditya langsung memberikan tawaran yang menggiurkan, tentu saja Pria tua itu langsung membelalakan matanya karena terkejut.
Namun, Pria tua itu tidak percaya begitu saja dengan Aditya, meskipun ada sedikit keinginan untuk memercayainya.
"Hahahaha... Jangan bercanda anak muda! Kamu mau memberikan uangmu begitu saja pada orang yang baru saja kamu temui?"
Sorot wajah Pria tersebut terlihat sangat serius, karena tidak mungkin ada orang yang mau memberikan uangnya begitu saja, apa lagi jumlahnya sangatlah besar.
Aditya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum "siapa yang akan memberikan uangku begitu saja? Kita sama-sama memiliki bisnis Pak tua, Aku yakin kamu juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini bukan?"
Aditya tahu, kalau di sorot mata Pria tua tersebut sekilas ada rasa tidak puas dalam mengelola sampah daur ulang di tempatnya, dan Aditya yakin, itu semua karena dia kekurangan modal.
"Anak muda yang cukup ambisius! Kita bicara di dalam saja." Pria tua mengajak Aditya untuk berbicara di dalam rumahnya.
Aditya tentu saja menyambut baik ajakan pria sepuh tersebut, dia mengekori pria tua tersebut masuk kedalam rumahnya.
Sesampainya di dalam, Aditya di suruh duduk di kursi ruang tamu, meskipun rumah tersebut terlihat kecil dan di luar sangat berantakan, karena banyak sampah daur ulang, tapi di dalamnya terlihat sangat nyaman dan bersih.
"Rumah ini sangat kecil untuk tamu besar seperti kamu." Pria tua itu duduk di seberang Aditya.
"Anda bisa saja, Aku sama seperti anda, masih merintis karir." jawab Aditya merendah.
Pria tua itu kemudian mengenalkan diri "Patria Ricaksa, siapa nama kamu anak muda?"
"Aditya Nugroho, salam kenal Pak Ricaksa." Aditya menyambut baik perkenalan tersebut.
__ADS_1
Mereka berbincang-bincang sebentar, sebelum akhirnya seorang pria paruh baya datang dan terlihat sangat lesu.
Pria tersebut langsung duduk di samping Patria tanpa melihat Aditya sama sekali, dia langsung menyenderkan tubuhnya di kursi.
Ayah, mau sampai kita seperti ini terus, kalau begini kita bisa-bisa bangkrut!" pria tersebut memegang pangkal hidungnya sambil menggerutu kesal.
Patricia terlihat tersenyum, dia tahu yang sedang di hadapi putranya tersebut, karena akhir-akhir ini memang mereka sedang mengalami banyak masalah.
"Sahid, perkenalkan dia Tuan Aditya!"
Suara Patria tentu saja langsung membuat Sahid terkejut, dia langsung duduk dengan tegap dan melihat orang yang di kenalkan Ayahnya tersebut.
Sahid tersenyum kecut, karena dia tidak memerhatikan tamu Ayahnya dan menyelonong masuk saja ke rumah.
"Maaf Tuan, saya tidak melihat anda tadi." ucap Sahid dengan sopan.
"Tidak apa-apa."
Aditya tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena dia tahu kalau orang yang berbicara padanya sedang memiliki banyak masalah.
"Sahid, Tuan Aditya menawarkan kerja sama dengan kita, kamu berbicaralah dengannya, Ayah mau mengurus di depan."
Aditya mengangguk mengerti, dia membiarkan Patria meninggalkannya bersama dengan Sahid.
"Tuan Aditya, Jadi kerja sama apa yang anda tawarkan pada kami?" tanya Sahid penasaran.
"Pengelolaan sampah daur ulang, aku akan memberikan kalian dana untuk memperbaharuri kalian jugi tempat ini, tentu saja aku juga butuh transparansi dari kalian, karena dana yang akan aku berikan lumayan besar."
Aditya berbicara dengan serius, dia ingin orang di depannya menangkap maksud perkataan dirinya.
"Kalau masalah itu saya tidak masalah, saya akan memberikan semua laporan dengan detail pada anda. Asalkan anda bisa memenuhi dan yang akan saya ajukan." jawab Sahid dengan mantap.
"Berapa yang kamu inginkan?" tanya Aditya tanpa basa-basi. Dia ingin mendengar permintaan dari Sahid.
"Dua ratus juta perak!"
Sahid ingin melihat ekspresi Aditya, saat dia melihat Aditya mengernyitkan dahi, Sahid tersenyum getir, karena dia mengira kalau Aditya tidak menyanggupi permintaan-nya.
__ADS_1
Sahid menduga tidak akan mungkin ada orang yang mau menggelontorkan dana sebanyak itu, untuk sampah daur ulang saja.
"Pasti anda tidak bisa kan?" Sahid menyenderkan tubuhnya di kursi dengan malas.
"Hanya dua ratus juta perak? Apa kamu yakin uang segitu cukup?" tanya Aditya pada Sahid yang sudah terlihat pasrah.
"Iya hanya se..." Sahid langsung menegapkan tubuhnya "tadi anda bilang apa?"
Aditya tersenyum, sekarang gantian dia yang menyenderkan tubuhnya di kursi "kamu yakin cuma dua ratus juta perak saja?"
Sahid tercengang dengan perkataan Aditya, dia masih menerka-nerka, apa maksud dari perkataan Aditya tersebut.
"Satu Milyar perak! Aku akan memberikan sejumlah uang itu untuk kalian mengelola tempat ini! Bagaimana?" tanya Aditya dengan seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya.
"Sa-Satu Milyar perak! Apakah anda serius tuan?!" tanya Sahid memastikan.
Aditya mengangguk "Ya, satu Milyar perak!"
Sahid tertegun, dia menatap pemuda di depannya tersebut dengan tatapan penuh dengan kekaguman.
"Apa kamu tidak mau? Ya sudah, biar aku cari orang lain saja!"
Aditya pura-pura akan meninggalkan Sahid agar pria paruh baya itu panik, benar saja Sahid langsung berdiri dan menahan Aditya.
"Tunggu Tuan, Saya mau, mau sekali malah! Saya akan mengelola uang tersebut sebaik mungkin!" ucap Sahid dengan penuh keyakinan.
Aditya tersenyum sambil mengulurkan tangannya "senang bekerja sama denganmu!"
Sahid langsung menyambut uluran tangan Aditya. Mereka berdua bertukar nomor sebelum akhirnya, Aditya meninggalkan tempat terset.
Sahid terlihat sangat senang, karena masalahnya akan segera teratasi, dia tidak perlu lagi mencari donatur untuk menjalankan bisnisnya tersebut.
Selepas dari tempat tersebut, Aditya langsung pulang ke rumahnya, dia merasa sudah cukup untuknya melihat-lihat kota Bibes.
...***...
Sementara itu, kabar tentang terbunuhnya pemimpin Padepokan Naga Hitam dan Keramat Jati sudah tersebar luas hanya dalam hitungan jam saja.
__ADS_1
Akibatnya padepokan lain menginvasi dua Padepokan tersebut dan menguasainya, bawahan Aji Darma dan Luwito tidak bisa berbuat banyak, hingga akhirnya mereka menerima pemimpin baru mereka, yang tidak lain dari Padepokan gunung Kidul.
"Aditya Nugroho! Lumayan juga karena bisa mengalahkan Aji Darma dan Luwito! Tapi sayangnya aku yang akan mengalahkanmu dan merebut Cincin itu!"