
Aditya melihat ke arah datangnya bola Api tersebut, Dia terkejut saat melihat Khodam Banaspati yang menyala dan menatapnya dengan tajam. Tidak sampai di situ saja, Khodam Macan Kumbang Liam juga terlihat bersama dengan Banaspati tersebut.
"Naga Bunting! Cepat kalahkan mereka, aku akan melawan pemiliknya!" perintah Aditya pada Naganya.
Naga Bunting langsung menyerang Banaspati dan Macan kumbang, sementara Aditya melesat ke arah Liam dan seorang pria sepuh yang ada di sampingnya.
Bang
Bruak
Liam terhempas puluhan meter, karena dia tidak menyadari kehadiran Aditya, akibat terlalu fokus dengan Naga Bunting.
Pria sepuh yang di samping Liam, dia langsung menyerang Aditya, denah jurus tapak Sewu.
Aditya mencoba untuk menahan pukulan pria sepuh tersebut yang seolah seperti ribuan pukulan saja.
Duak
Duak
Aditya terhempas beberapa meter karena terkena tapak Sewu milik pria sepuh, dia memegangi dadanya yang terkena tapak tersebut.
Aditya menghirup napas panjang dan mengeluarkannya, dia kembali menyerang, lagi-lagi tapak Sewu membuat Adity kembali terdorong mundur.
Bukannya takut Aditya malah tersenyum, dia sudah sedikit tahu jurus tersebut, Aditya menerjang kembali, kali ini tapak Sewu pria sepuh tersembunyi di imbangi dengan tapak Sewu milik Aditya.
Jelas saja pria sepuh tersebut terkejut, dia tidak menyangka hanya dalam hitungan menit Aditya mampu menguasai jurusnya.
Liam yang tadi terhempas, dia sudah bangun dan meluncurkan serangan cakar Macan pada Aditya secara tiba-tiba, sehingga Aditya sedikit terkejut dan melompat mundur, menjauh dari mereka berdua.
Liam sudah berdiri sejajar dengan pria sepuh, dia menatap Aditya yang masih mengamati mereka berdua dengan seksama.
"Dari mana asal Bocah ini Liam? Dia sangat cerdas!" Pria sepuh buka suara.
Liam menghela napas "dia pemilik Cincin Angkara jaya guru."
"Pantas saja!" Pria sepuh terkejut dengan penuturan Liam.
Aditya menghirup napas dalam-dalam, dia kemudian mengeluarkan-nya, sedetik kemudian Aditya menghilang dari hadapan Liam dan Pria sepuh, sehingga membuat mereka berdua terkejut.
"Waspadalah Liam!" Pria sepuh mencari-cari keberadaan Aditya, tapi dia tidak kunjung menemukannya.
__ADS_1
Bang
Aditya muncul dari Atas dengan pukulan sekuat Gatotkaca kaca, Pria sepuh dan Liam menahan pukulan Aditya yang sangat kuat tersebut dengan energi spiritualnya, yang mereka lapisan pada kedua tangan mereka.
Tanah yang di injak kedua pria sepuh tersebut perlahan amblas hampir selutut mereka berdua, karena pukulan Aditya sangat kuat.
Pria sepuh mengeluarkan jurus Api yang dia keluarkan dari dalam mulutnya. Sontak saja Aditya langsung melompat menjauh.
Liam dan Pria sepuh langsung keluar dari tanah yang amblas, mereka berdua terlihat bercucuran keringat karena mengeluarkan banyak energi spiritual.
Sementara itu di tempat Wasesa dan Darman, mereka berdua terlihat berdarah-darah melawan tiga guru Padepokan Macan Kumbang.
"Hahahaha... Kalian bukan lawan kami!" ejek salah satu guru yang melawan Wasesa dan Darman.
Tapi baru dia tertawa, tiba-tiba pria tersebut memuntahkan seteguk darah, begitu juga dengan dua orang lainnya.
Mereka bertiga melihat ke arah Khodamnya, Benar saja Khodam mereka telah di kalahkan oleh ular putih dan Khodam milik Wasesa dan Darman.
"Hahahaha... Siapa sekarang yang bukan lawanmu?" Wasesa balas mengejek pria tadi.
Pria tersebut hanya bisa menggertakkan gigi, dua orang lainnya saling menatap, mereka mengangguk bersamaan dan langsung menyerang Darman dan Wasesa.
Jelas saja Wasesa yang tadi tersenyum bahagia, wajahnya berubah menjadi jelek, dia dan Darman yang sudah terluka parah, tidak mungkin bisa menghadapi mereka bertiga lagi.
Bang
Bang
Wasesa dan Darman tersungkur dia tanah, mereka berdua kesulitan untuk berdiri kembali.
"Kemarilah Himau!" Wasesa memanggil Khodamnya, tapi sayangnya ketiga pria yang menjadi lawan mereka berdua sudah menyerbu dengan kecepatan penuh.
"Matilah kalian berdua Bedebah!" teriak salah satu dari mereka.
Wasesa menyalurkan energi spiritualnya ke seluruh tubuhnya, dia berharap bisa bertahan dari serangan tersebut, sambil menunggu Aditya selesai dengan pertarungannya. Darman juga melakukan hal yang sama, mereka berdua seolah pasrah menyambut serangan dari ketiga orang tersebut.
Pral
Pral
Pral
__ADS_1
Tapi saat ketiga Pria tersebut mulai mendekat, ular putih milik Aditya memakan kepala mereka bertiga dengan sangat cepat, sehingga ketiganya langsung tewas, mereka ambruk di hadapan Darman dan Wasesa dengan tubuh tanpa kepala.
Darah menyembur keluar dengan sangat deras, hingga membuat tubuh Wasesa dan Darman bermandikan darah.
Wasesa dan Darman tidak perduli dengan hal itu, mereka berdua menatap ular putih Aditya dengan ngeri yang sedang menelan ketiga kepala orang tersebut.
Mereka berdua tidak pernah menyangka kalau Khodam Aditya bisa sangat kejam seperti itu. Padahal biasanya Khodam hanya akan membunuh tanpa memakan korbannya.
Ular putih menatap Wasesa dan Darman, mereka berdua reflek memegangi kepalanya masing-masing, karena takut menjadi sasaran selanjutnya.
Tapi ular Putih hanya mendesain dan meninggalkan mereka berdua yang masih tertegun duduk di tanah.
Sementara itu Naga Bunting tidak ada masalah sama sekali melawan kedua Khodam terkuat, milik Liam dan Pria sepuh.
Naga Bunting terus menerus mempermainkan Macan kumbang dan Banaspati yang tidak bisa melukainya sama sekali.
Macan Kumbang meraung, dia mencoba mencakar dan menggigit Naga Bunting, tapi sisik Naga Bunting sangat tebal, sehingga usahanya sia-sia saja.
Banaspati juga menembakan bola-bola Api pada Naga Bunting. Namun, serangannya sama saja tidak berarti sama sekali.
Groaaar
Naga Bunting mengaum, kilatan-kilatan petir menyambar, kemudian dari mulut Naga Bunting keluar Bola petir yang perlahan menjadi besar dan di tembakkan ke arah Macan kumbang dan Banaspati.
Tembakan Naga Bunting seperti laser saja, sehingga keduanya langsung menghilang seketika saat serangan tersebut mengenai mereka berdua.
Di tempat Liam dan Pria sepuh, keduanya memuntahkan seteguk darah saat sedang bertarung dengan Aditya.
Wajah Liam berubah menjadi jelek, karena dua kali dia kehilangan Khodamnya oleh Khodam orang yang sama.
Sementara Pria sepuh menatap tidak percaya Aditya, dia sekarang merasa sedikit takut pada Aditya, padahal selama ini dia tidak pernah takut sama sekali dengan seseorang.
Aditya tersenyum cerah "Bagaimana Pak tua? Apa mau di lanjut?" ejek Aditya pada kedua pria sepuh yang sedang mengusap darah yang ada di sudut bibirnya masing-masing.
"Anak muda, sebenarnya apa mau kamu?" suara Pria sepuh melembut.
"Guru!" Liam yakin kalau gurunya akan menyerah pada Aditya.
"Diamlah Liam, kamu harus melihat tingginya langit!" Pria sepuh menegur Liam yang langsung tertunduk lesu.
Aditya menyeringai "keinginanku sangat mudah, jadilah bagian dari mereka!"
__ADS_1
Aditya menunjuk Wasesa dan Darman yang masih diam mematung di tempatnya dengan darah yang mulai mengering di tubuh mereka berdua.